Mengenal Lara Cerosky, Gadis Asal Perancis yang Lakukan Riset Budaya Betawi

Lara Cerosky. (San/DepokPos)
Lara Cerosky. (San/DepokPos)

DEPOKPOS – Namanya Lara Cerosky, seorang gadis asal Lyon, Perancis, yang kini sedang melanjutkan studi di salah satu universitas di Jerman.

Berbincang dengan gadis cantik ini memang menyenangkan, banyak yang bisa dibahas tentang Betawi. Ketertarikannya yang kuat akan suku dan budaya asli di Indonesia membuatnya banyak tahu akan budaya dan adat istiadat Betawi.

Hal tersebut cukup mengejutkan mengingat Lara belum lama berada di Jakarta, bahkan belum genap seminggu. Namun ketertarikannya tersebutlah yang membuatnya belajar banyak tentang kultur Betawi.

Ditemui di homestay-nya selama di Jakarta, di kediaman Bu Haji Entong di kawasan Setu Babakan, Lara bercerita banyak soal bagaimana dia bisa sampai ke Jakarta.

“Saya disini untuk sebuah riset tentang budaya Betawi,” katanya memulai obrolan dalam bahasa Inggris. “Saya disini atas bantuan sebuah yayasan asal Perancis yang bernama Foundation Zellidja, yayasan ini memberikan bantuan finansial anak-anak muda seperti saya yang berusia antara 16 tahun hingga 21 tahun untuk melakukan perjalanan ke Negara pilihan mereka dan fokus kepada subyek (riset) pilihan mereka.”

Lebih lanjut Lara mengatakan mengapa tujuannya Indonesia adalah karena dia tertarik akan suku-suku asli yang ada di Indonesia dengan kultur yang spesial. Terutama suku asli di Papua.

“Saya tiba di Jakarta pada 9 September yang lalu dan tak tau memulai dari mana,” ujarnya sambil tertawa.

Lara lalu melakukan pencarian tentang apa yang bisa dia lakukan hingga akhirnya bertemu Bang Dedi.

“Bang Dedi bilang kepada saya; Lara, kamu tak harus ke Papua untuk mencari tau tentang suku asli di Indonesia karena di Jakarta ini juga ada suku asli dengan budaya asli,” jelasnya.

Lara pun akhirnya tertarik dan keesokan harinya dengan di antar oleh Bang Dedi, dia menemui pengurus Perkampungan Budaya Betawi.

“Saya lalu bertemu mereka dan mereka tertarik dengan proyek yang saya lakukan (riset – red) serta memberikan saya banyak pilihan dan disinilah saya sekarang,” jelasnya.

Lara mengakui bahwa waktu untuk dia melakukan penelitian tentang budaya Betawi tidaklah cukup lama, tapi cukup untuk sedikit mengenal tentang budaya Betawi.

“Saya tak bisa bilang telah mengetahui banyak tentang budaya Betawi karena saya disini bari seminggu, saya banyak berinteraksi dengan orang-orang di forum (Perkampungan Budaya Betawi – red), terutama Bang Indra,” lanjutnya.

Tentang Bang Indra, Lara mengatakan bahwa pria asli Betawi ini sangat berkharisma dan dia banyak menjelaskan tentang banyak hal.

“Tapi masalah utama saya adalah kendala bahasa, tak banyak orang disini yang berbicara bahasa Inggris jadi saya sangat mengandalkan Bang Dedi yang menjadi penterjemah. Namun satu interview saja bisa menghabiskan waktu hingga satu jam dan Bang Dedi tak bisa menterjemahkan semua pembicaraan panjang itu, jadi sangat sulit untuk saya menangkap detailnya,” jelas gadis yang berayahkan dari Perancis dan Ibu dari Jerman tersebut.

Lara menambahkan bahwa dia cukup beruntung karena kunjungannya ke Jakarta bertepatan dengan sebuah festival yang saat ini sedang berlangsung di Setu Babakan jadi bisa banyak tau tentang Betawi.

Tentang riset ini sendiri, Lara mengatakan bahwa program dari Fondation Zellidja sendiri memang sangat menakjubkan. Yayasan ini dikatakan Laura telah banyak membantu anak-anak muda dengan rasa ingin tau yang tinggi tentang budaya tapi tak punya cukup dana untuk melakukan perjalanan.

“Dalam kondisi ini, kami harus bepergian sendirian, itulah kenapa saya sendirian.”

Untuk perjalanan ini, minimal waktu yang dibutuhkan adalah sebulan, sementara Lara berada di Indonesia selama 6 minggu terhitung sejak 9 September lalu.

“Saat kembali nanti, kami harus memberikan laporan tentang perjalanan kami jadi saya putuskan untuk membuat sebuah film pendek tentang perjalanan saya ini. itulah mengapa saya kemana-mana selalu membawa kamera,” ujarnya.

Dari hasil interview-nya dengan tokoh-tokoh Betawi, Lara mengatakan bahwa harapan terbesar mereka adalah bahwa generasi yang akan datang dari suku Betawi akan terus melestarikan budaya Betawi hingga ratusan tahun yang akan datang.

Harapan Lara sendiri adalah bahwa merupakan mimpinya untuk bisa melihat orang-orang dari suku dan budaya yang berbeda bisa hidup bersama dalam harmoni. Dan apa yang ada di Jakarta bisa menjadi contoh bahwa banyak orang dari suku dan budaya berbeda bisa hidup bersama.

“Satu hal yang saya sukai disini adalah bahwa orang-orang selalu tersenyum setiap saat, mereka selalu menawari saya untuk mampir ke tempatnya. Mereka selalu bilang ‘datanglah ketempat saya, kita minum teh atau kopi’. It’s really nice to be here!, dan makanannya juga sangat enak,” ujarnya tak lepas dari senyuman dan tawa ringan.

Obrolan lalu berlanjut kepada canda-canda ringan, kami saling bercerita tentang banyak hal berbeda dari budaya masing-masing hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan kami pun berjanji untuk melanjutkan obrolan di hari berikutnya. (San)

Comments

comments

Komentar

News Feed