Temu Ilmiah Unpak; Jadikan HOTS sebagai Model Pembelajaran di Era Digital


Temu Ilmiah Pascasarjana Universitas Paskuan (Unpak) yang bertajuk “Higher Order Thinking Skill (HOTS): Learning Model as A Medium of Thinking” (Foto: Dok. UNPAK)

Di tengah derasnya arus informasi di era digital dan sebagai antisipasi terhadap maraknya beriata bohong atau hoaks, dunia pendidikan diimbau untuk menekankan pada High Order Thinking Skill (HOTS) sebagai model pembelajaran. Hal ini ditegaskan dalam acara Temu Ilmiah Pascasarjana Universitas Paskuan (Unpak) yang bertajuk “Higher Order Thinking Skill (HOTS): Learning Model as A Medium of Thinking” dengan nara sumber Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd. (Rektor Unpak) pada Kamis, 13 Desember 2018 di Aula Pascasarjana Kampus Unpak Bogor.

Acara yang dihadiri oleh Prof. Dr. Ing. Soewarto Hardhienata (Direktur Pascasarjana Unpak), Dr. Widodo Sunaryo, MBA, S.Psi (Kaprodi S3 Manajemen Pensisikan Unpak) dan lebih dari 70 mahasiswa Program Doktor – S3 Unpak, Bibin Rubini, menegaskan pentingnya mengedepankan model belajar berbasis media berpikir di era digital dan era revolusi industri 4.0. HOTS sebagai model pembelajaran bertumpu pada kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Oeh karena itu, keterampilan berpikir seseorang menjadi kata kunci dalam menyikapi suatu informasi.

“Maraknya hoaks dan tantangan era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi harus disikapi dengan keterampilan berpikir dalam mengolah berita atau informasi sekecil apapun. Karena pikiran adalah proses mental yang harus dilatih sehingga kita bisa lebih cerdas dalam menilai suatu masalah. Bukan asal berkata-kata atau menyebarkan informasi yang belum dicek kebenarannya. Semua itu ada di cara berpikir kita” ujar Bibin Rubini di sela acara temu ilmiah.

Dengan menjadikan High Order Thinking Skill (HOTS) sebagai model pembelajaran di kelas, maka mahasiswa atau peserta didik nantinya akan terlatih untuk selalu melakukan analisis terhadap setiap informasi, mampu membuat keputusan, memecahkan masalah, dan yang terpenting mampu mengekspresikan diri secara akurat dan kreatif.

HOTS dianggap dan terbukti memberikan ‘tatanan yang lebih tinggi’ dalam proses belajar mengajar yang berbeda dari belajar fakta dan konsep. Karena melalui metode HOTS, setiap orang diajarkan untuk terampil dalam “priority of thinking”, berpikir prioritas yang melibatkan kemampuan analisis, evaluasi dan sintesis sehingga mampu menciptakan pengetahuan baru.

BACA JUGA:  Pengenalan Ekonomi Syariah ke Sekolah Melalui GES Goes To School

“HOTS ini mengacu pada keterampilan pikiran manusia dalam menilai persoalan secara kompleks. Maka dibutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Memang lebih sulit untuk dipelajari atau diajarkan. Tapi dampaknya lebih berharga daam kehidupan karena dapat digunakan dalam situasi yang tidak terduga dan tidak dikenal seperti sekarang ini” tambah Bibin Rubinin.

Melalui metode HOTS, setiap orang dituntut untuk berpikir keras dan mencari jawaban yang melampaui informasi sederhana. Sehingga peserta didik atau mahasiswa terbawa ke dalam fungsi bahasa abstrak; untuk memberi dan membenarkan pendapat, menjauhi spekulasi dan cenderung berhipotesis. Maka dalam implementasinya, pembelajaran model HOTS akan lebih sering dan dilatih untuk melakukan refleksi diri, dialog, rajin menulis, dan melakukan penelitian.

Acara Temu Ilmiah Pascasarjana Unpak ini merupakan kegiatan rutin yang dirancang khusus dengan menyajikan topik pilihan untuk meningkatkan tradisi akademik mahasiswa pascasarjana, di samping untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa Program Studi Doktor-S3. Berbekal visi “Menjadi universitas unggul, mandiri dan berkarakter”, Unpak berkomitmen mewujudkan misi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menggali, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dilandasi sikap arif dan bijaksana. Hingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas, mandiri, beriman, berakhlak mulia, dan patriotik.

Karena itu, kemampuan berpikir menjadi penting dan patut dikedepankan dalam kegiatan belajar, termasuk dalam menyerap informasi atau berita yang beredar di sekitar kita. Karena era digital dan era revolusi industri 4.0 akan berdampak positif bagi mereka mereka yang tahu cara berpikir dan memecahkan masalah dengan cara yang tidak biasa. Hari ini dan esok, sangat dibutuhkan kecerdasan berpikir dalam mengolah informasi dan berita sekecil apapun…

BACA JUGA:  STBA LIA Perkuat Kompetensi Menulis Mahasiswa

Di tengah derasnya arus informasi di era digital dan sebagai antisipasi terhadap maraknya beriata bohong atau hoaks, dunia pendidikan diimbau untuk menekankan pada High Order Thinking Skill (HOTS) sebagai model pembelajaran. Hal ini ditegaskan dalam acara Temu Ilmiah Pascasarjana Universitas Paskuan (Unpak) yang bertajuk “Higher Order Thinking Skill (HOTS): Learning Model as A Medium of Thinking” dengan nara sumber Dr. H. Bibin Rubini, M.Pd. (Rektor Unpak) pada Kamis, 13 Desember 2018 di Aula Pascasarjana Kampus Unpak Bogor.

Acara yang dihadiri oleh Prof. Dr. Ing. Soewarto Hardhienata (Direktur Pascasarjana Unpak), Dr. Widodo Sunaryo, MBA, S.Psi (Kaprodi S3 Manajemen Pensisikan Unpak) dan lebih dari 70 mahasiswa Program Doktor – S3 Unpak, Bibin Rubini, menegaskan pentingnya mengedepankan model belajar berbasis media berpikir di era digital dan era revolusi industri 4.0. HOTS sebagai model pembelajaran bertumpu pada kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Oeh karena itu, keterampilan berpikir seseorang menjadi kata kunci dalam menyikapi suatu informasi.

“Maraknya hoaks dan tantangan era digital yang ditandai dengan derasnya arus informasi harus disikapi dengan keterampilan berpikir dalam mengolah berita atau informasi sekecil apapun. Karena pikiran adalah proses mental yang harus dilatih sehingga kita bisa lebih cerdas dalam menilai suatu masalah. Bukan asal berkata-kata atau menyebarkan informasi yang belum dicek kebenarannya. Semua itu ada di cara berpikir kita” ujar Bibin Rubini di sela acara temu ilmiah.

Dengan menjadikan High Order Thinking Skill (HOTS) sebagai model pembelajaran di kelas, maka mahasiswa atau peserta didik nantinya akan terlatih untuk selalu melakukan analisis terhadap setiap informasi, mampu membuat keputusan, memecahkan masalah, dan yang terpenting mampu mengekspresikan diri secara akurat dan kreatif.

HOTS dianggap dan terbukti memberikan ‘tatanan yang lebih tinggi’ dalam proses belajar mengajar yang berbeda dari belajar fakta dan konsep. Karena melalui metode HOTS, setiap orang diajarkan untuk terampil dalam “priority of thinking”, berpikir prioritas yang melibatkan kemampuan analisis, evaluasi dan sintesis sehingga mampu menciptakan pengetahuan baru.

BACA JUGA:  Puncak Acara Islamic Economic Days 2019

“HOTS ini mengacu pada keterampilan pikiran manusia dalam menilai persoalan secara kompleks. Maka dibutuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Memang lebih sulit untuk dipelajari atau diajarkan. Tapi dampaknya lebih berharga daam kehidupan karena dapat digunakan dalam situasi yang tidak terduga dan tidak dikenal seperti sekarang ini” tambah Bibin Rubinin.

Melalui metode HOTS, setiap orang dituntut untuk berpikir keras dan mencari jawaban yang melampaui informasi sederhana. Sehingga peserta didik atau mahasiswa terbawa ke dalam fungsi bahasa abstrak; untuk memberi dan membenarkan pendapat, menjauhi spekulasi dan cenderung berhipotesis. Maka dalam implementasinya, pembelajaran model HOTS akan lebih sering dan dilatih untuk melakukan refleksi diri, dialog, rajin menulis, dan melakukan penelitian.

Acara Temu Ilmiah Pascasarjana Unpak ini merupakan kegiatan rutin yang dirancang khusus dengan menyajikan topik pilihan untuk meningkatkan tradisi akademik mahasiswa pascasarjana, di samping untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa Program Studi Doktor-S3. Berbekal visi “Menjadi universitas unggul, mandiri dan berkarakter”, Unpak berkomitmen mewujudkan misi untuk menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menggali, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dilandasi sikap arif dan bijaksana. Hingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas, mandiri, beriman, berakhlak mulia, dan patriotik.

Karena itu, kemampuan berpikir menjadi penting dan patut dikedepankan dalam kegiatan belajar, termasuk dalam menyerap informasi atau berita yang beredar di sekitar kita. Karena era digital dan era revolusi industri 4.0 akan berdampak positif bagi mereka mereka yang tahu cara berpikir dan memecahkan masalah dengan cara yang tidak biasa. Hari ini dan esok, sangat dibutuhkan kecerdasan berpikir dalam mengolah informasi dan berita sekecil apapun.

Komentar

Berita lainnya