Sertifikasi Gratis Bisa Dorong Daya Saing Industri

Ilustrasi sertifikasi kayu. (Istimewa)
Ilustrasi sertifikasi kayu. (Istimewa)

DEPOKPOS – Persaingan bisnis semakin ketat. Bermacam kualifikasi pun harus dipenuhi supaya produk yang dihasilkan tetap diminati konsumen.

Selain itu, pemerintah pun terus berupaya untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri dengan produk asing sehingga dibuat Standar Nasional Indonesia (SNI). Namun hanya sedikit industri kecil menengah (IKM) yang mampu memenuhi SNI.

Oleh karena itu, merayakan ulang tahun ke-60 PT Sucofindo bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengadakan Pelatihan dan Fasilitasi Sertifikasi SNI Wajib Mainan Anakdan Sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dengan tema Menyiapkan IKM Berstandar Menghadapi Persaingan Pasar Global.

Manager Marketing Laboratorium PT Sucofindo Ause Perthiana dan Pertugas Laboratorium PT Sucofindo Ashahib Fresha memberikan demonstrasi mengenai mainan anak yang berstandar. Menggunakan push pull dynamometer, Ashahib mempraktikan uji SNI secara fisik atau mekanik dengan menarik mata boneka lebah dengan gaya 70 N.

Pengujian fisik dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah uji jatuh dengan ketinggian 138 cm untuk mainan anak usia 0 buan-18 bulan dan 93 cm untuk mainan anak usia 18 bulan-96 bulan. Selain itu, ada juga uji putar untuk bagian menonjol sebesar 180 derajat atau dengan gaya 0,45 Nm selama 10 detik. Uji tekan dilakukan dengan gaya 114 N-138 N selama 10 detik.

BACA JUGA:  Ketahui Cara Aman Melakukan Pinjaman Online

“Demonstrasi pengujian yang dilakukan hanya untuk sifat fisik karena alatnya portable, bisa dibawa kemana-mana. Ada 10 jenis bahaya mainan anak yang harus diwaspadai dan dihindari oleh produsen,” ungkap Ause saat berbincang dengan Espos di The Sunan Hotel Solo, Kamis (20/10).

Mainan anak bisa menyebabkan bahaya, diantaranya tertelan/tersedak, kerusakan alat penderangan, bahaya untuk mata, tercerat/tercekik, tersayat/tergores, terjatuh, terjepit, tersetrum, terpapar zat kimia berbahaya, dan terbakar. Oleh karena itu, parameter yang diukur diantaranya adalah sifat fisik,mudah terbakar, migrasi unsur tertentu, ayunan/seluncur, dan mainan elektrik.

Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan mainan anak di Indonesia ada ribuan tapi baru sedikit yang bersertifikasi. Mainan tersebut kebanyakan terbuat dari plastik dan karet yang pengujian kebanyakan dilakukan pada kandungan kimia.

Kepala Bidang Pengujian Sertifikasi dan Kalibrasi Balai Besar Kerajinan dan Batik Jogja, Retno Widyastuti, menyampaikan setiap unsur yang ada dalam mainan diuji, untuk kandungan kimia yang diuji diantaranya logam berat, phthalate, formaldehyde, dan azodyes.

Masing-masing unsur tersebut memiliki batas maksimal yang diperbolehkan terkandung dalam mainan, seperti batas phthalate yang diizinkan adalah 0,1 ppm tapi untuk balon biasanya ada yang kandungannya mencapai 13 ppm sehingga berbahaya bagi kesehatan anak.

BACA JUGA:  Selamatkan Ibu dan Bayi Baru Lahir, Pemkab Tangerang, Alfamart dan FOPKIA Luncurkan Gerai KIA

Dia menyampaikan mainan anak yang tidak baik juga akan menyebabkan kepekatan timbale dalam darah dan berpengatuh terhadap sistem syaraf, diantaranya gangguan perkembangan tingkah laku, penurunan tingkat kecerdasan, melambatnya kecepatan konduksi syaraf, penyakit sistem syaraf tepi, dan penyakit degenerative otak. Dia menjelaskan biaya sertifikasi ini berbeda, tergantung banyaknya unsur yang harus diujia, semakin banyak, biaya semakin mahal.

Pemilik Indrajaya Handicraft, Sofyan, mengapresiasi upaya yang dilakukan Sucofindo dan Kemenperin ini. Dia mengungkapkan sudah membuat bermacam kerajinan kayu selama 15 tahun dan lima tahun terakhir, produknya telah diekspor ke Australia, Rusia, dan Turki.

Dalam sebulan biasanya mampu memproduksi 1.000 unit produk aneka bentuk,seperti mobil-mobilan, vespa, Harley, kapal, dan pesawat. Meski telah diekspor tapi diakuinya belum memiliki sertifikat SNI. Hal ini karena adanya kendala dalam pengurusan izin usaha. Oleh karena itu, melalui kegiatan tersebut bisa cepat memperoleh izin usaha dan sertifikat SNI. Hal ini mengingat acara yang diadakan dari pagi hingga sore ini juga menyediakan help desk bagi pelaku IKM untuk kemudahan pengurusan izin dan sertifikasi karena kegiatan ini juga menggandeng dinas terkait yang ada di Soloraya.

Lebih lanjut, Gati mengungkapkan daya saing mainan anak Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan Vietnam dan Thailand, bahkan selama empat tahun terakhir terus menurun. Oleh karena itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendukung daya saing untuk di pasar lokal maupun internasional. Setiap tahun pun, Kemenperin biasanya memfasilitasi 20 IKM mainan anak untuk bisa memperoleh sertifikasi.

BACA JUGA:  Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Halmahera Barat

“Hari ini pelatihan dan edukasi, pengmpulan berkas untuk proses sertifikasi tidak harus dilakukan hari ini tapi first in first out ,” kata dia.

Namun dia mengatakan ditargetkan 2019 apabila masih ada IKM yang belum memenuhi syarat, khususnya dari sisi perizinan akan dibantu untuk pengurusan. Pihaknya pun berharap di daerah penerapan pengajuan izin tanpa mengajukan HO bagi IKM bisa segera direalisaikan seperti instruksi Presiden, Joko Widodo. Hal ini mengingat IKM biasanya dilakukan di rumah sehingga kesulitan mendapatkan HO.

Direktur Komersial 1 PT Sucofindo M. Heru Riza C. mengatakan fasilitasi sertifikasi gratis ini sebagai salah satu bentuk corporate social responsibility (CSR) untuk memperingati ultah ke-60. Oleh karena itu, bagi IKM yang telah mendapat sertifikat SNI dan SVLK, nantinya akan diundang ke Jakarta untuk penyerahan sertifikat pada 26 Oktober saat perayaan ulang tahun. (Asiska Riviyastuti/JIBI/Solopos)

| Editor: San

Comments

comments

Komentar

News Feed