Ini Kata Orang Korea Terhadap Jilbab dan Puasa

Ilustrasi. (Istimewa)

Agama islam bukanlah agama umum yang dianut oleh masyarakat Korea. Sehingga jarang sekali mereka mengetahui tentang puasa dan pemahamannya pun tidak dalam.

Lalu bagaimana pendapat mereka ketika ditanyai tentang puasa dan jilbab?

Berikut pendapat mereka seperti yang dikutip dari youtube channel @KoreaRoemit milik Jang Hansol

Park Saerom, “Agama islam itu betul agama yang tidak nyaman, dari pandangan orang ketiga yang tidak tahu tentang islam. Tetapi justru tekad atau kemauannya itu merupakan sesuatu yang perlu dipelajari oleh orang-orang jaman sekarang. Orang-orang jaman sekarang hanya mencari kenyamanan, jadi masa Ramadhan adalah waktu dimana orang belajar untuk mengontrol diri. Itu sangat penting, dan dengan itupun kita bisa belajar untuk merasa berterimakasih dengan apa yang kita miliki.”

BACA JUGA:  Hedonisme? Katakan No!

Kim Jaenam,“Saya merasa sangat kagum atau respect, karena bisa menaati agama sampai segitunya. Ini bisa saja dipandang buruk, apalagi ini kan tidak bisa ikut-ikutan. Harus memiliki kemauan dan hati yang tulus untuk menaati. Saya merasa itu sangat keren dimana orang-orang bisa menaati agamanya dengan hati yang tulus seperti itu.

BACA JUGA:  Hedonisme? Katakan No!

Lee Miso, “kalau saya kurang tahu, kalau harus sampai seperti itu. Kan kalau sudah selesai puasa bisa makan banyak lagi. Nanti kalau sudah selesai puasa kan makan lagi jadi berputar lagi gitu, memang tidak bisa ya kalau mengontrol dirinya sedikit-sedikit?”

Park Saerom, “Jilbab itu kan meski panas harus tetap dipakai kan ya? Jadi kalau melihat seseorang mengenakan jilbab, saya berfikir apakah orang tersebut bisa mengalami sedikit ketidaknyamanan? Karena orang tersebut terlahir atau beragama islam.”

BACA JUGA:  Hedonisme? Katakan No!

Lee Miso, “Hmm, kan ini tidak terlalu umum di korea, jadi kalau bertemu mereka saya jadi berfikir, harus ditutup semua seperti itu ya memangnya?”

Kim Jaenam, “Kalau saya sih nggak papa, ya ok-ok aja nggak ada pandangan khusus .”

Alasan dibalik pembuatan video ini karena dulu Jang Hansol merasa ternyata banyak orang indonesia yang memahami orang korea sedikit salah atau sedikit berbeda dengan faktanya. (Luthfiya Rifqoh)

 

Komentar

Berita lainnya