7 Risiko Investasi yang Harus Diwaspadai

Ilustrasi. (Image: Shutter Stock)

Investasi merupakan cara yang dilakukan untuk meningkatkan nilai uang atau aset yang dimiliki. Dengan berinvestasi, seorang investor mengharapkan pengembalian yang menguntungkan. Tidak ada investor yang berharap mengalami kerugian. Namun demikian perlu dipahami bahwa setiap pilihan investasi tetap mengandung resiko. Tidak selamanya rencana investasi berjalan sesuai rencana.

Pada saat akan melakukan investasi tentunya melakukan perhitungan secara matang merupakan bagian yang sangat penting, terutama menganalisis lebih mendalam terhadap risiko investasi yang akan terjadi. Dalam beberapa kasus investasi yang merugi kebanyakan berasal dari analisis risiko yang terkadang meleset dari analisis atau kurang matangnya memperhitungkan risiko.

Secara konseptual, semakin besar nilai investasi yang ditanam maka semakin besar nilai risiko yang akan terjadi, atau sebaliknya semakin kecil nilai investasi maka semakin kecil risiko yang akan diterima. Tetapi studi mengimplikasikan bahwa besar kecilnya risiko suatu investasi tidak berhubungan secara signifikan dengan besarnya nilai investasi, tetapi berhubungan dengan seberapa serius investor menganalisis atau mengelola risiko yang dikenal dengan manajemen risiko investasi.

Secara spesifik manajemen risiko investasi dibedakan menjadi dua, yaitu untuk investasi pada financial asset dan investasi pada real asset, Investasi pada financial asset di lakukan di pasar uang, misalnya berupa sertifikat deposito, commercial paper, Surat berharga pasar uang (SBPU), dan lainnya. Investasi juga dapat dilakukan di pasar Modal, misalnya berupa saham, obligasi, warrant dan yang lainnya. Sedangkan investasi pada real asset dapat dilakukan dengan pembelian aset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, perkebunan, dan yang lainnya.

BACA JUGA:  Bluebird Luncurkan Armada Terbaru Mobil Bertenaga Listrik

Dihimpun dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa resiko investasi yang sering terjadi yaitu:

Resiko Likuiditas

Investasi yang likuid artinya investasi tersebut mudah dicairkan menjadi uang tunai atau kas di bank. Resiko ini penting dipertimbangkan jika Anda sebagai investor kemungkinan ingin mencairkan investasi dengan cepat. Investasi seperti saham, reksadana, dan deposito tergolong memiliki resiko likuiditas rendah karena mudah dicairkan.

Sementara pilihan investasi seperti properti memiliki resiko likuiditas lebih tinggi karena rumah atau properti tidak selalu mudah dijual bila Anda membutuhkan dana cepat. Dan risiko likuiditas juga dapat didefinisikan sebagai seberapa mudah sebuah efek dapat dijual pada atau mendekati nilai wajarnya tergantung pada volume yang diperdagangkan di bursa.

Resiko Volatilitas

Resiko ini berkaitan dengan perubahan harga atau nilai investasi. Pilihan investasi (berbasis) sahammemiliki pergerakan harga yang cukup cepat, bahkan dalam hitungan menit sekalipun seorang bisa untung ataupun rugi yang cukup besar. Berbeda dengan investasi reksadana yang tidak terlalu aktif perubahan harganya atau investasi berbasis hutang yang cenderung tidak berubah.

BACA JUGA:  Creator Fest 2019, Ekspresikan Makna Uang Melalui Karya Seni

Resiko Suku Bunga

Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) secara rutin menetapkan tingkat suku bunga yang menjadi acuan perbankan dalam menetapkan suku bunga, termasuk suku bunga deposito. Bila BI menetapkan suku bunga sebesar 4,75%, maka pilihan investasi di deposito sepertinya tidak terlalu menarik, apalagi bunga deposito masih dikenai pajak 20%. Bila suku bunga tidak terlalu baik, pertimbangkan untuk memilih jenis investasi lain yang berpotensi memberi hasil lebih tinggi.

Resiko Inflasi

Inflasi merupakan gambaran rata-rata kenaikan harga barang dan jasa dalam suatu periode tertentu. Kenaikan harga sekaligus menunjukkan penurunan nilai uang. Karena itu, inflasi sebaiknya menjadi salah satu rujukan dalam menentukan jenis investasi. Pastikan investasi yang Anda pilih berpeluang memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan tingkat inflasi.

Resiko Gagal Bayar

Resiko ini umumnya ditemukan pada investasi dalam usaha atau bisnis tertentu. Karena itu Anda sebagai pemilik modal harus berhati-hati benar bila  ditawari peluang kerjasama bisnis. Teliti secara mendalam, dan jika perlu mintalah pendapat dari pihak yang Anda pandang kompeten.

BACA JUGA:  Berkat Program Miss Cimory, Ibu Rumah Tangga ini Raup Belasan Juta Rupiah dari Hasil Jual Yoghurt

Resiko Penipuan

Kebanyakan penipuan investasi yang terjadi dan marak diberitakan belakangan ini sebetulnya bukanlah investasi atau bisnis dalam arti sebenarnya. Yang terjadi adalah masyarakat tidak meluangkan waktu untuk mempelajari informasi bisnis / investasi yang ditawarkan. Janji-janji keuntungan yang menggiurkan dan resiko yang sepertinya tidak ada, membuat banyak orang terpedaya.

Sekali lagi, setiap pilihan investasi selalu ada resikonya. Bila terdengar terlalu muluk, bisa jadi tawaran itu adalah bisnis / investasi yang sangat beresiko. Lebih baik alihkan investasi Anda ke pilihan investasi yang lebih aman dan resmi.

Risiko Inflasi

Risiko tingkat inflasi adalah risiko potensi kerugian daya beli investasi Anda karena terjadinya kenaikan rata-rata harga konsums

Sehingga sebagai investor harus siap untuk menghadapi risiko-risiko diatas karena investasi dan risiko adalah sisi yang berseberangan dari satu koin. Untuk memitigasi risiko-risiko ini investor terutama institusi sebaiknya memiliki panduan berupa standar operating procedure (SOP) yang jelas dalam berinvestasi maupun SOP dalam manajemen risiko sehingga bila langkah mitigasi lanjut seperti misalnya cut loss diperlukan tidak melanggar prosedur maupun peraturan yang ada dan apat dimengerti oleh para pemangku kepentingan. (Lisa Andrina)

Referensi:
https://howmoneyindonesia.com/ber-investasi/resiko-investasi/
http://www.cimb-principal.co.id/Investor’[email protected]_Risks_of_Investing_in_Mutual_Funds.aspx
https://blog.amartha.com/tag/pengertian-resiko-investasi/

Komentar

Berita lainnya