Kisah Penjual Tas Karung di Pasar Kemiri

1 (384x640)
Hasan sedang menjajakan dagangannya.

DEPOK – Seorang laki-laki setengah abad dengah langkah kecilnya terus berjalan mengitari setiap lapak dagang yang ada di Pasar Kemiri Muka, Depok. Menjajakan barang dagangan yang dibawanya, dari satu pengunjung ke pengunjung lain.

Hasan (50), di tengah ramainya para pedagang dan pembeli, laki-laki yang telah berumur ini terus berkeliling area pasar. Sambil membawa beberapa tas karung di tangan, ia menyerukan dagangannya.

Dengan senyum yang terus terukir di wajah, ia mulai menjajakan tas karung belanjaan dagangannya, menawarkan kepada satu pengunjung ke pengunjung lainnya. “Tas karungnya Bu, buat bawa barang belanjaannya. Di jamin kuat, cuma Rp3.000 saja,” serunya kepada setiap pengunjung yang ditemuinya.

BACA JUGA:  Aturan Ganjil Genap di Margonda Depok Belum Akan Diberlakukan

“Tas belanjaan ini saya buat dari karung bekas. Karung saya beli borongan terus saya potong dan saya jahit sendiri di rumah pakai mesin jahit sampai jadi bentuk tas jinjing gini. Sebelumnya jualan ini saya juga pernah jualan kantong plastik. Tapi setelah tau imbauan tentang kantong plastik, saya beralih ke tas karung. Lagi pula kantong plastik penggunaannya hanya  jangka pendek,” ujar Hasan.

BACA JUGA:  Walikota Depok Serahkan Penghargaan untuk Sekolah Terbaik di Awards IDN 2019

Bertahun-tahun sudah ia menjalani aktivitasnya ini, mengais rezeki dari satu lapak dagang ke lapak dagang yang lain demi keluarga di rumah. Dalam suasana pagi yang masih gelap tertutupi awan ia memulai kegiatan hariannya, berkeliling pasar menjajajakan dagangannya. Bahkan ketika matahari telah menampakan diri dan pasar mulai sepi, ia masih tetap enggan beranjak dari sana.

“Saya jualan keliling di sini dari sekitar 3 tahun lalu. Biasanya saya mulai jualan dari sebelum subuh, kalo selesainya tidak tentu, yang jelas sampai pasar udah benar-benar sepi baru saya pulang,” ujarnya.

BACA JUGA:  Pemkot Depok Akan Bangun Perlintasan MRT

Hasan juga menambahkan, penghasilan yang didapatnya dalam satu hari tidak menentu, terkadang kalau sedang sepi ia hanya mendapat kurang lebih Rp25.000, dan jika lagi ramai bisa mencapai Rp50.000 lebih.

Penghasilan tak menentu yang tiap hari didapatnya, hanya mampu disyukuri dengan ikhlas. Penolakan demi penolakan yang sering kali diterimanya dari pengunjung, tidak menjadikannya berkecil hati. Semangat dan kesabaran senantiasa selalu ditunjukkannya.

Risty Mirsawati

Komentar

Berita lainnya