Resensi Buku Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek

Oleh: Resti Fauziah

Judul : Perbankan Syariah: Prinsip, Praktik, dan Prospek
Penulis : Mervin K. Lewis dan Latifa M. Algaoud
Penerjemah : Burhan Subrata
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta

Pernyataan bahwa perbankan syariah merupakan sistem dalam dunia perbankan merupakan hal yang salah. Perbankan syariah sebenarnya telah ada dari jaman munculnya ajaran Islam oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam buku perbankan syariah, prinsip, praktik, dan prospek yang ditulis Mervin K. Lewis dan Latifa M. Algaoud yang telah diterjemahkan dari Islamic Banking oleh PT. Serambi Ilmu Semesta ini menjelaskan dengan gamblang mengenai kelahiran dan perkembangan perbankan syariah hingga saat ini terdapat 200 bank Islam yang tersebar di lima belahan benua. Afrika, Asia, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat.

Buku ini mengulas banyak pendapat para peneliti dan pemikir perbankan syariah, dengan begitu pembaca akan mendapatkan banyak pandangan dan pengetahuan tentang perbankan syariah, sehingga dapat memilih pendapat manakah yang paling sesuai mengenai sistem perbankan syariah.

Hal ini akan mendorong pembaca untuk menjadi kaya akan ilmu pengetahuan, dan sekaligus menutup pandangan kita dari penilaian subjektivitas terhadap suatu wacana sosial yang ada.

  • Elemen yang terlibat dalam perbankan Islam:
  • Tidak ada transaksi keuangan berbasis bunga (riba);
  • Semua aktivitas bisnis dan investasi dijalankan sesuai dengan ketentuan syariah (halal);
  • Semua jenis transaksi harus bebas dari unsur gharar (spekulasi yang tidak pasti dan tidak masuk akal);
  • Setiap bank Islam harus membayar zakat untuk kemudian didistribusikan kepada kelompok masyarakat yang berhak menerimanya (mustahik);
  • Semua aktivitas harus sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, dengan dewan syariah khusus harus bertindak sebagai penyelia dan memberikan nasihat kepada bank mengenai kepatuhan suatu transaksi.

Buku yang ditulis dalam delapan bab ini, dibuat sangat teratur mengikuti alur pemikiran Mervin dan Latifa. Dipaparkaan tidak hanya dengan mengolah perkembangan syariah dalam perekonomian dunia akan tetapi juga menghadirkan teori dan studi kasus melalui analisa-analisa yang mudah dipahami.

Perbankan syariah laama-lama menjelma menjadi perbankan yang banyak diterapkan di berbagai negara. Bukan hanya di negara Islam saja, sistem perbankan ini dijalankan. Di beberapa negara Eropa dan Amerika mulai dikembangkan sistem perbankan yang awalnya banyak mendapat kecaman karena dianggap bersifat fundamentalisme. Pada dasarnya, hal yang membedakan sistem perbankan syariah dan perbankan modern adalah gagasan prinsip keuangan pada bank-bank Islam yang berupa skema PLS (profit-and-loss-sharing).

Pada bank Islam, bunga ditiadakan. Namum, deposan diajak secara langsung untuk membangun hubungan kemitraan dengan bank. Mereka akan menjalankan usaha secara bersama sehingga jika terdapat keuntungan, maka hasil tersebut akan dibagi dan begitu pula jika terjadi kerugian, maka masing-masing akan menaggung kerugian yang ada. Ciri utama skema PLS adalah ketika bank mendorong para deposan menjadi pemegang saham. Hal ini terdapat dalam tiga sistem keuangan paling penting dalam perbankan syariah. Yakni Mudharabah, Musyarakah, dan Murabahah.

Pengusaha biasa disebut Mudharib, dalam sistem mudharabah memiliki peran ganda, sebagai wakil agen daan sekaligus menjadi mitra. Bagi-hasil keuntungan dan kerugian yang telah disepakati diawal perjanjian hanya memberikan wewenang bagi bank untuk mengawasi jalannya suatu proyek jangka pendek. Disini pemodal atau bank tidak akan bertanggung jawab atas keruhian diluar modal yang mereka percayakan. Ketika proyek tersebut mengalami kerugian, maka pihak bank hanya akan kehilangan modalnya, sedangkan mudharib menanggung kerugian dengan tidak mendapat hasil. Sistem mudharabah memang sangat sederhana, akan tetapi tetap merupakan sistem paling mendasar dalam prinsip keuangan Islam.

Dengan tujuan ingin menyebarkan pemilihan sumber daya produktif masyarakat, serta mengubah distribusi hasil produksi antara tenaga kerja dan modal, perbankan syariah melalui sistem musyarakah menawarkan kerjasama yang lebih mendala antara deposan dan bank. Kali ini, proyek yang dikerjakan biasanya berupa proyek jangka panjang dimana bank ikut serta dalam usaha tersebut di bawah kontrak PLS. Kedua belah pihak akan memiliki saham yang besarnya dinilai dari besarnya modal. Keuntungan dan kerugianpun telah ditetapkan sebelum suatu proyek dijalankan. Dalam sistem musyarakah, bank banyak berperan dalam bagian manajerial. Selain itu, sistem-sistem lain dalam perbankan syariah juga diulas secara tuntas dalam buku ini.

Akan tetapi di beberapa bagian, ditemukan kesalahan pengetikan dalam penyajian buku ini. Maka, sangat diharapkan setiap kali sebuah buku disusun dan akan diterbitkan, para penulis dan editor maupun penerjemah dapat mengecek kembali beberapa kali, sehingga pembaca dapat menikmati sebuah buku dengan sempurna.

Komentar

Berita lainnya