Potret Muram Guru Honerer

Oleh: Ayyuhanna Widowati, S. E. I.

Setiap 25 November, Indonesia selalu memperingati Hari Guru. Dengan peringatan tahunan tersebut setidaknya menunjukkan bahwa para tenaga pengajar memiliki peranan penting serta adanya apresiasi pemerintah.

Namun di hari peringatannya potret muram guru honorer tidaklah jauh dari kesejahteraan dan perubahan status yang belum pasti masih terlihat nyata. Seperti diketahui, ribuan guru honorer melakukan aksi demo di depan Istana Kepresidenan. Mereka menuntut pemerintah segera mengangkat guru honorer sebagai PNS (detiknews).

BACA JUGA:  Mengapa Indonesia Harus Bebas dari Stunting?

Pemerintah belum sungguh-sungguh berupaya mencari jalan keluar agar masalah tenaga honorer terselesaikan. Dengan pertimbangan anggaran yang tidak sedikit sehingga ribuan guru honorer menunggu kepastian status. Begitulah potret muram guru honerer dalam sistem sekuler, untung rugi menjadi pertimbangan.

Padahal sejatinya guru adalah manusia mulia yang mencetak generasi bangsa menjadi berkualitas. Sejarah mencatat bahwa guru dalam naungan Islam mendapatkan penghargaan yang tinggi berupa pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Imam Ad-Damsyiqi telah menceritakan sebuah riwayat dari Al-Wadliyah bin Atha yang menyatakan bahwa di Kota Madinah ada tiga orang guru yang mengajar anak-anak. Khalifah Umar bin Khatthab memberikan gaji pada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas).

BACA JUGA:  Menjadi Enterpreneur Muda Berkarakter

Perhatian para kepala negara kaum Muslimin (Khalifah) bukan hanya tertuju pada gaji para pendidik, sarana dan prasarana untuk menunjang profesionalitas guru juga disediakan secara cuma-cuma. Terbayang jelas, guru akan fokus menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak generasi masa depan yang gemilang.[]

Comments

comments

Komentar

News Feed