Akankah Sungai Citarum Kembali Harum?

Sungai Citarum adalah sungai yang paling tercemar nomor 2 di dunia – Green Cross, 2013. (Foto: Reuters)

Oleh: Nabila Rachelyca F, mahasiswa Univesitas Indonesia.

“Beni hari ini memutuskan untuk tidak berangkat kerja. Sepatu yang biasa ia kenakan kini sedang tergantung rapi di dinding dapur miliknya. Dari sorot matanya rasa sakit itu tak dapat tertutupi. Kakinya melepuh usai terkena air Sungai Citarum yang meluap di belakang rumahhya. Suungai yang dulu tempat Beni bermain, kini penuh dengan sampah dan limbah berbahaya. Sungguh miris memang, namun begitulah faktanya”.

Setiap harinya, sekitar 2 juta ton sampah dari hasil kegiatan domestik, industri dan pertanian mencemari perairan dunia. PBB memperkirakan bahwa jumlah limbah cair yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai 1.500 km3, enam kali lebih banyak dari pada jumlah air yang terdapat di seluruh sungai di dunia(UN WWAP dalam Ross, 2008). 70% limbah industri di negara berkembang dibuang begitu saja ke badan air tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu hingga liimbah aman untuk dibuang ke badan air(UN Water dalam Ross, 2008). Hal ini tentunya akan menyebabkan badan air seperti sungai, danau, rawa, laut, dan samudera tercemar.

Terdapat sebanyak lebih dari 5.590 sungai yang mengalir di Indonesia dan Sungai Citarum adalah sungai yang paling tercemar nomor 2 di dunia(Green Cross, 2013). Jenis limbah yang mencemari Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang terbesar salah satunya adalah limbah cair industri sebanyak 349.000 ton per hari. Padahal sungai ini merupakan sumber air bersih bagi 80% warga DKI Jakarta dan juga mengairi 420.000 Ha sawah serta penghasil 1880 MW untuk Jawa dan Bali(Aminudin et al., 2012).

BACA JUGA:  Hari Tua Pekerja Tidak Pasti, Mendesak Revisi UU Dana Pensiun

Sebagai upaya dari pemerintah, maka terbentuklah dasar-dasar hukum terkait pengelolaan lingkungan. Dalam UU Nomor 32 tahun 2009 telah diatur terkait perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dijelaskan di BAB 10 bagian 3 pasal 69 bahwa dilarang melakukan pencemaran, membuang limbah benda berbahaya dan beracun (B3), dan memasukkan limbah ke media lingkungan hidup. Para pelaku tindakan tersebut akan dikenakan hukuman pidana berupa kurungan penjara dan denda ratusan juta hingga milaran rupiah. Hukuman pidana tersebut nantinya diharapkan dapat membuat para pelaku jera dan membuat calon pelaku lainnya berpikir ulang untuk melakukan tindakan yang serupa. Efek jera dapat timbul jikalau aturan yang telah dibuat oleh pemerintah dapat diterapkan dengan tegak setegak-tegaknya. Aturan hukum bisa tegak dengan adanya aparat yang tegas anti akan suap dan memiliki tinggi kualitas akan intergritas.

BACA JUGA:  Degradasi Moral Remaja Zaman Now

Melirik kepada permasalahan Sungai Citarum yang ada, beberapa solusi dapat lahir dari berbagai bidang sudut pandang. Secara hukum perlu adanya pengembangan dan penegakan yang nyata terkait tata aturan. Sebagai contoh konkrit dapat diterapkan dengan sangat tegas, denda bagi siapa saja yang terciduk baik sengaja ataupun tidak sengaja melakukan tindakan yang berpotensi merusak citra Sungai Citarum seperti membuang sampah dan limbah.

Selain itu penetapan Hari Sungai Nasional yang dapat memotivasi masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian kepada anak sejak dini terhadap sungai. Anak-anak dapat diajari sedini mungkin agar cinta terhadap lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai. Hari Sungai Nasional dapat menjadi sebuah gerakan nyata supaya setiap masyarakat dari berbagai generasi memiliki rasapeduli akan kelestarian dan kebersihan aliran sungai.

Masyarakat sebagai kelompok yang terdampak langsung dan hidup bersama dengan Sungai Citarum juga perlu untuk turut andil menangani permasalahan Sungai Citarum. Bahwa sejatinya masyarakat dapat berpastisipasi dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) baik secara perseorangan maupun melalui forum koordinasi. Bersama-sama dengan pemerintah menjaga DAS Citarum agar tetap asri dan lestari. Kemudian Bio Septic tankkarya mahasiswa ITB dapat menjadi solusi teknologi dalam menangani limbah domestik masyarakat sekitaran Sungai Citarum. Aplikasi penggunaannya cukup mudah dan biayanya juga murah. Sedangkan untuk pengolahan limbah industri, perlu adanya konsultasi kepada para ahli konsultan agar limbah yang dibuang aman bagi lingkungan serta biaya pengolahannya juga bisa ditekan.

BACA JUGA:  Filosofi Lompatan Dalam Hidup

Guliran dana juga perlu dilakukan untuk melakukan gebrakan penanganan Sungai Citarum. Diketahui pemerintah telah menyiapkan dana yang tak tanggung-tanggung guna merevitalisasi Sungai Citarum. Sekitar 200 triliun rupiah digelontorkan agar dapat menyelesaikan revitalisasi Sungai Citarum hingga tuntas.Pinjaman luar negeri turut mendanai rehabilitasi Sungai Citarum, salah satunya dalam program Integrated Citarum Water Resource Management Investment (ICWRMIP).Dikutip dari situs citarum.bappenas.go.id, proyek investasi pengelolaan sumber daya air Citarum secara terpadu ini bertujuan untuk memulihkan Sungai Citarum secara terpadu. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Asian Development Bank serta para pemangku kepentingan mempersiapkan program pemulihan yang dinamakan program ICWRMIP.Tujuannya untuk bersama-sama secara partisipatif mengelola dan menangani masalah wilayah Sungai Citarum dengan visi kerja sama pemerintah dengan masyarakat.

Komentar

Berita lainnya