<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Kampus &#8211; DEPOK POS</title>
	<atom:link href="https://www.depokpos.com/kategori/dunia-kampus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<description>Medianya Orang Depok</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Oct 2026 06:49:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://res.cloudinary.com/dvd4tnrxr/images/w_32,h_32,c_fill,g_auto/f_webp,q_auto:low/v1792449405/cropped-depokpos-2/cropped-depokpos-2.jpg?_i=AA</url>
	<title>Dunia Kampus &#8211; DEPOK POS</title>
	<link>https://www.depokpos.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tak Cukup Kendaraan Listrik, Guru Besar UPER Sebut Transisi Otomotif Indonesia Perlu Diversifikasi Energi</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/tak-cukup-kendaraan-listrik-guru-besar-uper-sebut-transisi-otomotif-indonesia-perlu-diversifikasi-energi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2026 06:49:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=105395</guid>

					<description><![CDATA[Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni memadukan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, dan opsi lain]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> – Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina (UPER), Prof. Dr. Eng. Ir. Iman Kartolaksono Reksowardojo, M.Eng., menilai transisi otomotif Indonesia tidak bisa bertumpu pada satu teknologi. Menurutnya, Indonesia perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, yakni memadukan kendaraan listrik, bahan bakar nabati, dan opsi lain sesuai kebutuhan tiap sektor.</p>
<p>“Meskipun kendaraan listrik memiliki peluang besar untuk berkembang di Indonesia, terutama dengan dukungan sumber daya mineral seperti nikel, Indonesia perlu memastikan agar pengembangan tersebut tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah. Nilai tambah dari pengolahan dan pengembangan teknologinya juga perlu dibangun di dalam negeri. Karena itu, pengembangan teknologi otomotif nasional perlu menerapkan pendekatan multi-pathway, dengan membuka berbagai pilihan teknologi dan sumber energi yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing sektor,” ungkap Prof. Iman saat ditemui di Universitas Pertamina (15/10/2026).</p>
<p>Prof. Iman mencontohkan, kendaraan penumpang dan sepeda motor di perkotaan lebih sesuai menggunakan tenaga listrik karena jarak tempuhnya relatif pendek dan infrastruktur pengisian daya lebih mudah dijangkau. Sementara itu, truk, bus, dan alat berat bermesin diesel yang beroperasi jarak jauh atau di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya terbatas dapat memanfaatkan biodiesel karena didukung oleh mesin dan jaringan distribusi bahan bakar yang sudah tersedia.</p>
<p>“Untuk memenuhi kebutuhan energi yang beragam, Indonesia juga perlu mengembangkan bahan bakar nabati selain sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya. Karena itu, diperlukan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menilai dampak lingkungan mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga penggunaannya,” jelas Prof. Iman.</p>
<p>Arah itu sejalan dengan perubahan di pasar. Penjualan kendaraan listrik (EV) naik dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025 (Goodstat, 2026). Namun, EV bukan satu-satunya jalur, sebab Indonesia juga mengembangkan biodiesel B50, yaitu campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan 50 persen solar. Sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki bahan baku potensial untuk jalur ini, tetapi penerapannya tetap perlu didukung kesiapan teknologi kendaraan.</p>
<p>“Penggunaan B50 membutuhkan pengujian dan penyesuaian pada mesin kendaraan agar dapat bekerja dengan baik. Begitu pula dengan bahan bakarnya, yang harus memenuhi standar dan kebutuhan mesin. Karena itu, penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah,” jelas Prof. Iman.</p>
<p>Selain sawit, Indonesia juga memiliki potensi bahan bakar nabati dari tanaman lain, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Namun, Prof. Iman menekankan bahwa setiap pilihan energi, termasuk kendaraan listrik dan biodiesel, perlu mempertimbangkan dampak lingkungan melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA). Penilaian ini mencakup seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, hingga penggunaan energi, untuk memastikan transisi otomotif benar-benar lebih ramah lingkungan.</p>
<p>Menanggapi hal ini, Rektor UPER, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menyebut tantangan Indonesia bukan sekadar mengelola sumber daya energinya, tetapi juga kapabilitas talenta untuk mengembangkannya.</p>
<p>“Memastikan generasi yang akan datang memiliki kompetensi dalam mengembangkan teknologi, meningkatkan nilai tambah sumber daya, serta membangun industri energi yang berkelanjutan menjadi hal yang krusial. Melalui penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER, diharapkan dapat semakin memperkuat kapasitas talenta dalam memahami, mengembangkan, dan mengimplementasikan teknologi energi terbarukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” ungkap Prof. Ichsan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://mediatrust.id/wp-content/uploads/2026/10/Uper-1810-3.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Side Hustle di Kalangan Mahasiswa: Mencari Penghasilan atau Menambah Beban? </title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/side-hustle-di-kalangan-mahasiswa-mencari-penghasilan-atau-menambah-beban/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2026 02:57:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Side Hustle]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=105381</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Maytsa Aqeela Sagitra, Mahasiswi Universitas Tazkia Bogor]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Tidak sedikit mahasiswa yang mencoba mencari penghasilan tambahan di sela-sela kesibukan kuliah. Ada yang membuka usaha kecil-kecilan, menjadi <i>freelancer</i>, berjualan secara <i>online</i>, hingga membuat konten di media sosial. Selain ingin memiliki uang sendiri, sebagian mahasiswa juga ingin memanfaatkan waktu luang untuk mencoba hal baru. Kegiatan ini dikenal dengan istilah <i>side hustle</i>, yaitu pekerjaan atau usaha sampingan yang dilakukan di luar kegiatan utama. Namun, apakah kegiatan ini benar-benar menguntungkan, atau justru menambah beban bagi mahasiswa?</p>
<p>Salah satu alasan mahasiswa memilih <i>side hustle </i>adalah keinginan untuk lebih mandiri. Dengan penghasilan sendiri, mereka bisa memenuhi kebutuhan pribadi tanpa selalu bergantung pada orang tua, dan proses ini ikut membentuk kedewasaan (Putri &amp; Wahyudi, 2026). Pekerjaan sampingan juga dapat menjadi ruang belajar menghadapi dunia kerja. Mahasiswa yang berjualan, misalnya, bisa belajar melayani pelanggan, memasarkan produk, dan mengatur waktu, sedangkan mahasiswa yang menjadi <i>freelancer </i>dapat mengembangkan keterampilan sesuai bidangnya. Pengalaman seperti ini bisa menjadi bekal yang berguna setelah lulus.</p>
<p>Meski begitu, menjalankan <i>side hustle </i>tidak selalu mudah. Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab utama, seperti menghadiri kelas, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan ujian. Penelitian Mardelina dan Muhson (2017) di <i>Jurnal </i><i>Economia </i>menemukan bahwa mahasiswa yang bekerja memiliki waktu belajar lebih sedikit dan prestasi akademik lebih rendah daripada mahasiswa yang tidak bekerja dalam sampel penelitian mereka. Beban ganda ini juga dapat menimbulkan kelelahan fisik dan emosional (Putri &amp; Wahyudi, 2026). Namun, dampaknya tidak sama bagi semua mahasiswa, termasuk antara mahasiswa penuh waktu dan paruh waktu (Darolia, 2014). Artinya, tidak semua pekerjaan sampingan berdampak buruk, tetapi mahasiswa perlu mempertimbangkan beban kegiatan yang mereka jalani.</p>
<p>Karena itu, menjalankan <i>side hustle </i>membutuhkan kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas. Manajemen waktu yang baik berkaitan dengan prestasi akademik yang lebih baik pada mahasiswa yang bekerja (Inayah dkk., 2023), dan setiap mahasiswa umumnya punya strategi sendiri untuk menjaga keseimbangan antara kuliah dan pekerjaan (Hamra &amp; Widiasih, 2024). Pekerjaan yang dipilih idealnya sesuai dengan jadwal kuliah, dan mahasiswa tidak memaksakan diri mengambil terlalu banyak pekerjaan sekaligus. Misalnya, mahasiswa bisa memulai usaha kecil dengan sistem <i>pre-order </i>atau mengambil pekerjaan <i>freelance </i>sesuai kemampuan dan waktu yang tersedia. Penghasilan tambahan memang menyenangkan, tetapi kesehatan, waktu istirahat, dan tanggung jawab akademik tetap perlu diperhatikan.</p>
<p>Pada akhirnya, <i>side hustle </i>bisa menjadi peluang yang bermanfaat bagi mahasiswa selama prioritas akademik tetap terjaga dan dijalankan dengan perencanaan yang matang. Tanpa perencanaan, kegiatan ini justru bisa menjadi beban. Kuncinya bukan sekadar seberapa banyak uang yang diperoleh, melainkan bagaimana mahasiswa mampu menyeimbangkan pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan pribadi. Sebab, pengalaman dan penghasilan memang penting, tetapi menjaga keseimbangan juga merupakan bagian dari proses belajar menjadi lebih mandiri.</p>
<p><em>Maytsa Aqeela Sagitra</em><br />
<em> Mahasiswi Universitas Tazkia</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://cdngnfi2.sgp1.digitaloceanspaces.com/abdimuda/uploads/articles/2025/02/21/menambah-penghasilan-dengan-side-hustle-tips-dan-ide-kreatif-AanNlnw1lC.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harga Kebutuhan Naik, Uang Bulanan Tetap: Tantangan Mahasiswa Mengatur Keuangan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/harga-kebutuhan-naik-uang-bulanan-tetap-tantangan-mahasiswa-mengatur-keuangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2026 02:50:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Keuangan Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=105378</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Naila Intan Lesmana. Mahasiswa Universitas Tazkia Bogor]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Awal bulan biasanya terasa lega bagi mahasiswa yang menerima uang bulanan. Ada uang untuk makan, transportasi, kebutuhan kuliah, bahkan sesekali berkumpul dengan teman. Namun, memasuki pertengahan bulan, uang sering sudah menipis, padahal masih ada kebutuhan yang harus dipenuhi sampai akhir bulan.</p>
<p>Situasinya semakin menantang ketika harga kebutuhan sehari-hari naik sementara uang bulanan tetap. Karena itu, yang penting bukan hanya berapa uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana uang itu digunakan.</p>
<p><b>Ketika Harga Kebutuhan Terus Berubah</b><b> </b></p>
<p>Uang bulanan harus dibagi untuk banyak keperluan, mulai dari makan, transportasi, tempat tinggal bagi mahasiswa perantau, hingga perlengkapan kuliah. Ketika harga naik, anggaran yang tadinya cukup bisa terasa pas-pasan.</p>
<p>Kenaikan harga ini berkaitan dengan inflasi, yaitu naiknya harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28 persen dibandingkan September 2025. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi tahunan sebesar 4,37 persen (BPS, 2026).</p>
<p>Angka ini menggambarkan kondisi nasional. Tidak semua barang naik dengan persentase yang sama, dan tidak semua mahasiswa merasakannya dengan cara yang sama. Meski begitu, data ini memberi gambaran tentang perubahan harga yang perlu diperhatikan saat menyusun anggaran.</p>
<p>Bagi mahasiswa, perubahan harga bisa membuat pengeluaran makan dan kebutuhan lain perlu disesuaikan. Jika uang bulanan tidak bertambah, mereka mungkin harus memilih makanan yang lebih terjangkau atau mengurangi pengeluaran yang tidak mendesak. Pilihan ini tidak selalu mudah, apalagi kebutuhan kuliah juga harus terpenuhi.</p>
<p><b>Pengeluaran Kecil yang Sering Tidak Terasa</b><b> </b></p>
<p>Harga memang di luar kendali mahasiswa, tetapi kebiasaan belanja masih bisa diatur. Nongkrong di kafe, memesan makanan secara daring, membeli minuman, atau berbelanja karena diskon bisa menjadi pengeluaran tambahan jika dilakukan tanpa perencanaan.</p>
<p>Satu kali membeli minuman atau camilan mungkin tidak terasa. Namun, jika dilakukan berulang kali, jumlahnya bisa cukup besar dalam sebulan.</p>
<p>Bukan berarti mahasiswa tidak boleh menikmati waktu bersama teman atau membeli barang yang disukai. Kuliah juga membutuhkan ruang untuk bersosialisasi dan beristirahat. Yang perlu dilakukan adalah mengenali batas pengeluaran sendiri agar keinginan sesaat tidak mengganggu kebutuhan utama.</p>
<p>Cara sederhananya adalah memeriksa kembali pengeluaran selama beberapa hari. Dari situ, mahasiswa bisa melihat apakah uang lebih banyak digunakan untuk kebutuhan penting atau justru habis untuk pengeluaran tambahan yang sebenarnya bisa dikurangi.</p>
<p><b>Mengatur Uang Bulanan dari Hal Sederhana</b><b> </b></p>
<p>Mengelola keuangan bisa dimulai dari langkah kecil. Pertama, buat anggaran bulanan: catat uang yang diterima, perkirakan biaya makan, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan kuliah, lalu tentukan batas pengeluaran untuk keperluan lain.</p>
<p>Sebagai contoh, seorang mahasiswa menerima uang bulanan sebesar Rp2.000.000 dari orang tuanya. Uang tersebut dapat dibagi menjadi Rp700.000 untuk makan, Rp300.000 untuk transportasi, Rp400.000 untuk kebutuhan sehari-hari seperti pulsa, laundry, dan perlengkapan pribadi, serta Rp200.000 untuk kebutuhan kuliah seperti alat tulis dan fotokopi. Sementara itu, Rp400.000 atau 20 persen dari uang bulanan disisihkan untuk tabungan, kebutuhan mendadak, atau masa depan. Dengan pembagian ini, mahasiswa memiliki gambaran yang lebih jelas tentang penggunaan uangnya sekaligus tetap menyediakan dana untuk ditabung.</p>
<p>Pembagian tersebut hanyalah ilustrasi dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing mahasiswa. Bagi mahasiswa yang harus membayar kos sendiri, misalnya, anggaran tempat tinggal juga perlu diperhitungkan sehingga pembagian pengeluaran lainnya harus disesuaikan.</p>
<p>Kedua, catat pengeluaran harian. Tidak perlu aplikasi khusus; buku kecil atau catatan di ponsel sudah cukup. Dengan mengetahui ke mana uang digunakan, mahasiswa bisa menilai kebiasaan belanjanya dan memperbaiki bagian yang boros.</p>
<p>Ketiga, bedakan kebutuhan dan keinginan. Penuhi kebutuhan utama lebih dulu, sedangkan pembelian yang masih bisa ditunda perlu disesuaikan dengan sisa anggaran. Jika masih ada uang setelah kebutuhan terpenuhi, sebagian dapat disisihkan untuk tabungan atau keperluan mendadak. Perencanaan keuangan seperti ini sejalan dengan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan keuangan, yang juga menjadi bagian dari materi literasi keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).</p>
<p><b>Belajar Mengelola Uang Sejak Kuliah</b><b> </b></p>
<p>Kenaikan harga tidak bisa dikendalikan mahasiswa, tetapi cara menggunakan uang masih bisa diperbaiki. Membuat anggaran, mencatat pengeluaran, dan menentukan prioritas adalah langkah sederhana untuk menghadapi uang bulanan yang terbatas.</p>
<p>Kebiasaan ini juga berguna setelah lulus. Saat sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, seseorang tetap perlu menyesuaikan pengeluaran dengan kemampuan keuangannya.</p>
<p>Mahasiswa tidak perlu menunggu punya banyak uang untuk belajar mengatur keuangan. Dengan memahami kebutuhan, membatasi pengeluaran yang tidak mendesak, dan merencanakan penggunaan uang sejak awal bulan, kehidupan kuliah bisa dijalani dengan lebih terarah. Mengatur uang bukan sekadar membuatnya cukup sampai akhir bulan, tetapi juga latihan mengambil keputusan yang bijak dan bertanggung jawab.</p>
<p><em>Naila Intan Lesmana</em><br />
<em>Mahasiswa Universitas Tazkia</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://guruinovatif.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com/11383/Cara-Mengatur-Keuangan.png" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa PLP Universitas Pamulang Gelar Sosialisasi upaya Pencegahan Kenakalan Remaja dan Bullying di SMPN 20 Tangerang Selatan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/mahasiswa-plp-universitas-pamulang-gelar-sosialisasi-upaya-pencegahan-kenakalan-remaja-dan-bullying-di-smpn-20-tangerang-selatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 05:11:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pamulang]]></category>
		<category><![CDATA[Unpam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=105231</guid>

					<description><![CDATA[Melalui kegiatan PKM ini, mahasiswa PLP Kelompok 19 Universitas Pamulang berharap dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga perilaku, menghormati perbedaan, dan membangun hubungan sosial yang sehat.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TANGERANG SELATAN</strong> – Mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Kelompok 19 Universitas Pamulang menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa sosialisasi upaya pencegahan kenakalan remaja dan perundungan (bullying) di UPTD SMPN 20 Tangerang Selatan pada Senin (12/10/2026). Kegiatan yang menyasar siswa kelas 9.7 ini bertujuan meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya perilaku positif, sikap saling menghargai, serta upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.</p>
<p>Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ibu Armi Amsiati, M.PFis., serta Guru Pamong, Ibu Ratih Nurul Annisa, S.Pd. Rangkaian acara dipandu oleh Azzahra Desfina Saputri selaku moderator. Kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang dikoordinasikan oleh Nirmala Octavia Ramadhani, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Masrukhatullutfiah sebagai dirigen.</p>
<p>Memasuki sesi sambutan, Ketua Pelaksana, Fikri Fadillah, menyampaikan sambutan pembuka yang kemudian dilanjutkan oleh Ibu Armi Amsiati, M.PFis., sebagai perwakilan pihak sekolah. Setelah rangkaian sambutan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang melibatkan pihak sekolah, mahasiswa PLP, dan para peserta sebagai bentuk dokumentasi kegiatan.</p>
<p>Pada sesi inti, Fikri Fadillah menyampaikan materi mengenai dinamika kenakalan remaja dan berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah. Materi tersebut menekankan pentingnya mengenali perilaku menyimpang, memahami dampak negatif perundungan terhadap korban, serta menumbuhkan sikap empati dan tanggung jawab dalam pergaulan sehari-hari. Melalui penyampaian materi ini, siswa diharapkan mampu memahami batasan perilaku yang baik, menghargai perbedaan, dan berperan aktif dalam mencegah tindakan perundungan di lingkungan sekolah.</p>
<p>Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, mengemukakan pendapat, serta berpartisipasi aktif dalam pembahasan materi. Sebagai bentuk apresiasi atas antusiasme peserta, panitia memberikan cenderamata kepada siswa yang aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab.</p>
<p>Melalui kegiatan PKM ini, mahasiswa PLP Kelompok 19 Universitas Pamulang berharap dapat meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menjaga perilaku, menghormati perbedaan, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Kegiatan ini juga menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan, sekaligus memperkuat pembentukan karakter positif di kalangan remaja.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_470,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1792299816/1-5/1-5.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meniti Karier Sejak Kuliah: Panduan Bisnis Mahasiswa</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/meniti-karier-sejak-kuliah-panduan-bisnis-mahasiswa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2026 02:29:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=105023</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: ‎Alya Zahra Anastasya . Mahasiswi program Studi Manajamen, ‎Universitas Pamulang]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>‎<a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Masa perkuliahan sering kali diidentikkan dengan tugas, organisasi, dan kehidupan sosial. Namun, di tengah padatnya jadwal akademik, semakin banyak mahasiswa yang mulai melirik dunia wirausaha.</p>
<p>Memulai bisnis di bangku kuliah bukan lagi sekadar tren, melainkan langkah strategis untuk membangun kemandirian finansial, mengasah soft skills, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan karier pasca-kelulusan.</p>
<h3><strong>Mengapa Memulai Bisnis Saat Kuliah</strong></h3>
<p>Memulai usaha selagi menjadi mahasiswa memberikan beberapa keuntungan unik yang jarang didapatkan di fase kehidupan lainnya:</p>
<p><strong>Jaring Pengaman dan Kebebasan Bereksperimen</strong></p>
<p>Saat kuliah, risiko kegagalan bisnis relatif lebih mudah ditoleransi karena kewajiban finansial utama biasanya belum seberat orang dewasa yang bekerja penuh waktu.</p>
<p><strong>Akses Akselerasi dan Komunitas</strong></p>
<p>Kampus menyediakan ekosistem yang ideal: dosen pembimbing, akses Inkubator Bisnis Kampus, kompetisi wirausaha (Business Plan Competition), hingga dana hibah program kewirausahaan mahasiswa dari pemerintah maupun swasta.</p>
<p><strong>Koneksi Pasar yang Luas dan Cepat</strong></p>
<p>Rekan sesama mahasiswa adalah target pasar yang sangat potensial sekaligus media pemasaran gratis melalui koneksi jejaring sosial (word-of-mouth).</p>
<p><strong>Tantangan Utama dan Solusi Praktis</strong></p>
<p>Memulai bisnis di tengah kesibukan akademik tentu memiliki tantangannya tersendiri.</p>
<p>Berikut cara mengatasi kendala populer:</p>
<p>1. Manajemen Waktu (Academic vs Business)</p>
<p>Masalah: Bentrok antara jadwal kuliah, ujian, dan permintaan pelanggan.</p>
<p>Solusi: Gunakan skala prioritas dengan metode Eisenhower Matrix. Buat jadwal kerja yang jelas dan komunikasikan lead time (waktu pengerjaan) yang realistis kepada pelanggan.</p>
<p>‎2. Keterbatasan Modal</p>
<p>‎Masalah: Dana tabungan terbatas.</p>
<p>Solusi: Terapkan konsep bootstrapping (memulai dari apa yang ada). Anda juga bisa memanfaatkan sistem Pre-Order (PO) atau bekerja sama sebagai reseller/dropshipper terlebih dahulu untuk mengumpulkan modal awal.</p>
<p>3. Pemasaran yang Kurang Efektif</p>
<p>Masalah: Produk bagus tetapi sepi pembeli.</p>
<p>‎Solusi: Manfaatkan digital marketing berbasis konten di media sosial (TikTok, Instagram, atau Reels). Buat konten storytelling tentang perjalanan Anda membangun bisnis sebagai mahasiswa untuk membangun rasa empati dan keterikatan dengan audiens.</p>
<h4>‎Langkah Awal Memulai Bisnis Kampus Anda</h4>
<p>‎Riset Pasar Sederhana: Identifikasi masalah di sekitar kampus atau teman-teman Anda. Masalah apa yang belum terselesaikan?</p>
<p>Tentukan Unique Selling Proposition (USP): Apa yang membuat produk/jasa Anda berbeda dari kompetitor?</p>
<p>Buat Minimum Viable Product (MVP): Buat versi awal produk atau jasa secara sederhana, uji coba ke lingkup terdekat (teman sekelas), dan kumpulkan ulasan (feedback).</p>
<p>Evaluasi dan Tingkatkan: Gunakan ulasan pengguna untuk memperbaiki kualitas produk/layanan secara bertahap.</p>
<p>Memulai bisnis di masa kuliah tidak hanya tentang mencari pendapatan tambahan, tetapi juga tentang membentuk pola pikir mandiri, berani mengambil risiko terukur, dan mengasah kepemimpinan. Jangan menunggu hingga lulus untuk mulai berkarya.</p>
<p>Langkah kecil yang Anda ambil hari ini di lorong-lorong kampus bisa jadi merupakan fondasi bisnis besar Anda di masa depan.<br />
‎<br />
<em>‎Alya zahra anastasya</em><br />
<em>‎Mahasiswi program Studi Manajamen,</em><br />
<em>‎Universitas Pamulang</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://binus.ac.id/malang/wp-content/uploads/2023/08/pexels-fox-1595385.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembangkan Material Pendeteksi Mikroplastik, Peneliti UPER Manfaatkan Limbah Pelepah Sawit</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/kembangkan-material-pendeteksi-mikroplastik-peneliti-uper-manfaatkan-limbah-pelepah-sawit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2026 13:32:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104664</guid>

					<description><![CDATA[pemanfaatan pelepah sawit menjadi nanomaterial berupa carbon quantum dots (CQDs) yang berpotensi mendeteksi mikroplastik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Pencemaran plastik terus menjadi tantangan bagi lingkungan. United Nations Environment Programme (UNEP) memperkirakan sekitar 19–23 juta ton limbah plastik masuk ke ekosistem perairan setiap tahun, mencemari sungai, danau, dan laut.</p>
<p>Paparan sinar matahari dan gesekan fisik dapat memecah plastik tersebut menjadi partikel berukuran kurang dari lima milimeter yang dikenal sebagai mikroplastik. Ukurannya yang kecil memungkinkan partikel ini tertelan oleh organisme perairan dan masuk ke rantai makanan, sehingga deteksi keberadaannya menjadi penting untuk memantau pencemaran lingkungan.</p>
<p>Menjawab kebutuhan tersebut, Dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), Dr. Nonni Soraya Sambudi, bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Teknologi PETRONAS, meneliti pemanfaatan pelepah sawit menjadi nanomaterial berupa carbon quantum dots (CQDs) yang berpotensi mendeteksi mikroplastik.</p>
<p>“Pelepah sawit dapat diolah menjadi partikel karbon sangat kecil yang disebut Carbon Quantum Dots atau CQDs. Partikel ini dapat memancarkan cahaya ketika disinari. Setelah mikroplastik ditambahkan ke dalam larutannya, cahaya tersebut bisa menjadi lebih terang atau lebih redup. Kami mempelajari perubahan ini untuk mengetahui apakah CQDs dapat membantu mendeteksi mikroplastik, sekaligus memberi nilai tambah pada limbah pelepah sawit,” ungkap Dr. Nonni.</p>
<p>Untuk menghasilkan material tersebut, tim memanfaatkan lignin, salah satu komponen penyusun pelepah sawit, sebagai sumber karbon. Pelepah dikeringkan, digiling, dan diolah menjadi arang, kemudian diproses menjadi CQDs pada tiga suhu berbeda, yaitu 180°C, 190°C, dan 200°C. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Technology pada Januari 2025 ini menunjukkan bahwa pengolahan pada suhu 200°C menghasilkan pancaran cahaya paling kuat, dengan ukuran partikel rata-rata sekitar 4,05 nanometer, jauh lebih kecil daripada lebar rambut manusia.</p>
<p>&#8220;Kami menguji mikroplastik dari PE dan PET, yaitu bahan yang umum digunakan untuk kantong plastik dan botol minuman. Barang-barang tersebut dapat terurai menjadi partikel kecil yang mencemari lingkungan. Dalam pengujian, partikel PE dan PET ditambahkan ke larutan CQDs, lalu kami mengamati perubahan cahayanya setelah disinari. Tujuannya untuk mengetahui apakah perubahan cahaya tersebut dapat menjadi petunjuk keberadaan mikroplastik,&#8221; jelas Dr. Nonni.</p>
<p>Temuan ini membuka peluang pemanfaatan limbah pelepah sawit untuk membantu mendeteksi pencemaran yang sulit terlihat oleh mata. Jika dikembangkan lebih lanjut, perubahan cahaya CQDs berpotensi menjadi petunjuk keberadaan mikroplastik di perairan. Deteksi tersebut penting untuk memantau pencemaran yang dapat masuk ke rantai makanan. Meski menjanjikan, kemampuan material ini masih perlu disempurnakan agar memberikan hasil yang konsisten sebelum digunakan di lingkungan.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan bahwa riset tersebut sejalan dengan komitmen UPER dalam menjawab tantangan masa depan melalui pemanfaatan limbah.</p>
<p>“Riset ini menunjukkan pentingnya pengembangan teknologi yang mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Pengembangan material seperti ini juga menjadi bagian dari pembelajaran di Program Studi Teknik Kimia melalui peminatan Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses. UPER terus mendorong riset yang tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan kebutuhan teknologi di masa depan,” tutup Prof. Ichsan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.medanposonline.com/cdn/uploads/images/2026/10/_2517_Kembangkan-Material-Pendeteksi-Mikroplastik--Peneliti-UPER-Manfaatkan-Limbah-Pelepah-Sawit.png" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UPER Dorong Pengelolaan Risiko Berbasis Aktuaria, Antisipasi Risiko Kerugian di Industri Energi</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/uper-dorong-pengelolaan-risiko-berbasis-aktuaria/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2026 10:27:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104574</guid>

					<description><![CDATA[DEPOKPOS &#8211; International Energy Agency (IEA) memperkirakan investasi...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; International Energy Agency (IEA) memperkirakan investasi energi global mencapai US$3,4 triliun pada 2026. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan transisi energi, perusahaan perlu mempertimbangkan risiko yang dapat mempengaruhi nilai investasi tersebut, termasuk kerusakan aset, kenaikan biaya pemeliharaan, dan gangguan operasional. Untuk mengantisipasinya, perusahaan membutuhkan metode yang dapat memperkirakan peluang terjadinya risiko sekaligus menghitung dampak keuangannya.</p>
<p>Kebutuhan tersebut membuka ruang penerapan ilmu aktuaria di industri energi. Meski aktuaris di Indonesia umumnya bekerja di bidang asuransi jiwa, keahlian mengukur risiko dan memperkirakan kebutuhan biaya juga dapat mendukung keputusan pemeliharaan serta penggantian aset.</p>
<p>Penerapan ini diperkenalkan Program Studi Sains Aktuaria Universitas Pertamina (UPER) kepada pegawai perusahaan pengelola data minyak dan gas bumi (migas) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada 26 September 2026.</p>
<p>“Pendekatan aktuaria membantu perusahaan mengukur risiko kerusakan aset, memperkirakan dampak keuangan, dan menentukan langkah pencegahan berdasarkan data,” ungkap Dr. Tasmi, S.Si., M.Si., Ketua Program Studi Sains Aktuaria UPER sekaligus Ketua Tim PkM.</p>
<p>Salah satu metode yang diperkenalkan adalah survival analysis, yaitu analisis statistik untuk memperkirakan berapa lama suatu peralatan dapat berfungsi sebelum mengalami kerusakan.</p>
<p>Misalnya, perusahaan memiliki sejumlah pompa dengan catatan usia pemakaian, jadwal perawatan, dan riwayat kerusakan. Data tersebut dapat dianalisis untuk memperkirakan peluang pompa tetap berfungsi dalam satu tahun ke depan. Hasilnya membantu perusahaan menentukan pompa yang perlu diprioritaskan untuk perawatan atau pemeriksaan lebih lanjut, serta menyiapkan anggaran penggantian sebelum kerusakan mengganggu operasional.</p>
<p>Tidak hanya menganalisis pada probabilitas kegagalan, pendekatan aktuaria juga dapat membantu perusahaan dalam mempertimbangkan konsekuensi ekonomi dari keputusan pemeliharaan dan penggantian aset.</p>
<p>Dalam PkM tersebut, tim UPER turut menyiapkan modul yang dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam menganalisis risiko keuangan perusahaan.</p>
<p>“Misalnya, perusahaan memiliki mesin lama yang semakin sering membutuhkan perbaikan. Mempertahankannya berarti terus membayar biaya perawatan, sementara membeli mesin baru membutuhkan investasi awal yang besar, tetapi bisa menghemat biaya operasional. Model dynamic programming membantu membandingkan kedua pilihan tersebut selama beberapa tahun ke depan, termasuk memperhitungkan harga jual mesin lama. Dengan begitu, perusahaan dapat menilai apakah lebih menguntungkan mengganti mesin sekarang atau tetap menggunakannya untuk sementara,” tambah Dr. Tasmi.</p>
<p>Kolaborasi UPER dengan industri melalui PkM menjadi ruang penguatan dalam memahami persoalan manajemen risiko yang dihadapi industri energi secara langsung, sekaligus mengidentifikasi ruang penerapan ilmu aktuaria untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan bahwa keterhubungan antara keilmuan dan kebutuhan industri menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, khususnya di bidang energi.</p>
<p>“Universitas Pertamina memiliki ekosistem keilmuan yang dekat dengan sektor energi. Karena itu, pengembangan Sains Aktuaria melalui peminatan Asuransi Energi dan Manajemen Risiko, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kompetensi aktuaria secara umum, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan pengelolaan risiko di sektor energi,” ujar Prof. Ichsan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.ruangenergi.com/wp-content/uploads/2026/10/Uper1.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UI Innovation Festival 2026 Digelar di Gandaria City, Ada Pameran Riset hingga Kolaborasi Internasional</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/ui-innovation-festival-2026-digelar-di-gandaria-city-ada-pameran-riset-hingga-kolaborasi-internasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 08:30:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<category><![CDATA[UI Innovation Festival]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104444</guid>

					<description><![CDATA[Pemaparan program Gemini Academy Master Trainers dalam rangkaian UI Innovation Festival 2026 yang digelar di Gandaria City, Jakarta, Jumat (2/10/2026).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Universitas Indonesia melalui Science Techno Park (STP UI) menggelar UI Innovation Festival 2026 di Main Atrium Gandaria City, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Mengusung tema “Acceleration of Technology Innovation for National Self-reliance”, festival ini mempertemukan lingkungan akademik dengan industri, pemerintah, perusahaan rintisan (startup), mahasiswa, dan masyarakat untuk memperkenalkan perkembangan riset serta mendorong pemanfaatannya secara lebih luas.</p>
<p>Pada hari pertama, sebanyak 238 orang tercatat mendaftar untuk mengikuti rangkaian UI Innovation Festival 2026. Festival yang berlangsung pada 2–3 Oktober tersebut juga menghadirkan 19 peserta pameran yang berasal dari mitra serta startup seperti DIRBT &#8211; STP UI, UI STORE, MAKA, HUBA, COCOVA Sugar &amp; Dairy-Free Ice Cream, Madu NP, AITOMA &#8211; PT Hayago Robotika Indonesia, Terumbu, Kidlabox, Kibicare, Inventing, DKST ITB, Kementerian UMKM, Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship IPB, UGM Science Techno Park, ROHTO, ATM SEHAT, Luwes Inovasi Mandiri, dan IMERI FKUI.</p>
<p>Melalui area pameran, pengunjung dapat melihat berbagai hasil riset dan inovasi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi sekaligus mengenal peluang penerapannya dalam kehidupan dan dunia usaha.</p>
<figure id="attachment_104447" aria-describedby="caption-attachment-104447" style="width: 960px" class="wp-caption aligncenter"><img width="960" height="640" fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-post-104444 wp-image-104447 size-full" src="data:image/svg+xml;base64,PHN2ZyB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciIHdpZHRoPSI5NjAiIGhlaWdodD0iNjQwIj48cmVjdCB3aWR0aD0iMTAwJSIgaGVpZ2h0PSIxMDAlIj48YW5pbWF0ZSBhdHRyaWJ1dGVOYW1lPSJmaWxsIiB2YWx1ZXM9InJnYmEoMTUzLDE1MywxNTMsMC41KTtyZ2JhKDE1MywxNTMsMTUzLDAuMSk7cmdiYSgxNTMsMTUzLDE1MywwLjUpIiBkdXI9IjJzIiByZXBlYXRDb3VudD0iaW5kZWZpbml0ZSIgLz48L3JlY3Q+PC9zdmc+" alt="Pengunjung berdiskusi di area pameran UI Innovation Festival 2026 yang menampilkan berbagai hasil riset dan inovasi dari perguruan tinggi di Gandaria City, Jakarta, Jumat (2/10/2026)" data-public-id="PM03258-2_copy_1500x1000/PM03258-2_copy_1500x1000.jpg" data-format="jpg" data-transformations="" data-version="1" data-seo="1" data-responsive="1" data-size="960 640" data-delivery="upload" onload=";window.CLDBind?CLDBind(this):null;" data-cloudinary="lazy" /><figcaption id="caption-attachment-104447" class="wp-caption-text">Pengunjung berdiskusi di area pameran UI Innovation Festival 2026 yang menampilkan berbagai hasil riset dan inovasi dari perguruan tinggi di Gandaria City, Jakarta, Jumat (2/10/2026)</figcaption></figure>
<p>Rangkaian kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan perjalanan inovasi setelah tahap penelitian. Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi didorong untuk berkembang melalui hilirisasi, transfer teknologi, komersialisasi, pengembangan usaha, serta kemitraan dengan industri sehingga dapat menghasilkan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat dan bangsa.</p>
<p>Penguatan ekosistem transfer teknologi juga dibahas melalui international talkshow “Strengthening Indonesia Technology Transfer Profession and Global Alignment”. Sesi tersebut menghadirkan Dr. Alwin Wong selaku Chair of the Alliance of Technology Transfer Professionals (ATTP), Chalermpol Tuchinda selaku ATTP Advisor for the ASEAN Region, Dr. Adhi Indra Hermanu, S.T., M.T., M.M. selaku Acting Director for Commercialization and Partnerships at the Ministry of Higher Education, Science, and Technology of the Republic of Indonesia, serta Prof. Ahmad Gamal, Ph.D. selaku Ketua Perkumpulan Transfer Teknologi Indonesia.</p>
<p>Guna mendorong hilirisasi hasil riset dan inovasi dari perguruan tinggi ke dunia industri, diskusi menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, dan profesional transfer teknologi dalam mengatasi tantangan komersialisasi riset. Melalui sinergi tersebut, inovasi diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi pembangunan ekonomi dan masyarakat.</p>
<p>Pembahasan mengenai hilirisasi riset juga hadir dalam talkshow “Dari Riset ke Industri: Akselerasi untuk Mempercepat Hilirisasi Riset dan Inovasi Indonesia Berbasis Kekayaan Intelektual”. Forum tersebut menghadirkan Wisnu Sardjono Soenarso selaku Ketua Divisi Transfer Teknologi STP UI, Ahmad Zulkifli Taning, Ph.D. selaku Kasubdit Kekayaan Intelektual &amp; Promosi, Hermansyah Siregar, S.H., M.H. selaku Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, serta Fermi Hasenda selaku Direktur Manufaktur &amp; Riset PT Rohto Laboratories Indonesia.</p>
<p>Para narasumber menekankan bahwa kekayaan intelektual, transfer teknologi, dukungan regulasi, serta kolaborasi antara kampus dan industri merupakan kunci dalam menciptakan inovasi yang berdampak dan bernilai ekonomi yang bisa dirasakan oleh masyarakat.</p>
<p>“Penguasaan teknologi adalah bagian dari kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri. Negara yang hanya menjadi pasar akan selalu tertinggal,” kata Dr. Adhi Indra Hermanu, S.T., M.T., M.M., Kepala Tim Hilirisasi dan Industri sekaligus Pelaksana Tugas Direktur di Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yang mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.</p>
<p>Menurut Adhi, perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam melahirkan pengetahuan, talenta, teknologi, perusahaan berbasis inovasi, dan solusi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan riset perlu diarahkan agar sebagian hasil penelitian memiliki jalur menuju pemanfaatan melalui proses hilirisasi dan inovasi.</p>
<p>Pada hari pertama, festival juga berkolaborasi dengan Google Gemini AI Academy melalui seminar dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan yang disampaikan oleh Steven, S.Pd. B.Sc. selaku Principal Consultant Google Certified Trained, REFO dan ditujukan khusus bagi mahasiswa UI. Kegiatan tersebut terpenuhi pendaftar dan menjadi salah satu agenda yang memperkenalkan pemanfaatan teknologi Gemini AI dalam mendukung pengembangan inovasi dan ide mahasiswa secara cerdas.</p>
<p>Selain agenda pameran dan pelatihan, festival menghadirkan ruang interaksi melalui sesi bincang-bincang dan seminar. Berbagai kegiatan tersebut mempertemukan peneliti, pelaku industri, pemerintah, startup, mahasiswa, serta masyarakat dalam satu rangkaian yang membahas perkembangan teknologi dan peluang pemanfaatannya.</p>
<p>Pembukaan UI Innovation Festival 2026 disahkan oleh Prof. Ahmad Gamal, S.Ars., M.U.P., Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI bersama Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si. selaku Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Indonesia, Ir. Chairul Hudaya, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. selaku Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI, serta Laela Sifa, S.IP., MPA selaku Manajer Proyek PRIME STeP. Pada sesi exhibition, para narasumber tersebut turut berkeliling ke booth dan memperkenalkan benda-benda inovasi yang dipamerkan.</p>
<p>Dengan mempertemukan hasil riset, perkembangan teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan, UI Innovation Festival 2026 membuka ruang bagi inovasi perguruan tinggi untuk dikenal dan dikembangkan lebih lanjut.</p>
<p>Rangkaian kegiatan hingga 3 Oktober tersebut sekaligus memperlihatkan upaya membangun hubungan yang berkelanjutan antara riset, industri, dan kebutuhan masyarakat dalam mendorong kemandirian nasional.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mahasiswi UNIDA Gontor Kunjungi AQL Islamic Center, Belajar Tadabur Al-Qur’an</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/10/mahasiswi-unida-gontor-kunjungi-aql-islamic-center-belajar-tadabur-al-quran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 07:52:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[AQL]]></category>
		<category><![CDATA[Gontor]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<category><![CDATA[UNIDA]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104374</guid>

					<description><![CDATA[Sebanyak 27 mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan kunjungan studi ke AQL Islamic Center]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> &#8211; Sebanyak 27 mahasiswi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melakukan kunjungan studi ke AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari kegiatan studi lapangan sekaligus sarana silaturahim dan pendalaman ilmu Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Rombongan mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur&#8217;an dan Tafsir semester VI tersebut didampingi dosen pembimbing. Mereka diterima langsung Pembina AQL Islamic Center, Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).</p>
<p>Perwakilan UNIDA Gontor, Ustaz Mahmud, menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan kepada para mahasiswi untuk melakukan studi di AQL Islamic Center. Ia juga menyampaikan salam dari pimpinan Pondok Modern Gontor, Rektor UNIDA Gontor KH Prof Hamid Fahmy Zarkasyi, serta Dekan Fakultas Ushuluddin Ustaz Syamsul Hadi Untung.</p>
<p>&#8220;Yang kedua, kami ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Al-Ustadz, pengelola, dan juga pimpinan yayasan Pusat Peradaban Islam, Al-Ustadz K.H. Bachtiar Nasir, Lc., M.M., atas waktu yang sudah diberikan untuk menerima kami,&#8221; ujar Ustaz Mahmud.</p>
<p>Ia menjelaskan, rombongan tersebut terdiri atas 27 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur&#8217;an dan Tafsir kelas C1 kampus putri UNIDA Gontor. Mereka didampingi Ustaz Taufik Akhyar, M.Ag., dan Ustazah Dr. Nindiya Ayomi Dirahara, M.Pd.</p>
<p>&#8220;Tujuan utama kami ke sini kemari adalah pertama ingin silaturahim, kemudian dilanjutkan oleh menuntut ilmu bersama Al-Ustadz Bachtiar Nasir tentang tadabur Al-Qur&#8217;an,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut, UBN memberikan kuliah umum mengenai tadabur Al-Qur&#8217;an. Ia menekankan bahwa mempelajari tafsir merupakan bagian penting dalam proses memahami Al-Qur&#8217;an, tetapi tidak berhenti pada pemahaman akademik. Al-Qur&#8217;an juga perlu ditadaburi agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi pelajaran dalam kehidupan.</p>
<p>&#8220;Kalian di jurusan khusus dan tafsir sudah bagus, karena kan untuk bertadabur harus pakai tafsir. Enggak mungkin bertadabur enggak pakai tafsir. Tapi, harus mentadaburinya,&#8221; ujar UBN.</p>
<p>Menurut UBN, salah satu tujuan utama diturunkannya Al-Qur&#8217;an adalah agar manusia merenungkan ayat-ayatnya. Karena itu, umat Islam perlu membangun pola interaksi yang benar dengan Al-Qur&#8217;an, bukan hanya membacanya ketika menghadapi persoalan tertentu.</p>
<p>&#8220;Pesannya tentu: jangan sampai berinteraksi dengan cara yang salah. Yang benar bagaimana? Yang benar adalah berinteraksi dengan cara yang disukai oleh Al-Qur&#8217;an,&#8221; katanya.</p>
<p>UBN menjelaskan, tadabur berarti melihat sesuatu hingga kepada akibat atau dampak yang ditimbulkannya. Proses tersebut dilakukan dengan memperhatikan makna secara mendalam dan berulang sehingga seseorang dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>&#8220;Bertadabur adalah memandang sesuatu di balik sesuatu dan memahami akibat yang akan ditimbulkannya,&#8221; ujar UBN.</p>
<p>Ia kemudian mengutip sejumlah pandangan ulama mengenai tadabur Al-Qur&#8217;an. Imam At-Thabari, misalnya, menjelaskan tadabur sebagai perenungan terhadap hujah-hujah Allah dan syariat yang terdapat dalam Al-Qur&#8217;an sehingga seseorang memperoleh nasihat dan mengamalkannya.</p>
<p>Sementara itu, Ibnu Katsir memaknai tadabur sebagai proses memahami makna lafaz sekaligus memikirkan pesan yang terkandung di dalam Al-Qur&#8217;an. Adapun Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah melihat tadabur sebagai upaya menajamkan mata hati terhadap makna-makna Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>UBN juga mengajak para mahasiswi untuk tidak berhenti pada kajian Al-Qur&#8217;an secara akademik. Menurut dia, interaksi dengan Al-Qur&#8217;an semestinya turut membentuk manusia dan memengaruhi karakter dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>&#8220;Saya tidak fokus pada isitunya, saya fokus kepada pembinaan manusianya lewat tadabur. Walaupun kita punya karya-karya akademik,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam kuliah tersebut, UBN juga menjelaskan pentingnya memahami nama, sifat, dan fungsi Al-Qur&#8217;an. Menurut dia, pemahaman tersebut dapat menjadi dasar dalam membangun pola interaksi yang lebih mendalam dengan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Ia mencontohkan beberapa nama Al-Qur&#8217;an yang menunjukkan hakikatnya, antara lain Al-Qur&#8217;an, Al-Kitab, At-Tanzil, dan Al-Furqan.</p>
<p>&#8220;Begitu juga saat berinteraksi dengan Al-Qur&#8217;an. Jadi, ketika kita pegang Al-Qur&#8217;an, mulai membacanya, ingat tuh nama-Nya dan sifat-sifat-Nya,&#8221; ujar UBN.</p>
<p>Kunjungan tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan akademik para mahasiswi, tetapi juga memperkuat tradisi tadabur dan interaksi dengan Al-Qur&#8217;an sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kehidupan sehari-hari.*</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_470,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1790927230/IMG-20261002-WA0008_copy_1020x765/IMG-20261002-WA0008_copy_1020x765.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa FK UPN Veteran Jakarta Raih Juara 1 Esai Ilmiah MESENTERICA 2026</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/mahasiswa-fk-upn-veteran-jakarta-raih-juara-1-esai-ilmiah-mesenterica-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2026 03:01:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[UPN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104263</guid>

					<description><![CDATA[Tiga mahasiswa, yakni Fawziya Kamila Fitriyani, Nathania Vivia Mustaqimah, dan Fatih Jihadi Ramadhan, berhasil meraih Juara 1 Lomba Esai Ilmiah]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Prestasi di tingkat nasional kembali diraih mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (FK UPNVJ). Tiga mahasiswa, yakni Fawziya Kamila Fitriyani, Nathania Vivia Mustaqimah, dan Fatih Jihadi Ramadhan, berhasil meraih Juara 1 Lomba Esai Ilmiah dalam ajang MESENTERICA 2026 (Medical Student Fair and Tracing Creativity).</p>
<p>Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh LUNAR-MRC Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan diikuti mahasiswa pada tingkat nasional. Dalam kompetisi ini, ketiga mahasiswa FK UPNVJ mengembangkan gagasan ilmiah yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dalam bidang kesehatan, khususnya imunologi, dengan didampingi oleh dosen pembimbing Dela Riadi, S.K.M., M.K.M.</p>
<p>Esai yang diangkat mengusung tema “Digital Health, Artificial Intelligence, and Emerging Technologies in Immunology”. Tema tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi berbagai pemanfaatan teknologi, mulai dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), digital health, bioinformatika, precision medicine, hingga teknologi diagnostik dalam mendukung penelitian maupun pelayanan kesehatan berbasis imunologi.</p>
<p>Rangkaian kompetisi MESENTERICA 2026 berlangsung dalam dua tahap. Babak penyisihan dilaksanakan secara daring pada 30 Agustus hingga 4 September 2026, sedangkan babak final berlangsung pada 25–27 September 2026 di Akar Hotel, Lampung.</p>
<p>Keberhasilan tim FK UPNVJ dalam kompetisi tersebut menjadi catatan positif dalam pengembangan kemampuan akademik dan kreativitas mahasiswa. Melalui gagasan yang mengintegrasikan ilmu kesehatan dengan perkembangan teknologi, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami perkembangan keilmuan, tetapi juga mampu melihat peluang pemanfaatan teknologi untuk menjawab tantangan dalam dunia kesehatan.</p>
<p>Capaian tersebut sekaligus menunjukkan keterlibatan mahasiswa kedokteran dalam pengembangan inovasi dan pemikiran ilmiah. Dengan dukungan dosen pembimbing dan lingkungan akademik, mahasiswa diharapkan dapat terus mengembangkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_391,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1790564309/Screenshot_2026-09-28-09-56-37-71_c37d74246d9c81aa0bb824b57eaf7062/Screenshot_2026-09-28-09-56-37-71_c37d74246d9c81aa0bb824b57eaf7062.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riset Hidrogen Bawa Mahasiswa UPER Juara 1 Young Scientist Competition 2026</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/riset-hidrogen-bawa-mahasiswa-uper-sabet-juara-1-young-scientist-competition-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2026 08:20:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Hidrogen]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=104103</guid>

					<description><![CDATA[Gabriella Kuswandi mengembangkan inovasi material penyimpanan hidrogen berbasis Zeolitic]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Di tengah upaya global mencari sumber energi yang lebih bersih, hidrogen semakin dipandang sebagai salah satu energi masa depan. Meski memiliki potensi besar sebagai sumber energi rendah emisi, pemanfaatannya masih menghadapi persoalan penting dalam aspek penyimpanan, terutama agar hidrogen dapat disimpan secara aman, stabil, dan digunakan secara berulang.</p>
<p>Persoalan inilah yang mendorong Gabriella Kuswandi, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), mengembangkan inovasi material penyimpanan hidrogen berbasis Zeolitic Imidazolate Framework-8 (ZIF-8). Riset tersebut berhasil mengantarkannya meraih Juara 1 Young Scientist Competition 2026.</p>
<p>“Selama ini, salah satu tantangan pemanfaatan hidrogen pada kendaraan adalah bagaimana menyimpannya secara aman dan tetap stabil saat digunakan berulang kali. Salah satu material yang banyak dikaji adalah Metal-Organic Framework-5 atau MOF-5 karena memiliki kapasitas penyimpanan yang tinggi. Namun, material ini cukup sensitif terhadap kelembapan dan strukturnya dapat berubah setelah beberapa kali proses penyimpanan dan pelepasan hidrogen,” ungkap Gabriella.</p>
<p>Keterbatasan tersebut menjadi alasan Gabriella mengembangkan ZIF-8 yang lebih tahan terhadap kelembapan dan dapat digunakan berulang kali. Melalui penelitian berjudul “From MOF-5 to ZIF-8: Towards a Practical Hydrogen Storage System for Fuel Cell Electric Vehicles”, ia menunjukkan bahwa ZIF-8 mampu mempertahankan kestabilannya hingga 47 siklus penyimpanan dan pelepasan hidrogen.</p>
<p>Secara sederhana, ZIF-8 memiliki ruang-ruang sangat kecil yang dapat menampung hidrogen dan melepaskannya kembali ketika dibutuhkan. Ketahanannya terhadap kelembapan dan penggunaan berulang membuat material ini berpotensi mendukung sistem penyimpanan hidrogen yang lebih stabil dan tahan lama pada kendaraan berbasis fuel cell.</p>
<p>“Dengan penyimpanan yang lebih stabil, hidrogen dapat disimpan dan digunakan kembali secara lebih optimal. Karena itu, pengembangan ZIF-8 diharapkan dapat mendukung pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi untuk kendaraan di masa depan,” tambah Gabriella.</p>
<p>Gagasan tersebut sejalan dengan semangat pengembangan ekosistem hidrogen yang menjadi fokus forum tempat riset Gabriella dipresentasikan. Young Scientist Competition 2026 merupakan bagian dari Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama International Fuel Cell and Hydrogen Energy Association (IFHE) pada 21–23 Juli 2026 di Assembly Hall, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.</p>
<p>GHES 2026 menjadi forum internasional yang mempertemukan peneliti, akademisi, pelaku industri, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan teknologi, inovasi, dan penguatan ekosistem hidrogen. Forum ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai riset dan solusi yang mendukung pemanfaatan hidrogen dalam transisi menuju energi yang lebih bersih.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menilai riset ZIF-8 menunjukkan bagaimana inovasi material dapat menjawab tantangan penyimpanan hidrogen sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi masa depan. Menurutnya, Universitas Pertamina terus mendorong lahirnya riset yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri serta transisi energi.</p>
<p>“Melalui Program Studi Teknik Kimia, khususnya peminatan Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses, mahasiswa dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan material yang dapat menjawab berbagai tantangan di sektor energi. Kami berharap pengalaman riset ini tidak hanya mendorong prestasi akademik, tetapi juga melahirkan inovasi yang bermanfaat dan dapat dikembangkan lebih lanjut,” tutup Prof. Ichsan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lantik Lebih dari 1.700 Mahasiswa Baru, UPER Siapkan Talenta Strategis Masa Depan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/lantik-lebih-dari-1-700-mahasiswa-baru-uper-siapkan-talenta-strategis-masa-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 11:55:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=103727</guid>

					<description><![CDATA[Generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing Indonesia]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Komisaris PT Pertamina (Persero) Laode Sulaeman menegaskan, generasi muda memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing Indonesia, terlebih di tengah target pemerintah mencapai swasembada energi dalam tiga tahun ke depan. Menurutnya, mahasiswa perlu menyiapkan kompetensi, pengalaman, dan kemampuan beradaptasi agar dapat mengambil bagian dalam transformasi sektor energi nasional.</p>
<p>“Ketahanan energi bukan hanya persoalan ketersediaan energi, tetapi juga berkaitan dengan daya saing bangsa. Indonesia saat ini berada di peringkat 48 dari 70 ekonomi dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026, sementara infrastruktur berada di peringkat 58 dan menjadi salah satu pilar terlemah,” kata Laode saat memberikan pembekalan dalam Pelantikan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Pertamina (UPER), di Auditorium MyPertamina, Simprug, Jakarta, Senin, 14 September 2026.</p>
<p>Menurut Laode, kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya mencapai swasembada energi membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan secara lintas disiplin. Karena itu, mahasiswa UPER memiliki ruang untuk berkontribusi melalui berbagai bidang, mulai dari teknik, teknologi informasi, hingga manajemen dan bisnis.</p>
<p>Ia menilai, tantangan energi Indonesia ke depan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pasokan, tetapi juga transisi energi, energi terbarukan, digitalisasi, efisiensi, dan keberlanjutan. Apa yang dipelajari mahasiswa saat ini, kata dia, akan menjadi bagian dari solusi atas kebutuhan energi Indonesia di masa depan.</p>
<p>Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa Universitas Pertamina berada pada posisi Sejalan dengan itu, Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga adaptif, kolaboratif, berintegritas, dan memiliki sustainability mindset. Mahasiswa hari ini dinilai sebagai calon pemimpin, inovator, dan profesional yang nantinya ikut menentukan arah sektor energi Indonesia.</p>
<p>Sebagai bagian dari ekosistem Pertamina, mahasiswa UPER juga memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan praktis dan membangun jejaring melalui kuliah lapangan, kunjungan industri, program magang, penelitian, hingga tugas akhir.</p>
<p>Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra mengatakan, perubahan yang dihadapi generasi muda tidak hanya datang dari sektor energi. Perkembangan kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, perubahan iklim, dan persoalan lingkungan juga akan membentuk masa depan mahasiswa.</p>
<p>“Pendidikan di Universitas Pertamina bukan hanya untuk memperoleh gelar, tetapi untuk mempersiapkan lulusan agar mampu menghadapi perubahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Prof. Ichsan.</p>
<p>Pelantikan mahasiswa baru tahun ini mengusung tema “Navigate The Future: Empowering Sustainability Innovators.” Melalui tema tersebut, UPER mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi mampu membaca arah perubahan, beradaptasi, dan menciptakan solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.</p>
<p>Pada Tahun Akademik 2026/2027, Universitas Pertamina menerima lebih dari 1.700 mahasiswa baru dari total 6.025 pendaftar untuk program sarjana dan magister. Mereka kemudian dilantik sebagai bagian dari rangkaian Pekan Orientasi dan Pengenalan Universitas Pertamina (POP-UP) 2026.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://mawartanews.com/wp-content/uploads/2026/09/IMG-20260914-WA0068.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramai Isu Megathrust, Pakar UPER Ajak Masyarakat Kritis Menyikapi Informasi</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/ramai-isu-megathrust-pakar-uper-ajak-masyarakat-kritis-menyikapi-informasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2026 11:50:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[UPER]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=103724</guid>

					<description><![CDATA[Potensi gempa megathrust di Selat Sunda dapat berdampak hingga Jakarta]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com"><strong>JAKARTA</strong></a> &#8211; Potensi gempa megathrust di Selat Sunda dapat berdampak hingga Jakarta. Mengutip laporan Metro TV pada 12 September 2026 yang merujuk keterangan BMKG dan data BRIN, skenario gempa bermagnitudo 8,9 berpotensi diikuti tsunami yang mencapai pesisir utara Jakarta dalam sekitar 2,5 jam, dengan perkiraan ketinggian gelombang sekitar 0,5 meter. Gambaran potensi ini menjadi dasar untuk menyiapkan langkah mitigasi, sehingga penyampaiannya perlu memperjelas bahwa angka tersebut bukan kepastian waktu maupun dampak kejadian.</p>
<p>Pentingnya kejelasan tersebut ditekankan oleh Pakar Komunikasi Risiko Kebencanaan Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Farah Mulyasari. Menurutnya, angka magnitudo dan perkiraan tsunami tanpa konteks dapat menimbulkan kecemasan, sementara warga yang merasa jauh dari sumber bahaya justru dapat mengabaikan kebutuhan untuk bersiap. Karena itu, penjelasan mengenai skenario perlu dihubungkan dengan risiko di wilayah masing-masing serta langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan masyarakat.</p>
<p>“Masyarakat cenderung merespons ancaman berdasarkan kedekatan spasial, sehingga diperlukan strategi komunikasi yang mengkalibrasi ulang pemahaman mereka terhadap bahaya,” ungkap Farah.</p>
<p>Dalam konteks megathrust, masyarakat membutuhkan penjelasan tentang keterkaitan potensi bahaya dengan tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari. Kajian potensi bencana juga perlu dibedakan dari peringatan atas kejadian yang sedang berlangsung agar tidak dipahami sebagai kepastian gempa akan segera terjadi.</p>
<p>Farah menyoroti bahwa istilah teknis kebencanaan perlu diterjemahkan menjadi petunjuk yang mudah dipahami. Penjelasan ilmiah harus dihubungkan dengan tindakan praktis melalui kanal yang dekat dengan masyarakat. Pendekatan ini dapat diterapkan dengan memberikan panduan mengenali jalur evakuasi, menyusun rencana komunikasi keluarga, serta mengakses informasi resmi sesuai kondisi wilayah.</p>
<p>Di media sosial, kejelasan pesan perlu diikuti ketelitian memeriksa informasi. Dokumentasi bencana lama yang disebarkan kembali tanpa keterangan berpotensi menimbulkan salah pengertian dan memperbesar kekhawatiran masyarakat.</p>
<p>“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelasnya.</p>
<p>Farah mengingatkan masyarakat untuk memeriksa sumber, waktu, dan konteks informasi sebelum membagikannya, dengan merujuk BMKG serta panduan BNPB dan BPBD. Media juga perlu menjelaskan skenario di balik perkiraan dampak bencana, disertai panduan tindakan yang jelas agar informasi membantu masyarakat bersiap.</p>
<p>“Warga perlu kritis terhadap foto atau video dramatis yang beredar dan pastikan visual tersebut memiliki konteks dan cap waktu terkini, bukan dokumentasi dari bencana masa lalu,” jelas Farah.</p>
<p>Sejalan dengan pentingnya penyampaian informasi kebencanaan yang mudah dipahami, Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, menekankan peran perguruan tinggi dalam menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kebutuhan masyarakat.</p>
<p>“Universitas Pertamina mendorong kolaborasi ilmu kebumian dan komunikasi untuk memperkuat literasi kebencanaan. Pemahaman tentang sumber dan potensi bahaya perlu diterjemahkan menjadi informasi yang membantu masyarakat mengenali risiko di sekitarnya serta memahami langkah kesiapsiagaan yang dapat dilakukan,” ujar Ichsan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://www.bengkulutoday.com/sites/default/files/article/2026-09/IMG-20260913-WA0087.jpg" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Dekade Perjalanan Studi Korea di Universitas Indonesia: Memperkuat Kolaborasi Akademik, Budaya, dan Industri Menuju Masa Depan</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/09/dua-dekade-perjalanan-studi-korea-di-universitas-indonesia-memperkuat-kolaborasi-akademik-budaya-dan-industri-menuju-masa-depan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2026 01:33:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[FIB UI]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=103410</guid>

					<description><![CDATA[Perayaan 20 Tahun Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI Menghadirkan Seminar Nasional, Sesi Berbagi Alumni, dan Sinergi Lintas Sektor untuk Penguatan Hubungan Indonesia–Korea.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Perayaan 20 Tahun Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI Menghadirkan Seminar Nasional, Sesi Berbagi Alumni, dan Sinergi Lintas Sektor untuk Penguatan Hubungan Indonesia–Korea.</em></p></blockquote>
<p><strong>DEPOK</strong> – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI) merayakan hari jadinya yang ke-20 dengan menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademik dan kebudayaan di Auditorium Gedung 1, FIB UI, Depok. Mengusung tema besar &#8220;함께한 20년, 함께할 미래&#8221; (20 Tahun Bersama, Masa Depan Bersama) atau &#8220;20 Years of Korean Studies in Indonesia: Reflection and Future Collaboration&#8221;, acara ini mempertemukan akademisi, mahasiswa, puluhan generasi alumni, serta mitra strategis nasional maupun internasional untuk berefleksi sekaligus menyusun langkah inovatif ke depan.</p>
<p>Sejak didirikan pada 16 Agustus 2006, program studi ini telah menjadi salah satu pelopor pendidikan dan pengembangan kajian bahasa, sastra, dan budaya Korea di Indonesia. Dalam pidato kuncinya, Dekan FIB UI, Bapak Dr. Untung Yuwono, S.S., menyampaikan apresiasi mendalam terhadap perkembangan pesat studi Korea di lingkungan kampus. Beliau menekankan bahwa perayaan ini merupakan perayaan atas sebuah perjalanan bersama yang melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, dan mitra.</p>
<p>&#8220;Ketika prodi ini didirikan pada 2006, konteks hubungan bilateral Indonesia dan Korea sangat dipengaruhi oleh transformasi ekonomi dan industri Korea Selatan yang luar biasa. Dua puluh tahun kemudian, hari ini kita menyaksikan Korea Selatan telah bertransformasi menjadi kekuatan budaya global. Keputusan FIB UI dua dekade lalu untuk mengembangkan studi Korea terbukti sebagai investasi akademik jangka panjang yang sangat tepat. Kami tidak sekadar mengantisipasi Korean Wave, melainkan membangun kapasitas akademik yang kritis, akademis, dan kontekstual.&#8221;</p>
<p>Hubungan erat antara dunia akademis dan dunia usaha juga tercermin dalam sambutan hangat para mitra internasional. Bapak Lee Kang Hyun, President of Korean Chamber of Commerce and Industry in Indonesia (KOCHAM Indonesia), menyatakan bahwa kerja sama pendidikan dan industri sangat penting karena lulusan yang memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa dan budaya Korea merupakan aset berharga bagi ratusan perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia. Sementara itu, Director of Korea Foundation Jakarta Office, Bapak Lee Sang Hoon, menggarisbawahi peran alumni dan mahasiswa sebagai jembatan hidup (living bridges) yang mempererat rasa saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat kedua negara.</p>
<p>Ketua Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, Ibu Euis Sulastri, S.Hum., M.A., Ph.D., merefleksikan bagaimana prodi ini dirintis dengan keterbatasan pengajar lokal hingga akhirnya berkembang pesat seperti sekarang. Beliau memaparkan bahwa prodi saat ini telah diperkuat by 9 dosen tetap, dengan 8 di antaranya telah bergelar doktor, serta didukung oleh 4 dosen kontrak (PKWT). Kemajuan kelembagaan ini menjadi modal utama prodi untuk bertumbuh semakin solid, unggul, dan relevan dengan dinamika global.</p>
<p><strong>Menghadirkan Perspektif Baru: Seminar Akademik Nasional</strong></p>
<p>Perayaan dua dekade ini tidak hanya diisi dengan seremoni pemotongan tumpeng, tetapi juga diisi dengan Seminar Akademik yang menghadirkan pembicara dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia. Seminar dibagi menjadi dua sesi utama:</p>
<p>Sesi 1 (Linguistik, Pengajaran, dan Penerjemahan): Menghadirkan Achmad Rio Dessiar, Ph.D. (UGM) yang membahas perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam teknologi penerjemahan; Fitri Meutia, Ph.D. (UNAS) yang mengenalkan model integrasi AI (seperti ChatGPT dan Gemini) pada pembelajaran bahasa Korea menengah; serta Risa Triarisanti, S.Pd., M.Pd. (UPI) yang membagikan capaian dan kolaborasi kelembagaan selama sebelas tahun pendidikan bahasa Korea di UPI. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Fadhila Hasby, M.A.</p>
<p>Sesi 2 (Kajian Studi Korea): Menampilkan Getar Hati, Ph.D. (FISIP UI) yang membagikan pengalamannya dalam membangun platform Korea-Indonesia Connection (KIC); Dian Novikrisna, S.Sos., M.I.S. (BINUS University) yang mengulas posisi diplomatik Korea Selatan sebagai kekuatan menengah (middle power); serta Euis Sulastri, Ph.D. (UI) yang memaparkan langkah strategis pengembangan jejaring kemitraan akademik nasional dan internasional. Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Rostineu, M.A.</p>
<p><strong>Inspirasi dari Alumni: Menjembatani Kampus dan Dunia Kerja</strong></p>
<p>Sesi siang diisi dengan Talkshow Alumni bertema &#8220;Jejak Lulusan Studi Korea: Dari Kampus ke Dunia Profesional&#8221; yang dimoderatori oleh Eva Latifah, Ph.D. Sesi interaktif ini menghadirkan tiga alumni sukses dari latar belakang industri yang berbeda, yaitu Silvi Fitri Ayu (Angkatan 2006, Tenaga Ahli Komisi II DPR RI &amp; Analis Kebijakan Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan), Tania Triputri (Angkatan 2009, Pendiri dan Direktur TNT Translation), serta Vania Istamitra (Angkatan 2019, Head of Business Support di VIUUM Eyewear). Para alumni berbagi kisah perjalanan karier, tantangan profesional, serta bagaimana pemahaman bahasa dan budaya yang mereka dapatkan di FIB UI terbukti membuka peluang luar biasa di berbagai sektor strategis.</p>
<p>Dengan terselenggaranya perayaan 20 tahun ini, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi pusat pengembangan studi Korea terkemuka di Indonesia, menguatkan jejaring alumni lintas 20 angkatan, serta membuka seluas-luasnya kolaborasi inovatif baru demi kemajuan bangsa dan eratnya kemitraan strategis antara Indonesia dan Korea Selatan. [Red]</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_417,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1788312325/IMG-20260902-WA0002/IMG-20260902-WA0002.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FIB UI Dorong Kemitraan Strategis Universitas dan Media Melalui C-Hub</title>
		<link>https://www.depokpos.com/2026/08/fib-ui-dorong-kemitraan-strategis-universitas-dan-media-melalui-c-hub/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 05:40:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[FIB UI]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=103265</guid>

					<description><![CDATA[FIB UI mendorong penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan media melalui pengembangan Connectivity Hub (C-Hub).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><b>DEPOK</b> &#8211; Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) mendorong penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dan media melalui pengembangan Connectivity Hub (C-Hub).</p>
<p>Upaya tersebut menjadi salah satu fokus The 8th University, Government, Industry, and Community (UGIC) Forum bertajuk “Strengthening University-Media Partnerships for the C-Hub Initiative” yang digelar Kamis (27/8) di Gedung ITTC UI, Depok.</p>
<p>Forum UGIC merupakan wadah kolaborasi antara universitas, pemerintah, industri, dan masyarakat yang dikembangkan untuk mempertemukan berbagai perspektif dalam menjawab kebutuhan publik.</p>
<p>Pada penyelenggaraan kedelapan ini, perhatian secara khusus diarahkan pada penguatan keterlibatan sektor industri dan komunitas, terutama pers dan jejaring media sebagai mitra strategis FIB UI dan Universitas Indonesia.</p>
<p>Pembahasan tersebut menjadi semakin relevan seiring pengembangan Connectivity Hub (C-Hub), sebuah infrastruktur inovatif yang dirancang untuk menjembatani kepakaran akademik dengan kebutuhan masyarakat dan industri.</p>
<p>Melalui C-Hub, pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan publik yang lebih mudah diakses dan memberikan dampak lebih luas.</p>
<p>Eva Latifah, Ph.D., PIC UGIC C-Hub FIB UI sekaligus penanggung jawab kegiatan, menjelaskan bahwa keterlibatan media menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem C-Hub.</p>
<p>“Kami ingin C-Hub menjadi ruang yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat. Dalam proses itu, media bukan hanya menjadi saluran untuk menyampaikan informasi, tetapi mitra strategis yang membantu pengetahuan dari universitas menjadi lebih relevan, mudah dipahami, dan dapat menjangkau publik yang lebih luas,” ujar Eva.</p>
<p>Melalui forum ini, FIB UI juga membuka ruang untuk mendapatkan masukan langsung dari praktisi media, baik dari media cetak, daring, maupun penyiaran.</p>
<p>Dialog tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi bagi model kemitraan universitas-media yang bersifat timbal balik: perguruan tinggi menyediakan kepakaran dan sumber pengetahuan yang kredibel, sementara media membantu menerjemahkan serta memperluas jangkauan pengetahuan tersebut kepada publik.</p>
<p><strong>Memahami Cara Kerja Media di Era Digital</strong></p>
<p>Dalam paparannya mengenai “How to Engaged with Media”, M. Syakur Usman, S.S. mengangkat perubahan lanskap media dan pola konsumsi informasi masyarakat di era digital. Syakur, yang saat ini menjabat sebagai Chief Editor Getpost.id dan memiliki pengalaman lebih dari dua dekade di berbagai media, menekankan pentingnya institusi memahami kebutuhan dan dinamika kerja media sebelum membangun kemitraan.</p>
<p>Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan disrupsi digital dan semakin besarnya pengaruh media sosial terhadap distribusi informasi. Perspektif tersebut sejalan dengan arah pengembangan C-Hub yang tidak menempatkan media semata-mata sebagai kanal publikasi, tetapi sebagai mitra dalam ekosistem produksi dan distribusi pengetahuan.</p>
<p>Kolaborasi yang dibangun diharapkan memungkinkan akademisi memahami kebutuhan publik melalui perspektif media, sekaligus memberikan akses yang lebih baik bagi media terhadap pengetahuan, penelitian, dan kepakaran yang dimiliki universitas.</p>
<p>Syakur juga menekankan bahwa membangun hubungan dengan media membutuhkan komunikasi yang berkelanjutan. Institusi perlu memahami kebutuhan jurnalis dan kebijakan redaksi, sekaligus memastikan informasi yang disampaikan memiliki nilai berita.</p>
<p>Relasi yang positif dengan jurnalis, dukungan press release dan press kit yang memadai, serta media gathering dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan tersebut.</p>
<p><strong>Dari Publikasi Menuju Kemitraan Strategis</strong></p>
<p>Sementara itu, Emir Chairullah, Ph.D., dalam paparannya “How Universities Engage with Media and Corporations”, membawa diskusi lebih jauh dengan melihat keterlibatan media dan korporasi sebagai bagian dari kemitraan strategis universitas untuk mendukung pendidikan, penelitian, dan inovasi.</p>
<p>Dalam hubungannya dengan media, universitas memiliki berbagai bentuk keterlibatan yang dapat dikembangkan, tidak terbatas pada siaran pers.</p>
<p>Kolaborasi dapat mencakup media briefing, penyediaan komentar ahli untuk pemberitaan, komunikasi melalui media sosial, diseminasi hasil penelitian, hingga kampanye edukasi publik.</p>
<p>Menurut Emir, keterlibatan eksternal dapat memperluas visibilitas dan dampak penelitian universitas sekaligus membuka peluang pendanaan, inovasi, serta meningkatkan daya serap lulusan.</p>
<p>Pada saat yang sama, media dan perusahaan memperoleh akses terhadap kepakaran akademik, dukungan inovasi, dan talenta dari lingkungan universitas.</p>
<p>Karena itu, kemitraan yang kuat membutuhkan perjanjian yang transparan, strategi komunikasi yang jelas, penciptaan nilai bersama, tata kelola dan kepatuhan yang etis, serta evaluasi dampak secara berkala.</p>
<p>Prinsip-prinsip tersebut menjadi penting agar hubungan universitas, media, dan industri tidak bersifat transaksional, tetapi mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi seluruh pihak.</p>
<p>Melalui The 8th UGIC Forum, FIB UI berharap dapat merumuskan langkah-langkah kolaboratif yang lebih konkret bersama jejaring media untuk mendukung pengembangan C-Hub.</p>
<p>Ke depan, kemitraan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi universitas sebagai sumber pengetahuan yang kredibel sekaligus memastikan hasil penelitian dan kepakaran akademik dapat menjangkau masyarakat dalam bentuk yang relevan, mudah dipahami, dan memiliki dampak nyata.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://res.cloudinary.com/uttpsgry/images/c_scale,w_625,h_466,dpr_2/f_webp,q_auto:low/v1787892717/IMG-20260828-WA0005_copy_3328x2495_copy_832x623/IMG-20260828-WA0005_copy_3328x2495_copy_832x623.jpg?_i=AA" medium="image"></media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
