Peduli Sungai di Hari Bumi

Oleh: Winda Sartika Purba, Statistisi Pertama Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Badan Pusat Statistik.

Setiap tahun, 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Tahun ini sudah memasuki ulangtahun ke 49. Awal mulai peringatan hari ini adalah adanya gerakan lingkungan modern tahun 1970, ditahun ini orang Amerika menghirup gas beracun secara besar-besaran melalui kendaraan sedan V8. Industri ini mengeluarkan asap dan lumpur tanpa resiko dan konsekuensi hukum. Bahkan saat itu polusi udara umumnya diterima sebagai aroma kemakmuran.

Ide peringatan Hari Bumi berasal dari senator AS dari Wisconsin, Gaylord Nelson, setelah menyaksikan kerusakan akibat tumpahan minyak besar-besaran tahun 1969 di Santa Barbara, California. Pada 22 April 1970, 20 juta orang Amerika turun ke jalan, taman, dan auditorium untuk berdemonstrasi untuk lingkungan yang sehat dan berkelanjutan dalam demonstrasi dari pantai ke pantai secara besar-besaran. Ribuan perguruan tinggi dan universitas mengorganisir protes terhadap kerusakan lingkungan.

BACA JUGA:  Hoaks Terjadi Akibat Rendahnya Budaya Literasi?

Pada saat itu mereka melakukan demonstrasi dari pantai ke pantai, bagaimana jika kita di Indonesia menyuarakan juga dari sungai ke sungai, melihat bagaimana kondisi sungai kita saat ini. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan pada tahun 2017 terdapat 84 sungai yang diukur kualitasnya dan hasilnya 38 kondisi cemar berat, 26 cemar sedang- cemar berat, dan 11 cemar sedang. Penyebab pencemaran ini berupa limbah dari pabrik dan sampah yang dibuang keperairan.

Secara peraturan limbah pabrik seharusnya diolah terlebih agar tidak menimbulkan polusi kemudian dibuang, namun yang sering terjadi adalah pabrik membuang langsung keperairan tanpa mengolahnya. Selain itu perilaku membuang sampah ke perairan bukan hal yang jarang ditemukan.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Ketahanan Sosial (Susenas Modul Hansos) 2017 oleh BPS, menunjukkan bahwa terdapat 10,5 persen rumah tangga membuang sampah ke sungai/got/selokan. Angka ini menunjukkan penurunan dari tahun 2014 dalam survey yang sama, terdapat 11,51 persen rumah tangga yang membuang sampah ke laut/sungai/got.

BACA JUGA:  Akankah Eksistensi Manusia Tergantikan oleh Adanya Kecerdasan Buatan?

Peringatan Hari Bumi seharusnya bisa dijadikan momentum untuk merubah perilaku, khususnya cara membuang sampah. Data Jambeck (2015) seharusnya terus menjadi peringatan buat Indonesia, yang menyatakan Indonesia berada diperingkat kedua penghasil sampah plastik ke laut.

Siapa sebenarnya yang bertanggungjawab terhadap masalah lingkungan ini? Apakah pemerintah semata? Jika melihat dari sudut Pemerintah terlihat memberikan peran dalam penanganan sampah dengan merujuk pada penambahan jumlah Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS). Tahun 2014 Hasil pendataan Potensi Desa (PODES) menunjukkan terdapat 9.192 dari dari 82.190 desa atau hanya 11,18 persen desa yang memiliki fasilitas ini, kemudian meningkat menjadi 19,07 persen desa yang memiliki TPS (16.005 dari 83.931 desa).

Angka diatas mungkin mungkin terlihat kecil, tidak mencapai 20 persen desa yang memiliki TPS sehingga cara masyarakat memperlakukan sampahnya menjadi tidak baik untuk lingkungan seperti membuang keperairan.

BACA JUGA:  Pentingnya Memahami Hoax Sebagai Salah Satu Akar Perpecahan

Namun jika masyarakat sadar akan dampak sampah yang dibuang keperairan akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti banjir, kematian biota laut, dan berbagai penyakit dikarenakan hasil studi LIPI menyimpulkan, ada beberapa jenis plastik yang terurai sehingga ukurannya 0,2 milimeter, dan plastik yang ukurannya 0,2 milimeter sudah dikonsumsi ikan teri. Melihat hal ini peran tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, namun juga masyarakat yang turut ambil bagian dalam mempertanggungjawabkan masalah lingkungan ini.

Berperilaku peduli terhadap lingkungan tidak selalu dikarenakan untuk kepentingan kita semata agar terhindar dari musibah atau penyakit, melainkan tindakan yang menjaga lingkungan yang diatasnya kita hidup. Mari ambil tindakan dalam rangka memperingati Hari Bumi kali ini dengan tidak membuang sampah keperairan.

Komentar

Berita lainnya