Berbisnis ala Nabi di Era Teknologi

Bisnis tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan sehari-hari, bisnis seperti badan yang selalu menyatu dalam tubuh dan tidak mungkin dipisahkan. Baik bisnis itu dilakukan secara tradisional maupun modern, dilakukan dengan cara-cara yang sederhana maupun menggunakan teknologi. Bisnis perlu dikelola dengan sebaik-baiknya, mulai dari perencanaan bahkan riset pun diperlukan, agar bisnis bisa dilakukan dengan perhitungan yang matang. Sehingga kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam proses pengelolaan bisnis dapat diprediksi, jika mendapatkan laba baik itu laba kecil maupun laba besar bisa dikelola dengan baik. Seandainya pun kemungkinan terjadi kerugian, itu sudah masuk dalam prediksi awal dan dapat mengantisipasi kerugian tersebut.

Sebagai seorang muslim kita mempunyai rujukan dalam berbisnis, baik rujukan itu dalam bentuk teks atau teori-teori bisnis maupun rujukan dalam bentuk seseorang yang sukses dalam menjalankan bisnisnya, bahkan kesuksesannya sampai pada puncak kesempurnaan bisnis. Baik bisnis dengan manusia, maupun yang kaitannya bisnis dengan Allah SWT, yaitu Nabi Muhammad SAW. Semua pun tahu, nabi Muhammad SAW adalah pedangang yang sukses , tidak hanya di negara Arab, tetapi juga sukses berbisnis di luar negeri. Menurut sejarah, Rasulullah sukses berbisnis di beberapa kota diantaranya adalah Syam (Syuriah), Bahrain, Yordania, dan Yaman.

Oleh karena itu dalam berbisnis diperlukan pengetahuan yang banyak, baik melalui buku-buku bisnis, kajian-kajian bisnis, motivasi-motivasi bisnis, seminar bisnis, penelitian bisnis. Sehingga bisnis dapat dikembangkan diberbagai tempat, dengan tingkat keberhasilan yang berkesinambungan. Dalam salah satu kajian online yang bertemakan bisnis ala Rasulullah SAW dengan narasumber Fitria Maulidina. Beliau mengambil referensi kajian online ini, dari buku yang berjudul “Beginilah Rasulullah berbisnis” karya Hepi Ardi Bastoni.

Didalam buku tersebut, disebutkan bahwa bisnis adalah usaha untuk menjual suatu barang atau jasa untuk mendapatkan keuntungan. Didalam berbisnis tentunya dibutuhkan modal untuk memulainya, lalu apa modal utama berbisnis itu?

Dikutip dari pengantar buku tersebut yg dipaparkan oleh Dr.M Syafii Antonio,M.Ec. bahwa Modal Utama Bisnis yaitu

1. Kepercayaan, yaitu didalamnya meliputi kejujuran,amanah,pertanggungjawaban
2. Kompentensi, yaitu profesionalisme,skill,penguasaan aspek teknis.

Sudah seharusnya kita sebagai umatnya Rasulullah mengikutinya, salah satunya yaitu dengan berdagang/berniaga. Seperti hadits berikut ini

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.“

Sebelum membahas intinya, mari lihat perjalanan bisnis beliau. Perjalanan bisnis Rasulullah SAW dimulai sejak beliau berusia 12 tahun ,saat itu beliau ikut pamannya yaitu Abu Thalib berdagang ke Syiria, sejak saat itulah Rasulullah melakukan semacam kerja magang yang berguna kelak ketika nanti beliau mengelola usahanya sendiri, selama Rasulullah menemani pamannya berdagang, beliau memperhatikan setiap transaksi perdagangan yang dilakukan oleh pamannya, disitulah beliau banyak belajar.

Selanjutnya ketika menuju usia dewasa,Rasulullah memulai usahanya sendiri, beliau mulai dengan berdagang kecil-kecilan. Beliau membeli barang dari pasar, lalu dijual kembali kepada orang lain. Sampai pada akhirnya banyak investor yang mempercayai uangnya dikelola oleh Rasulullah SAW. Dalam menjalankan bisnisnya,beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, tanggung jawab ,sehingga beliau mendapat gelar Al Amin (yang dapat dipercaya). Wilayah perdagangan Rasulullah cukup luas meliputi  Taman, Syiria, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain,dan kota-kota di Jazirah Arab lainnya. Setelah menikah pun Rasulullah tetap berbisnis bersama Khadijah, mereka menjalankan bisnis berdua dengan sukses.

Lalu bagaimana berbisnis ala Rasulullah?

1. Memiliki pengetahuan tentang hukum jual beli

Jika berbicara bisnis berarti berbicara tentang jual beli. Jual beli itu sendiri terdapat dalam Q.S Al Baqarah ayat 275 yang artinya

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

Lalu Bagaimana seharusnya kita sebagai pembisnis dalam transaksi jual beli?

  • Menguasai produk, sebagai pembisnis harus paham betul produk apa yang kita tawarkan, kelebihan dan kelemahan produk itu sendiri, sehingga mampu menangani ketika ada komplain dari konsumen.
  • Menerapkan strategi pemasaran, ada dua poin yang dilakukan Rasulullah dalam menetapkan strategi yaitu : 1.mengambil margin (keuntungan) secukupnya dan 2.tidak menipu pembeli dari sisi kualitas dan kuantitas produk.
  • Toleransi dalam bertransaksi, contohnya yaitu Rasulullah seringkali memberikan yang lebih baik dari perjanjian yg telah disepakati. Terhadap konsumen yg tidak mampu membayar kontan, beliau memberikan tenggang waktu yg cukup, bahkan jika tidak bisa membayarnya, Rasulullah mengratiskannya.

2. Jujur dan Amanah

Ini merupakan salah satu point yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap pembisnis yaitu jujur dan amanah. Rasulullah adalah teladan yang sempurna dalam kejujuran dan amanah. Keuntungan adalah tujuan dari berbisnis, tak jarang mereka yang berbisnis melakukan kecurangan demi mendapatkan keuntungan lebih. Allah Swt memerintahkan kepada para pebisnis agar konsisten dengan sifat seorang muslim yaitu jujur dan amanah, sehingga tidak menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan.

3. Menghindari sumpah dengan nama Allah

Salah satu etika bisnis yang diterapkan oleh Rasulullah yaitu menghindari sumpah dengan nama Allah SWT, walaupun beliau dalam posisi benar. Sikap memudahkan menyebut nama Allah dalam urusan jual beli merupakan bentuk mengumbar sumpah yang harus dihindari.

4. Disiplin Waktu

Dalam disiplin waktu ada 5 poin yang diajarkan Rasulullah

  • Pentingnya menghargai waktu. Bahkan Allah pun bersumpah dengan menyebut bagian-bagian waktu, yaitu “demi waktu malam” “demi waktu siang” dan lain lain.
  • Pentingnya istirahat, jangan sampai dengan berbisnis kita sampai lupa untuk istirahat, karena tubuh juga punya hak untuk beristirahat.
  • Mengelola waktu.
  • Memulai aktivitas di pagi hari, waktu yang tepat memulai aktivitas bukan jam 08.00 pagi, melainkan sebelum subuh/ setelah tahajud.
  • Tidak melalaikan ibadah karena aktivitas bisnis, jangan sampai karena keasikan bisnis sampai lupa ibadah.

5. Berbisnis Hanya yang Halal

Bagaimana berbisnis dengan yang halal?

  • Menjauhi bisnis barang atau kegiatan haram
  • Menjauhi riba, yang sudah sangat jelas dilarang di dalam Al Qur’an yaitu (Q.S Ar – Ruum : 39); (Q.S An – Nisa : 160-161); (Q.S Ali – Imran : 130); (Q.S Al – Baqarah : 275-279)
  • Menjauhi persaingan tidak sehat, seperti larangan monopoli(ikhtikar), Rasulullah melarang monopoli karena berarti kerakusan,ketamakan.

6. Rapi Administrasi

Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Al-Baqarah : 282

7. Silaturahim

Seorang pebisnis harus selalu membangun silaturahim kepada keluarga, kerabat, bahkan kepada para kostumer nya, karena dengan silaturahmi akan membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur.

8. Membayar zakat dan banyak bersedekah

Bagi para pebisnis yang aset/hartanya sudah mencapai nisab, harus mengeluarkan zakat sebagaimana seorang muslim. Dan sejatinya,pebisnis sulit sekali menghindari hal hal syubhat, karena manusia tak luput dari salah dan khilaf, maka dari itu Rasulullah memerintahkan para pebisnis untuk menebus kesalahan/ kekurangan dalam berbisnis dengan bersedekah. Selain untuk menebus kesalahan, sedekah juga dapat membuka pintu rezeki.

Lalu apa relevansi berbisnis ala Rasulullah SAW di era teknologi?

1. Nilai-nilai kejujuran, tidak berdusta dalam berbisnis selalu mempunyai relevansi di zaman apapun. Terlebih di zaman teknologi, akan mempermudah jangkauan informasinya.

2. Termasuk tulisan ini bagian dari pembuktian adanya relevansi bisnis Rasulullah SAW di zaman teknologi. Salah satunya tulisan ini dapat dibagi melalui media online, sehingga memudahkan orang untuk mengetahui bagaimana cara Rasulullah berbisnis dan dapat menerapkannya kedalam bisnis yang sedang atau akan dijalani/

3. Berbisnis dengan teknologi pun sebaiknya mengikuti cara-cara Rasulullah dalam hal mempraktekan nilai-nilai kejujuran dalam berbisnis, agar menjadi lebih berkah seperti bisnis-bisnis Rasulullah pada zamannya.

Kesimpulannya, dizaman era teknologi seperti ini berbisnis bukan hanya mencari untung (laba) semata. Namun mencari keberkahan dalam berbisnis itu perlu, sebagai contohnya yang diterapkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW adalah teladan bagi kita semua, salah satunya dalam hal berdagang/berbisnis, sudah sangat jelas etika berbisnis yang baik dan benar dicontohkan oleh Rasulullah. Karena sejatinya masing-masing kita adalah seorang pembisnis. Dan apapun profesi yang dijalani, milikilah jiwa entrepreunership. Orang yang berjiwa entreprenership cenderung lebih kreatif, inovatif, pantang menyerah, pantang mengeluh dan selalu bersemangat.

*Ditulis oleh Asrofunnisa – Mahasiswi STEI SEBI Manajemen Perbankan Syariah 2018
**Sebagian tulisan diatas dirujuk dari kajian online AASC Executive Discussion Forum dengan narasumber Fitria Maulidina

Komentar

Berita lainnya