Ekonomi Kreatif dan Perkembangannya di Indonesia

Ekonomi Kreatif adalah sebuah konsep yang menempatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama dalam menggerakkan ekonomi. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian seputar Ekonomi Kreatif dan menjadikan Ekonomi Kreatif model utama pengembangan ekonomi.

Dilihat dari data ekonomi kreatif yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Bekraf secara perlahan mampu mengakselerasi ekonomi kreatif nasional. Tetapi sudah mulai terasa perkembangannya yaitu ekonomi kreatif diukur bahwa kontribusi kepada PDB naik signifikan

Kontribusi Ekonomi Kreatif Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi ekonomi kreatif 2016 menunjukan ada peningkatan dari sisi PDB sektor ekonomi kreatif.

Hasil data statistik ekonomi kreatif 2016 menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2010 hingga 2015, besaran PDB ekonomi kreatif naik dari 525,96 triliun pada 2010 dan menjadi 852,24 triliun pada 2015 atau meningkat rata-rata 10,14 persen per tahun.

Sedangkan tiga negara tujuan ekspor komoditi ekonomi kreatif terbesar pada tahun 2015 adalah Amerika Serikat 31,72 persen kemudian Jepang 6,74 persen, dan Taiwan 4,99 persen.

BACA JUGA:  Ketahui Cara Aman Melakukan Pinjaman Online

Untuk sektor tenaga kerja ekonomi kreatif 2010 hingga 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 2,15 persen, dimana jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2015 sebanyak 15,9 juta orang.

Menurut Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), Triawan Munaf ada tiga sektor, pertama fashion, kuliner dan crafts (kerajinan tangan), itu sudah besar dan akan di akselerasi serta ada lagi yang menjadi prioritas mau dikembangkan adalah games, aplikasi, music serta film
Selain tiga sektor itu, Bekraf juga terus berupaya meningkatkan kesadaran para pemangku kepentingan untuk menyadari betapa pentingnya upaya bersama mendorong sektor ekonomi kreatif lain termasuk sub-sektor film, animasi dan video, desain produk, desain komunikasi visual, televisi, radio, musik dan penerbitan yang diharapkan ke depannya akan menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional Indonesia.

Fashion, Kuliner dan kerajinan mungkin bisa jadi industri yang sudah cukup lama tumbuh dan berkembang di Indonesia dan baru akhir-akhir ini mendapatkan boosting dari teknologi yang semakin berkembang yang etiap pelaku di ketiga industri itu seperti mendapat lahan baru.

BACA JUGA:  Anterin Tawarkan Program Baru Kepada Pengemudi dan Pelanggan

Menurut saya perkembangan yang bisa dirasakan tidak hanya di ketiga industri itu. Coba perhatikan, travel blogger dan iklan promo di aplikasi travel sekarang punya peran yang vital untuk memajukan industri pariwisata di berbagai daerah. Kalau mau treveling, dulu orang mengetahuinya dari radio, koran, selebaran dan media cetak lainnya. Di zaman sekarang, lebih sering langsung googling, baca blog, atau melihat promo lewat iklan di aplikasi.

Bukan lagi secara tidak langsung, travel bloggers dan aplikasi treveling sudah langsung bersumbangsih pada perkembangan ekonomi Indonesia. Menurut saya mereka juga sudah termasuk ke dalam bagian dari Industri Kreatif dan Eknomoi Kreatif Negeri ini.

Coba lihat juga bagaimana perubahan iklan dari yang dulu zamannya, selalu di media-media massa populer menggunakan talent-talent public figure. Sekarang memang masih ada tapi ketika dilihat lagi, blogger juga tidak kalah. Mereka mendapatkan peluang juga untuk bisa mengiklankan berbagai macam hal. Mulai dari barang-barang keperluan sehari-hari serupa smartphone terbaru sampai ke gaya hidup.

BACA JUGA:  Menjual Lebih Mudah dan Menguntungkan di Situs Marketplace?

Untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu, tidak selalu sebagai blogger harus punya wajah ganteng atau cantik. Tapi bisa juga dari seberapa kreatif kita bisa menuliskan produk-produk yang mau diiklankan. Menulis dengan soft selling sampai menggunakan teknik-teknik SEO agar tulisan bisa muncul di halaman pencarian Google sehingga produk yang diiklankan mendapatkan eksposure di ranah internet. Bukankah ini juga termasuk ke dalam ranah industri kreatif

Belum lagi ketika kita bicara tentang penerbitan buku. Zaman dulu untuk bisa menerbitkan buku membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Harus kenal dengan percetakan dan lain sebagainya dan seterusnya. Dizaman sekarang, banyak yang sudah membuat wadah untuk bisa melakukan self publishing. Semakin banyak orang yang bisa menerbitkan hasil pikirannya menjadi buku tanpa mengeluarkan banyak biaya. (Nur Uswatin Hasanah)

Comments

comments

Komentar

News Feed