Pendidikan Karakter Sebagai Basis Revolusi Mental

Oleh: Fika Suherlina, Mahasiswi UNTIRTA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Di dunia pendidikan, revolusi mental ditekankan pada pembentukan karakter serta pengembangan kepribadian yang dapat membentuk jati diri bangsa. Maka tidaklah berlebihan bila kita menyebut guru adalah kunci revolusi mental. Untuk itu tanggungjawab seorang guru semakin bertambah untuk ikut membentuk jati diri bangsa melalui peserta didiknya dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama mestilah diberdayakan kembali. Sebagaimana yang dinyatakan Philips’ bahwa keluarga hendaknya menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang.

Mahatma Gandi menyatakan, “Segala sesuatunya tergantung pada mental atau karakter”. Mau maju atau mundur, mau berhasil atau gagal, dan sejenisnya “lose or win” tergantung pada mental. John P. Kotter dan Dan S. Cohen (2014) dalam bukunya “The Heart of Change” menyatakan hal yang sama bahwa jantung perubahan bukan berada dalam pikiran, melainkan pada mental, yakni: “Sikap atau Perasaan”. Membentuk generasi yang kreatif dan berintelektual menjadi latar belakang diwujudkannya revolusi mental bangsa. Saat ini di era modernisasi teknologi siswa yang masuk dalam sekolah, pemikirannya terpenjarakan oleh doktrin-doktrin modern dan neoliberal yang menghendaki kesuksesan hidup ala kaum neolib.

Hal ini didasari pada asumsi bahwa di sepanjang kehidupannya,  manusia akan selalu dihadapkan pada masalah-masalah, rintangan-rintangan dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai dalam kehidupan ini. Prinsip belajar sepanjang hayat ini sejalan dengan empat pilar pendidikan universal, yaitu: (1) learning to know, yang berarti juga learning to learn; (2) learning to do; (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Para siswa diberikan kompetensi yang sekiranya dibutuhkan oleh dunia industri atau dunia kerja dalam hal ini pendidikan diarahkan tunduk pada kemauan pasar. Jadilah sekolah sebagai lembaga yang mensuplai tenaga kerja untuk dunia industri/ dunia kerja hal tersebut terlepas dari tujuan pendidikan nasional dalam pendidikan karakter yang sesungguhnya. Menurut Maslow secara psikologisnya revolusi mental adalah perombakan kejiwaan seseorang manusia dari keras kepala, menyeleweng, menyiksa orang lainnya menjadi manusia yang lebih baik, terget perombakan adalah terciptanya manusia yang memiliki tujuan hidup yang jelas, konsep diri dan aktualisasi diri yang baik, koordinasi antara segenap potensi dengan usaha-usahanya, regulasi diri, integritas kepribadian, dan batin yang tenang. (Jurnal Nanda Nursyah Alam. Nilai-nilai revolusi mental dan implikasinya terhadap pembentukan kepribadian siswa.2017.yogyakarta)

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 (UU Nomor 20 Tahun 2003) menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

BACA JUGA:  OPINI: Pilpres 2019, Mitos atau Realitas?

Menurut Wattimena, makna Revolusi yaitu perubahan yang cepat, mendasar dan menyeluruh. Ia bisa terjadi di level sosial dan politik, tetapi juga bisa terjadi di level pribadi dan sekarang pendidikan. di dalam bukunya ia menyanding filsafat dengan revolusi dengan selalu mempertanyakan suatu hal hingga kelapisan terdalam dan mempertimbangkan apakah sesuatu yang dihasilkan nanti sudah tepat atau belum dengan titik kebenaran yang hakiki. (Jurnal Nanda Nursyah Alam. Nilai-nilai revolusi mental dan implikasinya terhadap pembentukan kepribadian siswa.2017.yogyakarta)

Suatu tantangan dalam dunia pendidikan Indonesia  diawali dari pembentukan karakter  mulai dari yang sederhana, misalnya masalah membuang sampah sembarangan, Sebagian orang beranggapan bahwa hal ini terjadi karena manusia memiliki rasa egois permasalahan mentalitas lainnya yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan dan kejahatan seksual. Hal ini sinkron dengan apa yang menjadi sasaran dari revolusi mental di era kini. Perubahan orientasi pendidikan tersebut mengarah pada tujuan pendidikan nasional yang merupakan rumusan mengenai kualitas manusia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Sehingga rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Ada beberapa hal pokok yang menjadi sebuah keberhasilan atau kegagalan dalam pendidikan karakter dan ini menjadi sebuah tantangan pendidik untuk terus berusaha memberikan yang terbaik untuk peserta didik.

BACA JUGA:  OPINI: Quick Count dan Akal Sehat

Pertama kondisi keluarga dan sekitar lingkungan karna anak biasa lebih lama tinggal dengan keluarga dan orang sekelilingnya saat dia tidak disekolah dan lingkungan tempat bermain menjadi salah satu acuan yang harus diperhatikan. Kedua sistem pendidikan di sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lebih berorientasi pada aspek akademik semata tanpa menyediakan porsi semestinya dalam pengembangan karakter anak didik melalui pendidikan yang bersifat ahli dibidangnya meiliki soft skills, yakni guru dan tenaga kependidikan telah terbentuk kuat bahwa kualitas seorang anak didik itu identik dengan kepandaian akademiknya. Ketiga kecakapan guru masih terbatas dalam meningkatkan kualitas soft skills anak didik. Peranan guru dalam sistem pendidikan kita sesungguhnya amat luar biasa penting, akan tetapi perhatian pemerintah terhadap pendidikan guru belum memadai kecuali melihatnya dari peningkatan kesejahteraan guru semata.

BACA JUGA:  OPINI: Quick Count dan Akal Sehat

Sekolah sendiri merupakan Institusi yang memiliki tugas penting dalam rangka meningkatkan informasi dan tekhnologi siswa. namun disisi lain sekolah juga memilki tugas dalam membentuk kapasitas bertanggung jawab siswa dan bijak dalam mengambil keputusan oleh sebab itu sekolah memerlukan disiplin yang tinggi. Dalam membentuk dan membangun karakter karena hal ini tidak mudah namun juga tidak akan sesulit yang dibayangkan. Jika semua dilakukan dengan konsisten. Dalam hal ini diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral menjadi sebuah kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Karakter menjadi sebuah identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan inilah kualitas seseorang diukur, sekolah harus menjadi penggerak utama dalam pendidikan yang bebas dimana pendidikan sebaiknya bersifat universal dan tidak memihak. Dengan demikian tujuan pendidikan efisiensi sosial pembentukan berwarganegaraan dan penciptaan manusia berkarakter bisa terwujud.

Komentar

Berita lainnya