Sertifikasi Bangunan Hijau (EDGE), Solusi Efisiensi Design dan Pengelolaan Apartemen

Managing Director Synthesis Development, Julius Warouw. (Dok. Synthesis),

Indonesia memiliki laju pertumbuhan kota tercepat di Asia lebih dari empat persen. Migrasi ke kota menyebabkan permintaan bangunan di wilayah metropolitan semakin tinggi. Di Indonesia, gedung-gedung saat ini menyedot 30 % dari total konsumsi energi dan angka ini diperkirakan akan meningkat hingga 40 % pada tahun 2030. Pada tahun 2030, sekitar 71 % penduduk Indonesia diprediksi akan tinggal di kota besar di Indonesia.

DKI Jakarta telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 38 yang diimplementasikan pada 2013, mengenai bangunan gedung ramah lingkungan, atau gedung hijau. Jakarta merupakan kota pertama yang menerbitkan regulasi tersebut di Indonesia. Dalam aturan tersebut terdapat berbagai syarat suatu bangunan bisa dikatakan ‘green building’.

Julius Warouw, Managing Director Synthesis Development memaparkan, “Bangunan hijau dapat membantu kota-kota di Indonesia tumbuh secara berkelanjutan. Hingga sepertiga dari konsumsi energi dan air yang dipakai gedung-gedung di Indonesia dengan mudah bisa dikurangi melalui desain dan pengelolaan gedung yang lebih baik. Seperti, berapa ratio jendela dibandingkan tembok di gedung tersebut, bagaimana sirkulasi udara, hingga penggunaan lampu dan pendingin ruangan.”

BACA JUGA:  Brand Fashion Ternama Ini Resmi Diluncurkan di Indonesia

Dalam laporan IFC yang diluncurkan November 2018, yaitu ‘Climate Investment Opportunities for Cities’, disebutkan bahwa potensi investasi yang terkait iklim adalah sebesar USD 29,4 triliun di enam sektor urban di negara-negara berkembang. Keenam sektor tersebut adalah transportasi publik, pengelolaan dan pengadaan air, pengolahan limbah, kendaraan listrik, energi terbarukan dan bangunan gedung hijau. Dari keenam sektor tersebut, bangunan gedung hijau memberikan potensi paling besar yaitu sebesar USD 24,7 triliun atau lebih dari 80% dari total potensi investasi yang ada. Jakarta termasuk salah satu kota yang dianalisis secara mendalam, dalam laporan tersebut juga menyebutkan bahwa potensi bangunan gedung hijau di Jakarta adalah sebesar USD 16 miliar atau lebih dari 50% dari total potensi investasi terkait iklim di Jakarta sebesar USD 30 miliar.

BACA JUGA:  Brand Fashion Ternama Ini Resmi Diluncurkan di Indonesia

IFC mengembangkan sertifikasi bangunan hijau, EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) yang bertujuan mendorong lebih banyak lagi investasi terkait bangunan gedung hijau di pasar negara berkembang (emerging markets). Di Indonesia, EDGE diluncurkan Juni 2015 bersama dengan Green Building Council Indonesia (GBC Indonesia) sebagai partner lokal, dan saat ini, lebih dari 50 EDGE sertifikasi yang telah dikeluarkan untuk beberapa proyek di Indonesia.

BACA JUGA:  Brand Fashion Ternama Ini Resmi Diluncurkan di Indonesia

EDGE adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang membuktikan bahwa membangun dengan menerapkan praktek-praktek yang bertanggung-jawab secara lingkungan di negara berkembang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip bisnis.

“Samara Suites, apartemen di Jl. Gatot Subroto Jakarta, yang terdiri dari 39 lantai dan total 292 unit mendapatkan sertifikasi EDGE, hal ini menunjukkan sebagai pelaku konstruksi, Synthesis Development mengoptimalkan rancangan bangunannya sehingga efisien dalam penggunaan listrik dan air, sehingga memiliki nilai lebih sebagai sebuah hunian dan investasi,” papar Julius.

“Kami harapkan, program sertifikasi EDGE ini mampu mendorong pertumbuhan pembangunan gedung sehingga menggunakan sumber daya secara efisien,” tutup Julius.

Komentar

Berita lainnya