Rentenir Tumbuh Subur Bak Jamur di Musim Hujan

rentenir-212.jpg

Memasuki bulan Ramadhan dan diikuti tingginya kebutuhan menjelang lebaran mungkin membuat sebagian orang berpikir pendek untuk mendapatkan uang secara instant. Tak sedikit dari mereka yang terjebak kepada perbuatan kriminal demi memenuhi tuntutan tersebut.

Sebahagian lainnya mungkin menggunakan cara “halal” untuk mendapatkan uang tunai secara cepat, lewat tangan rentenir misalnya. Halal? ya, paling tidak menurut hukum positif yang membolehkan praktik riba diberlakukan dikehidupan sehari-hari, walau hukum Agama -dalam hal ini hukum Agama mayoritas penduduk Indonesia (Islam)-  jelas melarang keras praktik riba yang mencekik masyarakat kecil ini.

Lalu apa itu rentenir? Sejatinya istilah rentenir berasal dari bahasa Belanda, yakni rente yang artinya meminjamkan. Mereka yang suka meminjamkan ini disebut rentenir. Bagi sebagian orang, rentenir sudah menjadi profesi dengan cara membungakan uang atau tukang riba.

BACA JUGA:  Walikota Depok Serahkan Penghargaan untuk Sekolah Terbaik di Awards IDN 2019

Adapun mengenai praktik riba atau pinjam-meminjam uang yang disertai dengan bunga memang dibenarkan menurut hukum Negeri kita, hal ini berdasarkan ketentuan Pasal 1765 KUH Perdata, yang merumuskan “bahwa adalah diperbolehkan memperjanjikan bunga atas pinjaman uang atau barang lain yang habis karena pemakaian”.

Sampai berapa besar “bunga yang diperjanjikan” tidak disebutkan, hanya dikatakan: asal tidak dilarang oleh undang-undang. Pembatasan bunga yang terlampau tinggi hanya dikenal dalam bentuk “Woeker-ordonantie 1938”, yang dimuat dalam Staatblaad (Lembaran Negara) tahun 1938 No. 524, yang menetapkan, apabila antara kewajiban-kewajiban bertimbal-balik dari kedua belah pihak dari semula terdapat suatu ketidak-seimbangan yang luar biasa, maka si berutang dapat meminta kepada Hakim untuk menurunkan bunga yang telah diperjanjikan ataupun untuk membatalkan perjanjiannya (Prof. R. Subekti, S.H., Aneka Perjanjian, hal. 1985: 130).

BACA JUGA:  Wali Kota Depok: Penyelenggara Negara Harus Siap Diperiksa dan Laporkan Kekayaaan

Hal inilah yang membuat praktik rentenir tumbuh subur bak jamur dimusim penghujan. Karena memang para rentenir ini berlindung dibalik dasar hukum diatas.

Di Kota Depok, selama Ramadhan ini saja Dinas Koperasi, UMKM dan Pasar (DKUP) Kota Depok melihat ada peningkatan praktik rentenir. Praktik peminjaman dengan bunga lebih 10 persen tersebut, diperkirakan bakal terus meningkat hingga lebaran nanti.

Kepala Bidang Koperasi DKUP, Matteo Da Silva mengatakan, praktik rentenir yang dilakukan perorangan mulai marak di tengah masyarakat. Mereka memanfaatkan kebutuhan masyarakat yang tinggi selama Ramadan dan jelang lebaran.

BACA JUGA:  Festival Bojongsari Meriahkan HUT ke-20 Kota Depok

“Rentenir meminjamkan uang tunai dengan bunga yang sangat tinggi, kami sulit mencegah praktik ini sebab tidak punya kewenangan dalam menindak,” ujarnya seperti dikutip situs resmi Pemkot Depok, Jum’at (10/6/2016).

Wajar jika pihak berwenang kesulitan menghentikan atau sekedar meminimalisir praktik yang sangat merugikan masyarakat ini. Bagaimanapun, dibutuhkan dasar hukum yang kuat agar praktik riba melalui tangan-tangan kotor para rentenir ini bisa dihentikan.

Sekedar himbauan dari Pemkot Depok untuk menjauh dari jeratan rentenir sepertinya masih jauh dari cukup. Sekali lagi, dibutuhkan payung hukum yang kuat agar praktik yang menjerat leher masyarakat kecil ini bisa dihentikan, paling tidak di Kota tercinta ini.

Muhammad Ihsan
Redaktur Depokpos.com

Komentar

Berita lainnya