Surat Terbuka Untuk Pemerintah Kota Depok

Yth. Walikota Depok
cc. 1. Dinas Perhubungan
2. Polresta Depok

Bersama ini dengan hormat disampaikan beberapa keluhan terkait pengaturan lalu lintas di kota Depok diantaranya adalah:

Jalan Juanda

Jalan juanda yang merupakan jalan utama alternative setelah Margonda ternyata pengaturannya tidak professional. Pengaturan putar balik ataupun belok tidak di atur dengan baik sehingga kemacetan sepertinya dibuat terlalu panjang, sehingga banyak terjadi pemborosan waktu dan bahan bakar. Pertigaan jalan juanda menuju jl. KH Jusuf yang sudah dibangun lampu merah malah tidak digunakan sebagaimana fungsinya, malahan dibuntu. Untuk apa bangunan yang sudah direncanakan malahan dibuntu. Padahal kalau itu dibuka sesuai rencana akan lebih banyak mengurangi antrian macet sepanjang jalan Juanda-jalan raya Bogor. Malah putaran dibuang hingga pertengahan jalan Juanda. Sepertinya Dinas yang berwenang menyukai antrian panjang dan pemborosan bahan bakar. Bayangkan pengendara yang rumahnya seharusnya dapat belok di jl. KH Jusuf harus memutar balik di tengah-tengah sepanjang jalan Juanda dulu. Lampu merah digunakan untuk mengantri dengan tertib, bukan malahan dimatikan dengan menutup jalan belok pertigaan, pengendara dari Margonda disuruh berputar setelah jauh di pertengahan jalan juanda. Saya sangat tidak memahami cara berfikir Dinas Berwenang memanajemeni jalan raya. Mengapa tidak berfikir mempermudah para pengendara untuk efisiensi waktu, efisiensi BBM dan mengurai kemacetan dengan mudah. Pengendara diputar-putar dengan antrian panjang dan menghabiskan BBM, sementara kemacetan tetap hanya dialihkan saja.

Jalan Margonda-Citayam

Jalan Margonda dari Citayam/Carefour menuju tole Iskandar juga dimatikan, padahal itu sudah ada lampu merah yang mengatur, tetapi malah diputar melalui putaran sebelum bank BNI, sebenarnya efisiensi apa yang ingin diperoleh oleh Dinas berwenang dengan perubahan ini? Perubahan ini hanya menambah jalan panjang (non efisiensi) dan mengalihkan kemacetan di jalan Margonda.

Jalan Margonda menuju Stasiun Depok Lama. Kereta Rel Listrik adalah angkutan masa yang sedang dibangun dan diharapkan digunakan oleh orang-orang agar tidak menggunakan angkutan pribadi yang cenderung membuat kemacetan. Stasiun adalah salah satu tempat orang menuju angkutan masa yang harusnya diperlancar dan tidak dipersulit. Pengalihan/penutupan jalan ke stasiun depok lama dengan diarahkan ke GDC sejauh itu, sehingga memacetkan dan menambah panjang jalur kemacetan lalulintas.

Bagaimana cara berpikirnya pihak berwenang mengatur/memanajemeni arus lalu lintas di tempat ini. Kemacetan semakin panjang harus memutar ke GDC dimana putaran GDC merupakan pertemuan arus dari GDC, Citayam maupun dari jalan Kartini. Sepertinya Dinas berwenang lebih suka melihat kemacetan semakin bertambah kearah GDC. Orang-orang calon pengguna KRL harus diputar ke GDC, apa keuntungannya? Sementara putaran di POM bensin untuk kepentingan bisinis POM Bensin malah dibuka. Mengapa pihak berwenang tidak menutup putaran/belokan jalan di depan POM jl. Kartini itu. Apa manfaat belokan/putaran menuju stasiun Depok Lama ditutup. Apa karena macet? Kalau macet, apakah dengan memutar ke GDC apa menjadi tidak macet? Tolong dilihat dievaluasi kemacetan yang terjadi setelah jalan ke stasiun ditutup. Putaran/belokan depan POM Bensin malah digunakan oleh para pengendara motor/OJOL melawan arus untuk menuju Stasiun Depok Lama. Apa ini yang ingin difasilitasi oleh pihak berwenang?. Coba berfikirlah yang efisien dan efektif dalam membuat kebijakan public.

Demikian disampaikan, mohon bapak walikota Depok dapat melakukan evaluasi bawahannya yang mengatur lalulintas kendaraan.

Hormat kami
Depok, 14 November 2018

ttd
Wijayadi
Komplek GDA G2/1

 

Catatan redaksi: surat terbuka ini dipublikasikan apa adanya tanpa melalui editing.

Comments

comments

Komentar

News Feed