Hilangnya Wibawa Sang Guru

Oleh:Nurina Purnama Sari, S.ST.

Coba tanya kepada diri sendiri, sudah berapa kali kita mendengar kabar berita seorang guru yang dianiaya muridnya? Saya pastikan pembaca yang budiman akan menjawab, lebih dari sekali. Miris memang. Tapi fakta yang tersaji demikian adanya. Video sekelompok murid di Kendal yang berani menantang gurunya yang berusia paruh baya kini beredar mengobok-obok linimasa kita.

Rasanya belum kering luka pendidikan kita ketika Februari lalu, Pak Budi, Guru Seni Rupa di Sampang Madura menghadap Illahi karena dibunuh oleh anak didiknya sendiri. Bahkan di tempat lain, seorang guru ditahan polisi dan dijadikan narapidana hanya karena mencubit atau menampar siswa yang dianggap kurang ajar.

Apa yang terjadi sekarang, tentu bertolak belakang dengan kebiasaan yang terjadi di masa-lalu. Dahulu, seorang guru baik sebagai pekerjaan ataupun predikat, sangat dihormati kedudukannya. Dua atau tiga dekade silam, murid yang berpapasan dengan guru biasanya cium tangan, bahkan jika lewat di depan guru, murid menunduk saking hormatnya kepada para guru.

BACA JUGA:  Mengatur Keuangan Diusia Muda Untuk Tenang Dimasa Tua

Sekarang, penghormatan terhadap guru semakin pudar. Murid tak segan melawan, demikian pula orang tua murid yang terkadang ringan tangan hanya karena masalah sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Hilangnya wibawa seorang guru ini tak lain karena penerapan sistem sekuler yang selama puluhan tahun terakhir menggerogoti sistem pendidikan kita. Guru hanyalah dipandang sebagai fasilitator pendidikan. Profesi seorang guru dianggap sama dengan profesi lainnya sebagai penjual jasa, seperti pengacara, arsitek dan lain-lain. Bahkan guru dianggap sebagai profesi pengganjal perut semata.

Tak sampai di situ saja, akibat sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, menyebabkan orientasi pendidikan pun berupaya menghasilkan output manusia-manusia yang hanya memiliki intelektual yang tinggi dan skill yang handal, namun dangkal secara adab. Ditambah lagi motivasi pendidikan saat ini hanya fokus untuk mencari ijazah saja. Dengan ijazah tersebut maka akan mudah mencari kerja. Begitulah cara pandang masyarakat sekuler kapitalis saat ini. Kemajuan suatu bangsa selalu diukur dengan materi, termasuk urusan pendidikan.

BACA JUGA:  Membangun Wisata Halal di Indonesia

Wajar, ketika didera dengan permasalahan kehidupan, maka bukan iman yang jadi rujukan, tapi cara pandang kapitalis, yakni manfaat dan materi sebagai standar kebenaran. Misalnya, jika tak suka dengan satu guru, maka solusinya dengan menantang guru tersebut. Atau jika didera masalah ekonomi, maka solusinya dengan korupsi, merampok bahkan menjual diri.

Maka, dalam sistem sekuler ini, pelajaran agama tidak menjadi perhatian utama. Padahal, agama adalah sumber aturan hidup yang akan menjadi tolak ukur perbuatan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Porsi belajar agama hanya 2 jam dalam sepekan. Itupun yang dibahas sesuai kurikulum, yakni rukun iman yang sekadar hapalan atau tentang mengitung waris, mengurus jenazah atau manasik haji. Padahal hukum Islam tak cukup sampai di situ. Hukum Islam sangatlah kompleks mencakup seluruh aspek kehidupan. Bahkan tak akan habis dipelajari hingga akhir hayat.

BACA JUGA:  Menjadi Enterpreneur Muda Berkarakter

Para ulama dan cendekiawan Muslim terdahulu di masa kekhilfahan Islam, saat sistem pendidikan Islam diterapkan, begitu memuliakan gurunya sehingga dengan mudah mendapatkan keberkahan ilmu. Ilmu tak hanya menempel di akal namun juga tertancap dalam jiwa. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan.

Berbeda dengan pendidikan saat ini, keinginan mendapatkan keberkahan ilmu digantikan dengan keinginan mendapatkan materi. Menyedihkan.

Kita tak boleh terus menerus seperti ini. Upaya perbaikan generasi dimulai dari sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan dan kurikulum pendidikan. Negara harus mengupayakan agar kiblat pendidikan kita tak lagi salah arah dan berkiblat pada sistem pendidikan sekuler yang sangat jauh dari adab, demi keberlangsungan lahirnya generasi cemerlang pembawa rahmat bagi semesta alam.[]

Comments

comments

Komentar

News Feed