Kurangnya Minat Baca Buku Pada Generasi Milenial

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas“ – Bung Hatta

Buku merupakan sebuah media yang sudah digunakan sejak zaman dahulu sebagai wadah untuk menuangkan pemahaman-pemahaman yang bersifat informatif (memberikan informasi) sekaligus sebagai media pembelajaran dan perluasan ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, buku tidak hanya menjadi media pembelajaran dan penyebaran informasi, namun, fungsi buku sudah berkembang menjadi media yang bersifat menghibur untuk pembacanya. Perubahan zaman juga mempengaruhi pola penulisan buku hingga menjadi sebuah hiburan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Hal ini tidak luput dari campur tangan para sastrawan terdahulu seperti Pramoedia Ananta Toer, Khaeril Anwar, dan Taufik Ismail.

Saat ini jenis tulisan pada sebuah buku sudah mulai beragam, tidak hanya berisi tulisan saja, namun juga disertakan gambar-gambar yang bervariasi. Sehingga dapat meningkatkan minat membaca. Kreasi pada buku dapat dinikmati oleh anak-anak hingga dewasa. Namun sangat disayangkan, dengan bervariasinya buku-buku bacaan, minat membaca pada generasi milenial (generasi 2000-an) justru menurun, dikarenakan semakin berkembangnya teknologi. Kini sumber informasi dan hiburan dapat diakses dengan mudah hanya dengan satu genggaman. Karena perkembangan teknologi itu lah, minat membaca buku semakin berkurang. Sebab mereka menganggap terlalu membosankan bila membaca melalui media cetak.

Perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari menjadi sebuah permasalahan di dalam hubungan bermasyarakat. Sifat apatis muncul karena semakin mudahnya mendapatkan akses apapun dengan bantuan teknologi, sehingga menjadi sebuah kebiasaan di masyarakat, dampak yang terjadi adalah kurangnya interaksi antar masyarakat. Namun perlu diketahui bahwa kemajuan teknologi tidak sepenuhnya bersifat negatif, masih terdapatnya masyarakat yang memanfaatkan teknologi untuk membaca artikel-artikel yang berada di fitur pada suatu teknologi seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan lainnya.

BACA JUGA:  OPINI: Quick Count dan Akal Sehat

Berdasarkan hasil penelitian dari Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan rendahnya tingkat literasi di Indonesia dibanding negara di dunia. Indonesia berada di urutan 62 dari 70 negara yang disurvei. Indonesia mengungguli Brazil, namun berada dibawah Yordania. Finlandia yang selama ini dipandang punya pendidikan mumpuni ternyata ada pada urutan ke 5. Vietnam berada pada urutan ke 8 dibawah Kanada dan diatas Hong Kong. Sedangkan, Inggris berada pada urutan ke 15 yang disusul oleh Jerman. Serta Amerika Serikat berada di urutan ke 25. Melihat dari data tersebut, tesis yang bisa kita tarik adalah masih rendahnya minat membaca di Indonesia.

Berkembangnya teknologi serta beragamnya fasilitas yang diberikan oleh pemerintah pusat ataupun daerah, ternyata menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya minat membaca buku di Indonesia, karena dengan tersedianya fasilitas yang cukup mewah serta syarat administrasi yang rumit membuat banyaknya masyarakat Indonesia terutama dari kalangan menengah kebawah merasa “enggan” untuk berada di tempat tersebut. Khususnya untuk masyarakat yang tidak memiliki latar belakang pendidikan, seperti anak-anak jalanan. Mereka menganggap bahwa tempat tersebut tidak cocok untuk mereka.

BACA JUGA:  OPINI: Pilpres 2019, Mitos atau Realitas?

Berdasarkan hal tersebut, banyak dari komunitas-komunitas yang bergerak di bidang sosial mencoba memfasilitasi kegiatan membaca untuk masyarakat menengah kebawah serta anak jalanan dengan tidak adanya syarat administrasi apapun. Dengan demikian, dapat terlihat bahwa minat membaca masyarakat Indonesia khususnya anak-anak jalanan ternyata cukup besar. Hal ini dapat menjadi antitesa yang menyatakan bahwa rendahnya minat membaca di Indonesia ternyata tidak benar, karena dengan menghilangkan syarat-syarat khusus tersebut masyarakat menjadi lebih aktif dalam melakukan kegiatan membaca.

Saat ini sudah banyak komunitas-komunitas di Indonesia yang bergerak di bidang pengembangan literasi untuk masyarakat. Hampir di setiap plosok daerah memiliki komunitas yang mempunyai kerja-kerja seperti itu. Strategi serta pola geraknya pun beragam, ada yang membangun taman baca masyarakat, ada juga yang membangun perpustakaan jalanan. Walau terdengar berbeda, tujuan dari kedua jenis komunitas ini tetaplah sama. Mereka ingin mengembangkan minat baca masyarakat khususnya masyarakat menengah kebawah serta anak anak jalanan.

Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah semakin banyak komunitas-komunitas yang membangun taman baca ataupun perpustakaan jalanan di Indonesia. Komunitas-komunitas tersebut ada yang terintegrasi langsung dengan pemerintah pusat ataupun daerah, dan ada pula yang bergerak tanpa adanya ikatan dengan pemerintah ataupun lembaga tertentu. Beberapa contoh komunitas literasi yang terintegrasi dengan pemerintah seperti Rumah Dunia, Perpustakaan Terapung, Limbah Pustaka, dan yang lainnya. Sedangkan, komunitas yang bergerak tanpa adanya ikatan apapun (independen) seperti Perpus Jalanan Serang Perjal Bandung, Perpus Jalanan Salatiga, dan yang lainnya. Komunitas-komunitas tersebut memiliki kesadaran yang sama, yaitu membangkitkan minat membaca khususnya anak-anak jalanan agar stigma negatif yang selama ini melekat pada anak-anak jalanan dapat hilang, sehingga mereka yang selama ini terpinggirkan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mereka untuk dapat diterima oleh masyarakat luas.

BACA JUGA:  Mahasiswa Unindra Optimalkan Proses Menulis Kreatif

Dari beberapa pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia khususnya masyarakat menengah kebawah masih memiliki hasrat untuk membaca. Stigma-stigma negatif yang muncul membuat masyarakat menengah kebawah ataupun anak jalanan merasa tidak sesuai jika berada ditempat tersebut. Sadar akan stigma yang menjadi lebel anak jalanan tersebut membuat komunitas-komunitas yang bergerak dibidang sosial melakukan kegiatan literasi. Selain itu juga, komunitas tersebut membuka donasi buku agar masyarakat menengah kebawah ataupun anak jalanan dapat membaca dirumah. Dengan demikian, hal tersebut dapat membantu untuk membangkitkan minat baca masyarakat menengah kebawah serta sekaligus menghilangkan stigma negatif pada anak jalanan.

Ditulis oleh: Putri Ajeng Nurbaeti, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Komentar

Berita lainnya