Dilan, Patutkah Jadi Idola?

Oleh: Najwa Nazahah, Aktivis Dakwah, Tinggal di Depok.

Berawal dari kisah seorang pemuda anak SMA, suka memakai jaket jeans belel atau jaket korea army, kalau ke sekolah cuma membawa satu buku tapi selalu dapat ranking pertama atau kedua. Ya Dilan, sang panglima tempur tokoh dari novel sekaligus film Dilan yang sedang booming saat ini.

Film layar kaca yang menarik lebih dari 6 juta penonton ini menjadi trending topic bagi para remaja, sehingga kalau tidak menontonnya dianggap ketinggalan zaman. Sosok Dilan ini tengah dicontoh atau diidolakan terutama para remaja. Contohnya saja banyak remaja putra atau putri mengikuti tren busana Dilan dan juga Dilan dijadikan tolak ukur keromantisan remaja sebagai pasangan atau mendapatkan pasangan.

Kalau kita bicara tentang idola, secara tidak langsung kita akan mengikuti baik luar ataupun dalam idola tersebut. Maka, sangat penting memilih idola yang tepat tidak hanya dari luar tapi juga secara keseluruhan, dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Tentu saja yang harus diikuti ialah orang yang dapat membawa kebaikan. Dan baik buruk sesuatu harus dilihat dari kacamata Islam.

BACA JUGA:  Cinta Bisa Juga Kepada Bangsa Sendiri

Apakah dalam kacamata Islam Dilan adalah sosok idola yang bisa dicontoh baik pikiran atau perilakunya? Kita bisa lihat, Dilan adalah sesosok yang terkenal sebagai panglima tempur di sekolah sekaligus ikut andil dalam geng motor. Legitimasi geng motor ini artinya kalau mau jadi cowok yang macho dan jantan dan disukai banyak wanita harus gabung geng motor. Waduh bahaya ya, kita tahu sendiri geng motor biasanya menimbulkan hal negatif, mulai dari kebut-kebutan, tawuran antar geng, tindakan kriminal tanpa pandang bulu mencuri di toko, hingga perlawanan terhadap aparat keamanan. Begitu pula, sosok Dilan sangat terkenal dengan puisi puitisnya, dari sinilah bibit-bibit penggombal bahkan sikapnya yang tidak sopan pada guru, tempramental dan masih banyak lagi.

BACA JUGA:  Hoaks Terjadi Akibat Rendahnya Budaya Literasi?

Maka, sebagai seorang Muslim, pastinya kita menilai dan mencari idola itu dari sudut pandang Islam. Sudah jelas sekali Allah SWT telah menjelaskannya dalam Al-Qur’an surah Al-Ahzaab ayat 21 yang artinya, ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Walau Rasulullah SAW sudah wafat, kita tetap bisa meneladani dan contoh Beliau secara keseluruhan. Mengapa kita harus mencontoh Rasul? Karena Allah SWT telah memerintahkan kita untuk mencontoh beliau dan Allah telah sendiri telah memuji keagungan, keluhuran budi pekerti Beliau dalam Al-Qur’an surah Al-Qalam ayat 4.

BACA JUGA:  Cinta Bisa Juga Kepada Bangsa Sendiri

Agar kita dapat mencontoh Rasul, kita harus mempunyai pemahaman Islam yang menyeluruh. Bagaimana kita dapat memahami Islam yang menyeluruh? Di sinilah perlunya kajian Muslim yang intensif dan terarah.

Demikianlah, semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita untuk mengambil teladan dan petunjuk yang baik dari Nabi SAW dalam Al-Qur’an, serta memuliakan kita dengan dikumpulkan di surga kelak bersama para nabi, para shidiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Aamiin.[]

Komentar

Berita lainnya