Minum Teh Setelah Makan Picu Anemia?

Teh merupakan minuman yang berasal dari daun (umumnya Cameillia sinensis) atau bunga yang dikeringkan lalu diseduh menggunakan air panas. Saat ini, teh merupakan minuman populer kedua setelah air. Terdapat sekitar 25 ribu cangkir teh dikonsumsi setiap detiknya di seluruh dunia, atau sekitar 2,16 juta cangkir per hari. Konsumsi teh di dunia sangat beragam. Di Inggris, teh umumnya dijual dalam bentuk kantong teh. Teh dianggap sebagai hidangan yang sangat penting, disajikan setiap saat, seperti saat menjamu tamu dan acara perayaan. Ada pula negara Jepang yang memiliki seremoni teh (cha-no-yu) atau “Chadou”, budaya tradisional Jepang dalam menikmati teh sambil meresapi filosofi dan prosedurnya. Selain kedua negara tersebut, konsumsi teh saat ini sudah semakin bervariasi. Teh diolah menjadi berbagai macam produk seperti bubble tea, milk tea, jelly tea, dan lainnya. Di Indonesia, konsumsi teh tidak kalah populer, mulai dari teh tubruk, teh dingin, teh dalam kemasan, dan sebagainya.

Setidaknya terdapat 4 jenis teh yaitu white tea, green tea, oolong tea dan black tea. Jenis teh dapat ditentukan dari cara daun teh segar diproses dan tingkat kontak teh dengan oksigen. Daun teh cenderung mudah layu dan teroksidasi apabila tidak segera dikeringkan. Oksidasi menyebabkan klorofil pecah dan daun teh menggelap sehingga melepaskan tanin. Selama oksidasi, daun teh mengalami reaksi kimia alami yang menghasilkan karakteristik warna dan rasa yang khas. Perbedaan jenis teh juga dapat dilihat dari kandungan fitokimianya. Senyawa kimia yang paling berperan penting pada daun teh segar dalam menentukan aroma dan rasa adalah polifenol, asam amino, enzim, pigmen, karbohidrat, metilxantin, mineral, senyawa volatil dan senyawa aromatik. Komponen-komponen ini mengalami perubahan selama pemrosesan daun teh untuk menghasilkan teh yang siap untuk dikemas atau diseduh.

Sekitar 30-40% komposisi daun teh merupakan polifenol. Terdapat sekitar 30.000 senyawa polifenol dalam teh. Flavonoid adalah kelompok polifenol yang paling penting dalam teh dan merupakan sumber antioksidan pada teh. Dalam kelompok flavonoid, terdapat flavanol atau disebut sebagai tannin. Kandungan polifenol pada teh berkhasiat dalam penurunan risiko penyakit kronis seperti kanker, penyakit jantung, dan diabetes.

BACA JUGA:  Perlukah Kafein untuk Menemani Rutinitas Kita?

Teh kaya akan antioksidan dan diklaim sebagai salah satu minuman yang berkhasiat untuk kesehatan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi teh dapat menghambat perkembangan kanker. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa konsumsi teh dapat mengurangi risiko penyakit jantung karena konsumsi teh dapat menurunkan kadar kolesterol jahat. Selain itu, kandungan kafein dan katekin pada teh dapat merangsang oksidasi lemak melalui sistem saraf simpatik, meningkatkan pengeluaran energi dan berpotensi mendukung penurunan berat badan dengan menangkal penurunan laju metabolisme yang dapat terjadi selama penurunan berat badan.

BACA JUGA:  Telalu Sering Ber-medsos? Ini Dampak Negatifnya

Meskipun konsumsi teh memiliki banyak manfaat, banyak yang mengklaim bahwa konsumsi teh bersamaan dengan makan memiliki dampak negatif. Salah satunya, teh dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga dapat menyebabkan terjadinya defisiensi zat besi. Hal ini dikaitkan dengan komponen-komponen yang terkandung pada teh. Namun, ternyata efek teh terhadap penyerapan zat besi sangatlah kecil, dikarenakan teh hanya menghambat penyerapan zat besi nonheme

Sebelum membahas lebih lanjut, mengapa zat besi menjadi penting? Zat besi merupakan salah satu mineral yang berperan penting di dalam tubuh, yaitu pada transportasi oksigen. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan tubuh cepat lelah, salah satunya dapat menyebabkan anemia. Zat besi dapat dibagi menjadi dua yaitu zat besi heme dan nonheme. Zat besi heme berasal dari hewan seperti daging merah, ikan, dan daging ayam, sedangkan zat besi non heme berasal dari tumbuhan seperti sayuran hijau dan kacang-kacangan.

Oksalat pada teh bersifat mengganggu penyerapan zat besi nonheme. Oksalat adalah senyawa yang berasal dari asam oksalat dan ditemukan dalam makanan seperti bayam, kangkung, kacang-kacangan, coklat, teh, stroberi dan rempah-rempah seperti kemangi, dan peterseli. Kandungan oksalat pada bayam menjelaskan mengapa zat besi dalam bayam tidak diserap.

BACA JUGA:  Benarkah Mendengarkan Musik Membuat Relax Perasaan?

Polifenol pada teh adalah penghambat utama penyerapan zat besi. Polifenol pada coklat Swedia dan teh tertentu menunjukkan kemampuan menghambat penyerapan zat besi paling kuat, dalam beberapa kasus hingga 90%. Minuman yang mengandung polifenol, seperti teh, mengurangi bioavailabilitas atau daya serap zat besi nonheme dengan pembentukan kompleks yang tidak larut. Fakta bahwa penyerapan zat besi dapat terhambat dengan konsumsi teh telah diakui selama bertahun-tahun dengan efek penghambatan terutama difasilitasi oleh sifat pengikatan zat besi yang ditandai dari senyawa fenolik yang mengandung gugus katekol dalam teh. Meskipun pandangan tradisional menyatakan bahwa polifenol hanya mempengaruhi penyerapan zat besi nonheme.

Oleh karena itu, efek konsumsi teh pada setiap orang berbeda-beda. Apabila seseorang cenderung lebih banyak mengonsumsi makanan sumber zat besi heme maka efek konsumsi teh dapat teratasi. Namun, apabila seseorang lebih banyak mengonsumsi makanan sumber zat besi nonheme, sebaiknya konsumsi teh dilakukan di waktu antara waktu makan, yaitu dua jam sebelum atau dua jam setelah makan, sehingga penyerapan zat besi tidak terhambat. Selain itu, konsumsi makanan yang mengandung vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi.

Oleh Aniza Rizky Aprilya – FKM UI

Komentar

Berita lainnya