Sebuah Pilihan di Usia 17 Tahun

Yaya Suryadarma (dok)
Yaya Suryadarma (dok)

DEPOK (27/4)  — Sweet Seventeen. Sungguh manis.  Demikian ketika  menginjak usia 17 tahun. Di usia ini boleh dibilang  suatu fase  ukuran titik balik kedewasaan.  Pada usia 17 tahun, biasanya seorang remaja akan mulai  memilih dan menentukan jalan kehidupannya.

Nah, tepat 27 April 2016 ini Kota Depok masuk di fase itu. Walikota dan wakil Walikota terpilih hasil Pilkada serentak 2015 kemarin dihadapkan sejumlah tantangan dalam pembangunan Kota Depok yang lebih bermartabat dan modern. Sebuah pilhan dihadapkannya.

Meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang dihadapi Mohammad Idris Somad – Pradi Supriatna untuk menjadikan Kota Depok sejajar dengan kota-kota lain. Hanya dengan kesungguhan dan keseriusan saja bagi pemimpin kota Depok itu berbuat.

BACA JUGA:  Wali Kota Persilahkan Warga Gunakan Taman Kelurahan Untuk Kegiatan

Depok, notabenenya sebagai kota yang paling dekat dengan Ibukota negara. Penduduknya hampir 80% pendatang dan mencari nafkah di Jakarta. Belum lagi  kota “Belimbing” ini berdiri banyak kampus. Sebut saja, Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, dan lain sebagainya.

Sejatinya, Kota Depok bisa disebut sebagai Kota Pelajar. Karena tetangga terdekat Depok seperti Lenteng Agung juga berdiri kampus-kampus swasta yang mahasiswa-mahasiswinya berindekos di kawasan Margonda maupun Kukusan Beji.

Ilustrasi macet.
Jalan Margonda Raya. (Ist)

Kalau ditelaah secara perputaran ekonomi, kota Depok tak kan mati. Malah tumbuh subur. Lihat saja, apartemen, mall, ruko, perumahaan, perkantoran, resto semakin menjamur. Belum lagi kulinernya.

BACA JUGA:  Resmikan RSUI, Menristekdisti Harapkan Bisa Berikan Pelayanan Global

Misal, sepanjang jalan Margonda. Kemacetan tak dihindari. Jelang sore sampai malam, nadi kehidupan di situ tak berhenti. Apalagi weekend. Tak hanya di Margonda. Jalan Raya Sawangan menuju Parung pun sudah menjadi langganan macet.

Apalagi di hari ulang tahun kota Depok ke 17, KH. Dr. Mohammad Idris MA selaku Walikota mencanangkan ingin membangun kota Depok dengan tagline Fiendly City, kota nan ramah atau Depok Bersahabat. Akan tercapai kah?

Belum lagi, dalam kepemimpinannya itu dihadapkan untuk mewujudkan ikon baru Kota Depok dengan membangun infrastruktur tiga proyek mercusuar  seperti mendirikan Terminal Terpadu Kota Depok di jalan Margonda Raya, Alun-alun Kota Depok di Taman Balaikota, dan Jalan Layang Tiga Tingkat Markaswangi (Margonda-Kartini-Dewi Sartika-Siliwangi).

BACA JUGA:  BNN Depok Akan Rekrut Pegiat Narkoba

Rasanya tak mengecilkan cita-cita itu. Di usia 17 tahun,  Kota Depok ini harus sudah menjadi kota yang dewasa dan sudah bisa memilih. Haruskah konsentrasi terus menerus di Margonda raya saja atau malah melebarkan sayap ke belakang seperti ke kawasan Grand Depok City atau Citayem atau Sawangan atau Bojong Sari atau Cinere?     (Yaya Suryadarma)

 

 

 

Comments

comments

Komentar

News Feed