Bunda dan Ramadhan

Saya dilahirkan dari keluarga yang sederhana, kemudian dengan kebaikan-Nya saya dititipkan seorang bidadari cantik untuk menemani hidup saya dan memberikan saya banyak pelajaran berharga. Bahagia sekali, bukan? Tuhan memang romantis.

Matahari belum terbit, ayam pun belum berkokok. Namun, seorang bidadari cantik ini sudah bangun dari tidurnya untuk menyiapkan makanan sahur untuk anak-anaknya. Kemudian bidadari cantik membangunkan anak-anaknya untuk menyantap makanan dan menikmati indahnya sahur bersama.

Wajahnya selalu penuh senyuman saat melihat anak-anaknya makan dengan lahap, ikut tertawa saat anak-anaknya bersenda gurau, dan setelah itu ia tidak lupa mengingatkan anak-anaknya untuk salat subuh. Kemudian anak-anaknya kembali tidur, tetapi ia tidak. Pergi ke pasar adalah kegiatan selanjutnya, membeli sayuran, daging, dan segala kebutuhan lainnya.

BACA JUGA:  7 Amalan untuk Wanita Haid di Bulan Ramadhan

Sore hari pun tiba, bidadari cantik harus memasak untuk menyiapkan makanan berbuka. Makanan yang dibuat dengan penuh cinta dan disajikan tanpa pernah meminta bayaran. Wajahnya kembali tersenyum saat melihat makanan habis tak bersisa. Kemudian bidadari cantik dan anak-anaknya bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih.

Sepulangnya dari salat tarawih, bidadari cantik tidak langsung pulang ke rumah, ia bertadarus di masjid. “Satu bulan puasa, harus khatam alquran.” Ujar bidadari cantik penuh semangat. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, bidadari cantik harus pulang ke rumah untuk sekadar tidur menghilangkan sedikit rasa lelah. Wajahnya yang semakin keriput dan rambutnya yang kian memutih membuat hati menjadi sedih.

BACA JUGA:  7 Negara dengan Waktu Puasa Tercepat di Dunia

Siapa bidadari cantik tersebut? Ya, Bunda. Tidak ada orang yang mencintai kita setulus ibu, merawat kita setulus Bunda, membesarkan kita tanpa pernah meminta imbalan apapun. Ibu bukan hanya sekadar untuk dikagumi, tetapi Bunda harus kita hormati, kita cintai, dan kita sayangi.

Bunda, sosok yang tidak akan pernah terganti. Senyum yang tulus tidak akan pernah kita dapatkan dari siapa pun, kecuali dari seorang ibu. Seburuk apapun kondisi kita, Bunda selalu menerima. Tidak pernah Bunda mengajarkan kita menjadi seorang pendendam, selalu mengajarkan bagaimana caranya menjadi orang baik.

BACA JUGA:  Sosok Dibalik Kegembiraan Ramadan

Nabi SAW pernah bersabda, “Hendaklah engkau berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.” Ibu adalah sosok terbaik yang diciptakan Tuhan, tidak ada alasan sedikit pun untuk kita tidak berbakti kepadanya. Ibu, sosok yang paling dekat dengan kita karena letaknya ada di lubuk hati terdalam.

Bunda, terima kasih untuk segala cinta dan kasih sayangmu terhadap anak-anakmu, terima kasih sudah dengan tulus merawat dan membesarkan anak-anakmu, terima kasih untuk banyak waktu yang telah engkau lewati bersama anak-anakmu, dan terima kasih untuk segalanya. Bunda, saya mencintaimu dari dulu, kini, hingga nanti.

 

Ditulis oleh Tasha Rainita Pratiwi, mahasiswi PNJ

Komentar

Berita lainnya