Pasar Depok Jaya Lepas Dari Kesan Pasar Becek

272155ab-7064-48a9-89dd-e5eb4127c0d8_169 (640x427)

Depok merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang sangat cepat perkembanganya. Sebelum seperti saat ini, Depok pernah menjadi bagian dari Kabupaten Bogor yang terdiri dari 21 desa. Baru setelah lepas dari Kabupaten Bogor, Depok berubah menjadi Kota Administratif. Perkembangan ekonomi di kota dengan maskot buah belimbing ini juga berkembang dengan sangat pesat, salah satunya tumbuh berbagai pusat perbelanjaan, mulai dari pasar tradisional hingga pasar modern dan mall-mall elite.

Bicara soal pasar tradisional, pada awalnya depok hanya memiliki pasar tradisional di Jalan Dewi Sartika. Dengan pesatnya perkembangan ekonomi di Depok, lahirlah berbagai pasar tradisional di kecamatan-kecamatan yang ada di Depok. Salah satunya Pasar Depok Jaya yang terletak di Jalan Nusantara Raya, pasar ini dapat disebut sebagai pasar untuk menggantikan “pasar becek” di Jalan Dewi Sartika.

Pasar Depok Jaya dibangun guna meningkatkan masyarakat untuk lebih memilih berbelanja di pasar tradisional ketimbang di swalayan. Pasar ini memiliki bangunan yang sangat mendukung kenyamanan para pembeli saat berbelanja, dengan konsep indoor (di dalam ruangan tertutup) para pembeli maupun pedagang tidak perlu mengkhawatirkan hujan atau terik matahari yang dapat mengganggu proses jual-beli. Setiap harinya tidak kurang dari seribu pengunjung datang untuk berbelanja, tak hanya di pagi hari tetapi Pasar Depok Jaya juga ramai dimalam hari. Para pengunjung diubah pola pikirnya tentang pasar tradisional yang selama ini terkesan bau, kotor, dan jalanan becek.

Di sini para pembeli tidak akan menemukan hal-hal tersebut, sehingga mereka lebih nyaman untuk berbelanja. Selain mengutamakan kenyamanan pembeli, Pasar Depok Jaya juga di desain agar para pedagang pun ikut merasa nyaman. Setiap kios terjajar rapih, pembagian blok pedagang ditentukan berdasarkan jenis dagangan yang mereka jual. Hal ini juga tentunya sangat menguntungkan bagi para pembeli karena mereka tidak perlu repot-repot lagi dimana harus mencari sayur, buah, tempe, ataupun daging-dagingan, semua sudah teratur dengan sangat rapih.

“Di sini belanjanya enak, jalanannya ga becek dan ga bau juga beda sama pasar tradisional lainnya. Jadi betah kalau harus lama-lama belanja,” ujar Muriah, salah satu pengunjung yang di temui sedang berbelanja di blok daging.

Sayuran maupun daging yang dijual sudah dapat dipastikan kesegarannya, hal tersebut karena para pedagang selalu mengganti dengan sayuran segar setiap harinya. Di sudut paling kanan pasar terdapat blok penjual daging ayam, daging sapi, dan ikan.

Para penjual ayam di sini selain menjual ayam yang sudah dipotong, mereka juga menjual ayam yang masih hidup. Setelah isu ayam berformalin dan ayam tiren membuat sebagian pedagang ayam kehilangan banyak kepercayaan dari pembeli, alasan tersebut yang membuat para pedagang ayam juga menjual ayam hidup siap potong agar mereka dapat mengembalikan kepercayaan konsumen. Selain pedagang ayam, para pedagang ikan di sini pun juga menjual ikan segar yang masih hidup.

“Sebagian pembeli lebih memilih ayam yang masih hidup lalu dipotong di sini. Biasanya mereka beli ayam hidup karena kalau ayam baru dipotong itu lebih segar dan lebih enak buat dijadikan masakan,” ujar Agus, salah satu pedagang ayam.

Memang jika kita lihat dari luar, sekilas Pasar Depok Jaya tidak terlihat sebagai pasar tradisional karena bentuknya yang memang permanen dan berbeda dengan pasar tradisional lainnya yang biasa kita temui berjualan kaki lima di luar ruangan. Selain itu di lantai 2 dan 3 Pasar Depok Jaya juga diisi oleh pedagang baju, sepatu, tas, dan bahan sandang lainnya. Sehingga selain dapat berbelanja bahan pangan, para pengujung pasar juga dapat membeli keperluan rumah tangga maupun kebutuhan pribadi lainnya di sini.

Sartika Septiana

Comments

comments

Komentar

News Feed