10 Years Challenge Pengelolaan Sampah

 

Bulan Februari identik dengan bulan kasih sayang. Namun di Indonesia, bulan Februari tidak hanya identik sebagai bulan kasih sayang, tetapi juga bulannya peduli sampah nasional. Ya, semenjak tahun 2006, Pemerintah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Hal ini dilakukan Pemerintah karena hingga saat ini pengelolaan sampah masih dirasakan bermasalah dan belum optimal. Pengelolaan sampah perlu dilakukan dengan baik dan secara terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan aman bagi lingkungan. Tahun 2019 ini, HPSN mengusung tema “Kelola Sampah Hidup Bersih, Sehat, dan Bernilai”.

Beberapa kegiatan telah dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam memperingati HPSN ini, salah satunya di Kota Cirebon. Pada tanggal 15 Februari 2019 telah dilakukan Aksi Bersih Pantai atau Coastal Clean Up (CCU), tepatnya di Pantai Kejawanan Cirebon. Dalam Aksi tersebut, sekitar 1.000 orang dari kalangan pelajar, birokrat, komunitas, dan masyarakat turut berpartisipasi, termasuk Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Para partisipan melakukan bersih-bersih pantai dengan cara mengumpulkan sampah yang ada di pantai. Sampah yang dikumpulkan tersebut akan ditimbang untuk diketahui beratnya, lalu dipilah sesuai jenisnya. Selanjutnya, sampah akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk dikelola.

Pengelolaan Sampah

Apa sih pengelolaan sampah itu? Dan bagaimana pengelolaan sampah yang baik agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan aman bagi lingkungan?

BACA JUGA:  Eksploitasi Tubuh Wanita di Era 4.0

Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah, tertuang bahwa pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan sampah. Pengurangan sampah meliputi kegiatan antara lain, pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan/atau pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi: pemilahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan sifat sampah; pengumpulan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau pengelolaan sampah terpadu; pengangkutan dalam sampah ke tempat pemrosesan akhir, pengelolaan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah (residu) hasil pengolahan sebelumnya ke lingkungan secara alami.

Lalu bagaimana dengan pengelolaan sampah oleh masyarakat di Indonesia? Berdasarkan data Susenas Modul Ketahanan Sosial tahun 2017, kebiasaan rumah tangga di Indonesia dalam mengelola sampah masih banyak yang tidak ramah lingkungan. Rumah tangga yang membuang sampah dengan cara dibakar tercatat sebanyak 53,03 persen, dibuang ke sungai/got/selokan sebesar 4,98 persen, dibuang sembarangan ke tanah lapang, kebun, dll sebesar 2,67 persen, dan ditimbun/dikubur sebesar 18,07 persen. Sementara rumah tangga yang mengelola sampah dengan cara lebih ramah lingkungan relatif belum banyak, seperti membuang sampah dengan cara diangkut petugas sebesar 23,33 persen, dibuang ke TPS sebesar 11,79 persen, dibuat kompos/pupuk sebesar 0,57 persen, disetor ke bank sampah sebesar 0,45 persen, dan didaur ulang sebesar 0,11 persen.

BACA JUGA:  Pentingnya Memahami Hoax Sebagai Salah Satu Akar Perpecahan

Perilaku yang paling banyak dilakukan yaitu dengan cara dibakar. Pembakaran sampah yang dilakukan mungkin memang menyelesaikan masalah penumpukan sampah, namun pembakaran sampah justru akan menimbulkan polusi udara dan meningkatkan konsentrasi CO2 di atmosfer. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut akan menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca sehingga turut menyumbang terjadinya pemanasan global. Selain membuang sampah dengan cara dibakar, perlakuan sampah yang juga kurang baik terhadap lingkungan adalah menimbun/mengubur sampah, membuang sampah ke sungai/got/selokan, dan membuang sampah sembarangan. Perlakuan terhadap sampah seperti ini tentunya dapat memperburuk kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal, seperti menimbulkan polusi udara (bau), menimbulkan banjir akibat tertutupnya saluran got atau aliran sungai. Pengelolaan sampah yang tidak baik ini selain merusak lingkungan juga dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi masyarakat sekitar.

10 Years Challenge Pengelolaan Sampah

Pada akhir Januari 2019, di media sosial ramai beredar postingan foto yang membandingkan seseorang di tahun 2009 dan 2019, dan diberi tagar “10 years challenge”. Pada foto itu banyak terjadi banyak perubahan pada orang tersebut. Bagaimana tidak, 10 tahun bukan lah waktu yang sebentar. Apabila diibaratkan pada seorang anak, anak tersebut 10 tahun yang lalu bayi, dan saat ini telah sekolah kelas 4. Hal ini juga terjadi pada Pemerintah. Dalam 10 tahun, pemerintah telah banyak melakukan program-program dalam hal pengurangan sampah. Pada Potensi Desa (Podes) dapat terlihat data ketersediaan tempat penampungan sampah sementara (TPS). Dari data Podes tersebut, dapat dibandingkan data tahun 2008 dan tahun 2018, dimana selama 10 tahun terjadi peningkatan signifikan (hampir 2 kali) jumlah TPS di Indonesia. Tahun 2008, terdapat 8.105 desa yang memiliki TPS, dan 16.005 desa di tahun 2018. TPS tersebut tidak hanya yang disediakan oleh Pemerintah, tetapi juga yang dibikin oleh masyarakat sekitar. Sampah pada TPS tersebut nantinya akan dibawa ke tempat penampungan akhir (TPA).

BACA JUGA:  Hoaks Terjadi Akibat Rendahnya Budaya Literasi?

Apabila jumlah desa yang memiliki TPS ini dibandingkan dengan jumlah keseluruhan desa yang ada di Indonesia, sebenarnya masih sedikit desa yang memiliki TPS, yaitu hanya 10,75 persen di tahun 2008 dan 19,07 persen di tahun 2018. Jumlah yang masih sedkit ini bisa jadi pertimbangan pemerintah dalam membuat program-program yang sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan tersedianya TPS di tiap desa diharapkan dapat mengurangi perilaku masyarakat yang tidak ramah lingkungan dalam mengelola sampah.

 

Annisa Febriana Ayub, Statistisi di Subdirektorat Statistik Lingkungan Hidup, Badan Pusat Statistik

Komentar

Berita lainnya