Perang Cyber Bullying di Media Sosial

Media sosial dan online saat ini banyak sekali manfaat dan hal positifnya bagi kita, akan tetapi dampak negatif (buruk) pun banyak kita temui karena pengguna dari akun tersebut menggunakannya dengan tidak relevan.

Baik dan tidaknya media sosial dan online tersebut adalah dari pihak penggguna. Oleh karena itu, timbullah suatu istilah yang sering kita sebut dengan cyberbullying, penyakit ini pelakunya sering berselancar di media-media soaial dan online saja dan pasti melakukannya berulang-ulang kembali.

Cyberbullying adalah perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan secara berulang dan terus menerus pada seorang target yang kesulitan membela diri (Smith dkk., 2008; dalam klikpsikologi, 2013).

Pernah ada suatu penelitian di sekolah – sekolah Amerika bahwa pelaku dari cyberbullying ini ia cenderung  memiliki self esteem yang sangat rendah sekali. Karena hal ini merupakan suatu perilaku yang tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri dan hanya akan mengarah pada perilaku agresif seseorang.

Media saat ini sangat pesat perkembangannya terutama di kaum Barat bahkan Negara kita sendiri yakni Indonesia tidak tertinggal dengan yang namanya media sosial. Yang pada zaman sekarang sudah berakar di kalangan semua kaum diantaranya, mulai dari anak-anak yang di bawah umur, kalangan remaja, orang dewasa, dari masyarakat kalangan atas, menengah, bahkan bawah.

BACA JUGA:  Menilik Bisnis Hotel Syariah di Indonesia

Hasil penelitiaan Yahoo dan Taylor Nelson Sofres (TNS) Indonesia menunjukkan bahwa: pengakses terbesar di Indonesia adalah mereka yang berusia antara 15-19 tahun. Semua yang ada di dunia ini dan yang kita butuhkan saat ini hampir semua sudah terekam dan tersedia di media seperti : Handpone, Laptop, Komputer, Tablet dll. Kita bisa mendapatkan informasi apa saja lewat media.

Mulai dari perkenalan individu, bersosialisasi dengan teman dari yang terdekat bahkan dari jarak jauh sekalipun, bertukar pikiran lewat media, bahkan sekarang berbisnis bisa lewat internet. Media yang tersedia saat ini antaralain: Facebook, Email, Twitter, Whatsapp, Instagram, Oorth, Bbm, dan lain-lain. Semau bisa kita gunakan sesuai kemampuan yang kita miliki dengan cara yang sangat mudah.

Tapi disamping dengan adanya media sosial saat ini memang bisa memudahkan semua orang untuk melakukan sesuatu, akan tetapi banyak juga hal-hal yang terkadang membuat moral anak bangsa kita mulai menggunakan media sosial dengan tidak sepantasnya, mulai dari ucapan – ucapan kotor yang mereka lontarkan dengan bebas di akun – akun mereka.

Bahkan anak yang masih dibawah umur pun sudah bisa memainkan media sosial dan mereka sangat gampang terpengaruh dengan hal-hal yang berbau kemaksiatan, karena otak dan pikiran mereka yang masih sangat polos dan mudah untuk terkena penyakit yang sering kita dengar Pecandu Internet.

BACA JUGA:  Gejolak Sosial Kenakalan Remaja

Disebabkan hanya karena kejadian-kejadian sepele lalu di umbar-umbar di media sosial seperti halnya: karena putus cinta lalu sakit hati dan mengeluarkan tulisan atau status-status yang tidak mendidik bahkan mencaci maki saja lewat media sosial, contoh lain: tidak sukanya seseorang kepada seseorang yang lain, mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan mencaci maki, berkata-kata kotor, dan ejekan lewat media-media sosial yang mereka miliki.

Jadi intinya cyberbullying adalah intimidasi yang terjadi di dunia maya terutama pada media sosial (medsos) dan adapun bentuknya bermacam-macam diantaranya: ejekan, ancaman, hinaan, ataupun hacking. Perlu diketahui bahwa perang cyberbullying ini tidak membuat orang terluka fisik akibat pukulan atau hantaman yang dilakukan oleh pelaku tersebut.

Akan tetapi, kekerasan cyberbullying sifatnya hanya menyakitkan hati seseorang dan biasanya membekas di dalam hati seseorang atau sering kita sebut psikis seseorang. Akan tetapi jangan salah berfikir jikalau penyakit ini lebih ringan daripada kekerasan fisik bahkan penyakit ini jauh lebih kuat dan feedbacknya pada diri seseorang juga lebih besar.

Dan cyberbullying biasanya bukan hanya melakukan komunikasi satu kali, ini “terjadi biasanya secara berulang kali”. Karena jika mereka para pelaku cyberbullying hanya melakukannya satu kali mereka tidak akan puas sampai-sampai korban bullying tersebut melakukan tindakan yang diluar akal, seperti bunuh diri dan gantung diri.
Ada sebuah peristiwa: Sebut saja namanya Juned ia adalah seorang mahasiswa perguruan tinggi, lalu karena Juned berhenti kuliah angkatan seperguruan tingginya mulai menghina melalui email, twitter, bbm, facebook, instagram, berbagai komentar yang diposting, maupun media internet lainnya. Dan fakta mengatakan bahwa perilaku cyberbullying ini hatinya akan merasa cemas, takut, khawatir, gelisah, depresi, dan bahkan akan mengalami sufrilo yang dapat memperburuk bahkan lebih dari itu.

BACA JUGA:  Mengapa Indonesia Harus Bebas dari Stunting?

Dari salah satu contoh peristiwa di atas kita bisa mengambil hikmah bahwa perang cyberbullying yang sampai saat ini masih menjadi momok bagi kita harus segera di hindari dan di atasi , terutama oleh Pemerintah sendiri.

Dan Undang-Undangnya pun sudah ada yakni Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan peraturan tersebut hanya tinggal diterapkan saja dengan baik, jangan hanya ada UU saja tapi tidak di terapkan.

Lalu jika ada saudara kita sendiri yang menjadi korbannya segeralah memberitahu orang terdekat agar bisa sedikit meringankan bebannya, jangan sampai dipendam sendiri karena menahan rasa malunya. Laporkan segera kepada pihak Internet agar akun dan komentar-komentar yang ia posting di media sosial dan online bisa langsung hilang dan pihak Internet bisa langsung memblokir akun pelaku cyberbullying.

hhtps://nasional.kompas.com/read/2016/09/24/14161431/pidana.cyber.bullying.di.revisi.uu.ite.dinilai.sebagai.ancaman.kebebasan.berekpresi
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Oleh: Ummi Latifah. Mardatillah
Mahasiswi STEI SEBI Depok

Comments

comments

Komentar

News Feed