Dea Anugrah: Bahasa Indonesia Bahasa yang Kaya dan Lebih Bervariasi

Uu Suhardi dan Dea Anugah. (Foto: AM Awwal/DepokPos)

JAKARTA – Keterampilan berbahasa bukan sekonyong-konyong secara alamiah, tetapi harus dipelajari. Bahasa bisa disamakan dengan lalu lintas, bisa sampai tetapi bisa semerawut atau sebaliknya. Pada hakikatnya terdapat kaidah dan aturan, tetapi akan dianggap benar bila dilakukan berulang-ulang.

Tergantung pada rasa bahasa, dan kembali lagi pada aturan ataupun kaidah bahasa dan juga menempatkan bahasa pada habitatnya. Bahasa Indonesia, bahasa yang kaya dan lebih bervariasi. Karena untuk saat ini pengetahuan lebih banyak dari bahasa Inggris, pada zaman dulu berasal dari bahasa Belanda,” ujar Dea Anugrah Editor Tirto.id pada acara Celetuk Bahasa.

Dea menambahkan bahwa, media cetak saar ini mulai terkikis dan sekarang banyak beralih ke media online. Namun media cetak selagi masih ada dan hidup bila terdapat iklan di dalamnya. Bukan berarti bisnis media akan berkurang, tetapi ini bertransformasi kepada media online. Kemudian publik akan berlangganan informasi tidak lagi melalui media cetak tetapi melalui media online.

BACA JUGA:  Pameran Foto #CeritaKertas Ajak Masyarakat Mengenal Potensi Kertas

Uu Suhardi Redaktur Majalah Tempo, mengatakan kriteria yang dibuat oleh badan bahasa untuk dapat masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), salah satunya, yaitu kata tersebut sudah dimuat minimal oleh tiga media massa dan sering disebut-sebut media massa. Tentu, kalau kata dalam bahasa asing harus diserap sesuai dengan konotatif, yaitu susunan huruf yang lazim dalam Bahasa Indonesia.

“Bahkan bahasa slang misalnya di Jakarta kata cuek atau bisa dibilang tidak acuh, itu sudah masuk ke dalam kamus (KBBI). Orang sering tertukar ketika menyebutkan acuh dan tidak acuh. Maksudnya tidak acuh tapi menyebutkan acuh. Padahal lebih tepatnya menyebutkan dengan kata cuek, yang artinya sama dengan tidak acuh,” tuturnya.

BACA JUGA:  Kemenperin Sokong IKM Nasional "Go Digital" Agar Berdaya Saing Global

Uu mengungkapkan bahwa, Selama ini orang menganggap baik dan benar itu kaku, justru baik dan benar itu luwes, benar sesuai dengan kaidahnya dan baik sesuai konteksnya. Bahasa yang baik dan benar itu tidak menjadikan suasana menjadi lebih kaku, justru benar itu sesuai dengan kaidah dan baik itu sesuai dengan konteksnya atau sesuai dengan tempatnya.

“Bulan lalu saya menjadi juri media koran bahasa Indonesia terbaik, ada 78 koran seluruh Indonesia, dari 78 itu sekitar 60 buruk. Akhirnya terpilihlah 10 terbaik, kemudian dari 10 terbaik itu ada 2 dari luar Pulau Jawa, yaitu Lampung dan Kalimantan Tengah. Sebenarnya kalau mencari keburukan dan kesalahan orang lain itu gampang, yang susah itu kita mencari kebaikannya,” tukasnya pada Sabtu (15/12) di Tempo Building, Palmerah Barat, Jakarta.

BACA JUGA:  Dirut Perhutani dan BNPB Tandatangani Nota Kesepahaman Tanggap Bencana

Ia menambahkan bahwa, sebaiknya menggunakan kata yang ada dalam kamus (KBBI), pilihlah kata yang dipahami oleh banyak orang dan jangan menciptakan kata sendiri yang jauh dari makna sebenarnya. Bahasa bukanlah soal salah atau benar, tapi bisa juga soal pilihan. (AM Awwal)

Komentar

Berita lainnya