Menjadi Mahasiswa Penghafal Al-qur’an, Kenapa Tidak?

Ilustrasi. (Istimewa)

Mengenyam predikat sebagai mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka yang sudah bosan menjadi siswa atau pelajar selama bertahun-tahun. Namun tentunya menjadi mahasiswa merupakan pertanda bahwasanya kita akan bertemu dengan tugas-tugas yang mungkin akan jauh lebih berat ketimbang tugas-tugas saat kita duduk dibangku sekolah. Sibuk. Satu kata yang sudah tidak asing lagi terdapat dalam kamus kehidupan seorang mahasiswa. Berbagai tuntutan, seperti tugas mata kuliah, organisasi, bahkan tuntutan tugas beasiswa ibarat teman yang senantiasa menemani.

Problematika yang bisa kita jumpai saat banyaknya tuntutan maupun tugas yang harus diselesaikan oleh mahasiswa, di sanalah mereka merasa sibuk dan sulit menemukan waktu luang untuk mempelajari, mengkaji, juga menghafal Al-qur’an. Padahal Allah SWT telah berfirman,“Kami tidak menurunkan Al-qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS: Thaha: 2). Maka sudahkah kita mengevaluasi diri, apakah kita benar-benar tidak mempunyai waktu luang sedikitpun untuk Al-qur’an?

Kalau saja kita mengetahui, banyak sekali keutamaan menghafal Al-qur’an. Tentunya hal ini akan menjadi dorongan serta motivasi kita untuk tergerak menjadi pehafal Al-qur’an. Beberapa keutamaan menghafal Al-qur’an, diantaranya:

BACA JUGA:  Ini Kata Orang Korea Terhadap Jilbab dan Puasa

1. Menjadi Keluarga Allah di dunia.

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antar manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab, “Para ahli Al-qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

2. Lebih diutamakan untuk dihormati dan didahulukan.

“Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

“Adalah Nabi mengumpulkan diantara dua orang syuhada Uhud, kemudian beliau bersabda, “ Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al-qur’an. Ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)

3. Mendapat syafaat dari Al-qur’an.

“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah A-qur’an sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafal).” (HR. Muslim)

4. Kedua orang tua penghafal Al-qur’an akan mendapatkan pertolongan.

BACA JUGA:  Menjadi Wanita yang "Mahal"

“Siapa yang membaca Al-qur’an, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia…” (HR. Al Hakim)

5. Termasuk sebaik-baik manusia

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-qur’an dan mengamalkannya.” (HR. Bukhori)

Salah satu mahasiswa yang bisa kita jadikan contoh dalam semangatnya menghafal Al-qur’an 30 juz ialah Mochammad Ulil Abshor, ia merupakan salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Baginya, menghafal Al-qur’an di masa kuliah tidaklah mengganggu proses perkuliahan. Ia berpendapat, bahwa banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghafal Al-qur’an di sela waktu luang di luar jam kuliah, dan yang terpenting adalah bagaimana kita harus senantiasa istiqomah dalam menghafal.

Diakui atau tidak, sejumlah mahasiswa yang menghafal Al-qur’an ataupun yang telah hafal, memiliki tingkat kecerdasan dan kreatifitas lebih disbanding lainnya. Hal ini pun didukung, seperti yang disampaikan oleh rector Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, dalam acara wisuda 2008 pernah menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir peraih predikat mahasiswa terbaik selalu diraih oleh mahasiswa yang hafal Al-qur’an.

BACA JUGA:  Merubah Kegagalan Menjadi Keberhasilan

Lantas bagi kita yang baru memiliki keinginan untuk menghafal Al-qur’an, syukurilah itu sebab ia adalah obor yang membantu kita melewati gelapnya lorong panjang menuju taman surgawi yang abadi. Jangan biarkan motivasi kita untuk menghafal itu redup dan memudar hingga padam. Pelihara obor itu agar lebih terang dan semakin terang. Sebab, obor yang padam akan sulit menyala kembali. Obor yang padam tidak dapat dipastikan kapan ia menyala kembali dan tidak ada jaminan untuk menyala kembali.

Oleh: Iqlima Fairuz Syifa
(Mahasiswa STEI SEBI, Depok)

Comments

comments

Komentar

News Feed