Benarkah Karir Agus Yudhoyono Dibunuh Oleh Demokrat Atau Justru Sebaliknya?

Arsip foto saat Lettu Inf. Agus Harimurti Yudhoyono mencium tangan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, di bandara internasional Soekarno - Hatta, Rabu (8/11/2016) petang, sebelum terbang ke Lebanon. (Presidensby.info/Abror Rizki)
Arsip foto saat Lettu Inf. Agus Harimurti Yudhoyono mencium tangan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono, di bandara internasional Soekarno – Hatta, Rabu (8/11/2016) petang, sebelum terbang ke Lebanon. (Presidensby.info/Abror Rizki)

Oleh: Muhammad Iksan

Jakarta hari ini dikejutkan dengan tampilnya nama Agus Yudhoyono kedalam pertarungan perebutan kursi DKI 1. Saya pribadi terkejut, nama Agus tak pernah ada sebelumnya dalam bursa Cagub maupun daftar survey, lalu tiba-tiba muncul sebagai nama resmi yang memasuki pertarungan.

Padahal sebelumnya saya sangat yakin bahwa pertarungan menuju DKI 1 akan tampil nama Yusril Ihza Mahendra  dan Sandiaga Uno head to head melawan incumbent Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok dan Jarot. Tapi ternyata nama Yusril malah tenggelam dan tergantikan eks Mendikbud, Anies Baswedan.

Betul, munculnya nama Agus Yudhoyono memang mengejutkan, bahkan Ketua DPP Partai Demokrat, Ruhut Sitompul beranggapan bahwa karir Agus di militer telah dibunuh oleh Partai Demokrat dan ayahnya sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Statement dari Ruhut yang dikenal sebagai pendukung Ahok ini bahkan menjadi headline di Kompas.com dengan judul: “Ruhut: Agus Yudhoyono Dibunuh Kariernya di TNI oleh Demokrat“.

Berita di Kompas tersebutlah yang kemudian membuat saya tertarik untuk membuat tulisan ini. Anggap saja sebuah analisa abal-abal dari seorang yang tak memiliki hak pilih di Pilgub Jakarta, hehee..

Benarkah karir Agus Yudhoyono dibunuh? atau justru sebaliknya?

SBY adalah seorang ahli strategi, semua mengakui hal tersebut, entah kawan maupun lawan politiknya. Kita ingat bahwa jelang pilpres tahun 2004, elektabiliitas SBY waktu itu hanya 10% dan lawannya Megawati Soekarno Putri sudah mencapai 40%. Namun trend Bu Mega waktu itu terus menurun dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh SBY untuk memenangi pertempuran.

Pun hari ini, elektablitas Ahok juga terus menurun seiring semakin banyaknya bermunculan kelompok-kelompok warga Jakarta yang mendeklarasikan gerakan anti Ahok. Bukan tanpa sebab, penggusuran di beberapa wilayah Jakarta menjadi penyebab utama merosotnya elektabilitas Ahok, dan tentu mendapatkan perhatian khusus dari SBY.

Selayaknya seorang yang memasuki pertarungan, maka kemungkinannya adalah menang atau kalah. Survey bisa saja memunculkan presentasi kemungkinan menang atau kalah, namun sejatinya, peluang seseorang menang atau kalah adalah 50-50. Dalam konteks ini, saya melihat ada 3 kemungkinan terkait masuknya Agus kedalam Pilgub DKI.

1. Menang langsung dalam satu putaran.

Walau menurut saya peluangnya kecil, tapi ini bukan tak mungkin. Segalanya bisa saja terjadi mengingat pemilih jakarta adalah pemilih yang cair. Belum pernah ada dalam sejarah Pilgub Jakarta di era pemilihan langsung, seorang Gubernur memenangi dua pertarungan berturut-turut.

Ditambah dengan kepiawaian SBY memainkan strategi sebagai masternya pencitraan. Semakin menurunnya elektabilitas Ahok seiring penggusuran dan banjir yang tak reda serta kampanye yang dianggap berbau sara yang dimainkan kubu pendukung Anies – Sandi Uno, membuat SBY bisa memainkan peran penting dalam pencitraan Agus terhadap dua kubu lawannya di pertarungan nanti.

Intinya, menang dalam satu putaran memang berat dan nyaris mustahil, tapi kemungkinan tetap ada.

2. Menang dalam dua putaran.

Dari 3 calon pasangan yang ada, Agus menang dan akan berhadapan head to head dengan salah satu pasangan lainnya.

  • Skenario 1; Pasangan Anis-Sandi Uno kalah dan Agus head to head dengan Ahok. Suara dari basis pendukung Anis-Sandi yang dalam masa pra kampanye selalu mengusung tema “Gubernur Muslim” akan beralih kepada Agus yang notabene juga adalah seorang Muslim. Dan kemungkinan Agus memenangkan head to head dengan Ahok menjadi bertambah besar.
  • Skenario 2; Pasangan Ahok-Jarot kalah di putaran pertama dan Agus head to head melawan Anies-Sandi Uno. Hampir bisa dipastikan Agus akan mendapatkan limpahan suara dari basis pendukung Ahok yang notabene berbeda basis ideologi dengan pendukung Anis-Sandi Uno. PDIP mungkin akan abstain dalam pertempuran ini, tapi basis suara bawah akan menjadi milik Agus dan kesempatan Agus menang sangat besar.

3. Kalah di Pilgub DKI.

Ini adalah skenario terburuk. Kalah dan tak mendapatkan apa yang diperebutkan sementara karir militer Agus sudah selesai seiring majunya dia dalam Pilgub DKI.

Pertanyaannya adalah, apakah karir Agus tamat? atau dengan kata lain, seperti yang diucapkan Ruhut, karir Agus dikorbankan demi ambisi Demokrat?

Tidak! Sebagai ahli strategi, SBY pasti sudah memperhitungkan hal ini. Menang atau kalah, nama Agus Yudhoyono sudah dipersiapkan untuk memimpin Demokrat dimasa mendatang (ini pendapat saya, bukan hasil investigasi).

Karir Agus akan lebih mengkilap di jalur politik bersama Demokrat ketimbang terus berada di militer mengingat keluarga Cikeas tak berada dilingkaran kekuasaan. Dengan menyandang nama besar Yudhoyono, Agus diangap sebagai sosok yang paling tepat meneruskan Demokrat, seperti layaknya nama Megawati di PDIP. Saya juga yakin nama Agus Yudhoyono akan muncul dalam bursa pertarungan pemilihan presiden, entah itu 2019 atau 2024.

Bahkan bukan tak mungkin Agus Yudhoyono akan menciptakan sejarah sebagai Presiden termuda dalam sejarah Indonesia.

Maka kembali kepada pertanyaan awal, Benarkah karir Agus dibunuh atau justru sebaliknya? Anda tentu sudah mendapatkan jawabannya dengan analisa anda sendiri. (San)

Comments

comments

Komentar

News Feed