Perempuan dalam Kumparan Kapitalisme

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Widiyaningsih, S.P., Ibu Rumah Tangga Tinggal di Depok.

Bicara soal kaum perempuan seolah tak pernah ada habisnya. Perempuan dengan segudang permasalahan hidup yang muncul ke permukaan mulai dari gaya hidup, pekerjaan, hingga tuntutan keinginan disejajarkan posisinya dengan kaum pria.

Pada dasarnya, wanita memiliki potensi kekuatan yang besar. Hal ini terbukti pada September kemarin, ribuan tokoh perempuan dunia dan Indonesia mampu menggelar Sidang Umum ke-35, International Council of Women (ICW) dan Temu Nasional Seribu Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta, sejak 11 hingga 20 september 2018. Acara yang diselenggarakan untuk memperkuat komitmen bersama bagi 150 perempuan dari organisasi dunia di 18 negara dan 1000 perempuan perwakilan organisasi di Indonesia, dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di dunia, khususnya di Indonesia (Republika)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Yohana Yembise mengapresiasi upaya Konggres Wanita Indonesia (KOWANI) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Kemen BUMN) yang telah menyelenggarakan acara ini sebagai bentuk upaya dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia. “Mengingat saat ini kondisi anak dan perempuan di Indonesia sangat memprihatinkan. Dari berbagai hasil kajian, bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok rentan yang sering mengalami berbagai masalah, seperti kemiskinan, bencana alam, konflik, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya.” ujar Yohana dalam sambutannya.

BACA JUGA:  Gejolak Sosial Kenakalan Remaja

Dalam sistem sekuler, wanita yang kesehariannya hanya berkutat mengurus rumah tangga, anak dan suami saja tanpa memiliki pendapatan untuk membantu jalannya perekonomian keluarga dianggap sebagai kaum yang termarginalkan, tidak berguna bahkan dianggap sebagai penambah beban keluarga. Akhirnya, tidak sedikit kaum perempuan yang mencoba untuk bangkit dari kondisi keterpurukannya. Namun alih-alih mengentaskan persoalannya malah justru makin terperosok ke kubangan masalah yang bertambah dalam.

Di dalam kumparan kapitalisme, perempuan dijadikan mesin kapital seperti sapi perah yang dieksploitasi energinya. Seperti pernyataan Mc Kinsey, yang mengibaratkan, tanpa peningkatan pemberdayaan perempuan, dunia akan alami kerugian sebesar US$ 4,5 triliun dalam PDB tahunan pada tahun 2025.

Hal ini secara otomatis mencabut fitrah wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, hingga pada akhirnya menghasilkan krisis dalam kehidupan keluarga, kerusakan masyarakat dan kehancuran bangsa. Meningkatnya kasus perceraian keluarga yang hingga saat ini ratusan ribu kasus perceraian masih terjadi tiap tahunnya. Berdasarkan data tahun 2016 lalu, setidaknya ada sekitar 350 ribu kasus perceraian di Indonesia. Dirjen Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung mengungkapkan pada periode 2014-2016 perceraian di Indonesia trennya meningkat dari 344.237 perceraian pada 2014, naik menjadi 365.633 perceraian di 2016. Rata-rata angka perceraian naik 3% per tahunnya (Republika.co.id). Begitu juga, makin maraknya kenakalan remaja di tengah masyarakat seperti remaja kecanduan narkoba, ketagihan video porno, seks bebas dan masih banyak lagi kasus lainnya, adalah akibat disfungsinya peran wanita dalam rumah tangga.

BACA JUGA:  Mengatur Keuangan Diusia Muda Untuk Tenang Dimasa Tua

Prinsip ini jauh berbeda dalam sistem Islam yang sangat memuliakan wanita dengan menjaga kehormatanya, menjamin hak-haknya, diberi keleluasaan di masyarakat namun bukan untuk dieksploitasi. Ibu sebagai pendidik utama (ummu madrasatul ula) adalah predikat mulia yang disematkan Islam kepada seorang ibu. Karena di tangannya nasib generasi anak manusia dirangkai. Ada istilah yang menyatakan, wanita adalah tiang negara apabila baik (akhlak) wanitanya, maka baiklah generasinya. Namun apabila buruk (akhlak) wanitanya maka lose generation siap menunggu seperti bom waktu.

BACA JUGA:  Mengapa Indonesia Harus Bebas dari Stunting?

Fungsi sebagai ummu wa rabatul bayt tidak menjadikan posisi wanita rendah, bahkan sebaliknya, betapa mulia dan terlindungi martabatnya di dalam sistem Islam dengan fungsi itu. Sehingga apabila seorang wanita hamil kemudian menyusui anaknya hingga dua tahun, itu adalah salah satu fungsi yang tengah dijalankan sebagai bentuk ketaatan seorang wanita pada Rabbnya, bukan sebagai bentuk ketidakadilan terhadap wanita seperti yang digaung-gaungkan kaum feminis.

Demi memainkan peran utamanya sebagai ummu wa rabatul bayt, maka Islam tidak membebani wanita untuk mencari nafkah. Sehingga bekerja bagi seorang wanita adalah perkara pilihan atau mubah bukan suatu kewajiban. Karena nafkah hidup sepenuhnya menjadi tanggung jawab suami atau walinya.

Demikian sempurnanya Islam mengatur hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, hingga semuanya berjalan dengan harmonis dan menenteramkan sesuai aturan Sang Pencipta. Upaya untuk menyejajarkan posisi laki-laki dan perempuan dalam segala bidang adalah hal yang jauh api dari panggang. Semakin keras upaya yang kita lakukan, maka akan semakin jauh dari yang diharapkan dan kisah kehancuran sebuah bangsa tinggal menunggu waktu.[]

Comments

comments

Komentar

News Feed