Dahsyatnya Peran Sosmed Dalam Pilkada Serentak

Hasnil 2.jpg
Ketua Umum ICT Care, Hasnil Fajri.

JAKARTA, (10/11) — Keberadaan media elektronik, seperti tv dan radio dan media konvensional, seperti koran dan majalah lebih kepada pemberitaan sosialisasi visi, misi, program dan liputan kunjungan bertemu dan berdialog (blusukan) Paslon kepada masyarakat. Debat publik (terbuka) hanya beberapa hari saja sementara kampanye debat (cyber war) di sosmed berlangsung sekitar 4 bulan (mulai awal masa kampanye hingga masa tenang), bahkan sebelum kampanye sudah mulai ada sosialisasi dan dukung mendukung calon di sosmed.

Cyber war di sosmed ini secara official diwakili oleh timses masing-masing Paslon namun prakteknya lebih banyak melibatkan pihak lain seperti tim relawan dan para fans serta simpatisan masing-masing Paslon bahkan netizen yang awalnya apatis dengan politikpun turut meramaikan pertempuran di dunia maya ini.

“Jadi kalo kita ibaratkan kampanye pilkada di sosmed ini seperti pertarungan di dunia persilatan, ada “serang-hindar” maka serangan dan hindaran terhadap Paslon itu bisa berasal dari delapan (8) penjuru mata angin dengan segala macam jurus dan senjata yang dimiliki, makanya jika kita cermati postingan berita dan broadcast (text, infographis, audio, video), klarifkasi dan bantahan serta serangan balik dari masing-masing tim sosmed Paslon begitu dinamis, cepat dan proaktif bahkan sering reaktif. Karena perangnya sangat terbuka dan tidak terbatas ruang dan waktu (borderless) serta semua pemilik akun (baik akun asli/palsu atau anonym) di sosmed bisa turut peran serta, tak jarang pertarungan pilkada ini dimanfaatkan oleh provokator yang punya maksud buruk untuk mengadu domba dan menciptakan keresahan di tengah masyarakat dengan cara menyebarkan fitnah, hate speech, kebohongan publik, ujaran kebencian dan sebagainya,” papar Hasnil Fajri, Ketua Umum ICT Care dalam siaran persnya yang diterima Redaksi Kamis Siang (10/11).

BACA JUGA:  Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Halmahera Barat

Tambahnya, beruntung kita sudah punya UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) no 11 tahun 2008 yang sekarang sedang dalam proses revisi, yang bisa dijadikan rujukan sebagai aturan tentang informasi serta transaksi elektronik atau teknologi informasi secara umum yang didalamnya juga mencakup perlindungan hukum atas kegiatan yang memakai internet sebagai medianya baik transaksi maupun pemanfaatan informasinya juga dapat mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan internet yang merugikan. Jangan lupa pihak kepolisian melalui tim cybernya akan mengawasi kampanye di sosmed jika terdapat postingan yang melanggar UU ITE akan diproses secara hukum.

BACA JUGA:  Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Halmahera Barat

Tentu kita berharap Cyber War di sosial media pada Pilkada kali ini lebih mengedenpankan kampanye positif seperti visi, misi dan program serta kelebihan dan keunggulan masing-masing Paslon ketimbang kampanye negatif apalagi kampanye hitam (black campaign) dan berbau SARA (suku agama ras dan antar golongan) sebaiknya dihindari.

Betapa kekuatan sosial media dan teknologi begitu dahsyat dan powerful untuk pembuatan, pembentukan dan penggiringan opini terhadap Paslon dan persepsi yang dibangun untuk pencitraan karakter masing-masing paslon kepada publik di Pilkada DKI khususnya dan Pilkada serentak 2017 umumnya.

BACA JUGA:  Selamatkan Ibu dan Bayi Baru Lahir, Pemkab Tangerang, Alfamart dan FOPKIA Luncurkan Gerai KIA

Comments

comments

Komentar

News Feed