Peneliti: Pelaku LGBT Tidak Bisa Atasnamakan Pancasila

Susanan seminar LGBT di kampus UI Depok. (des)
Susanan seminar LGBT di kampus UI Depok. (des)

Bicara LGBT tidak terlepas dari gerakan feminisme. Hubungan antara feminisme dan homoseksualitas tersebut meliputi konsep gender dan the other, kebebasan seksual dan homoseksual (lesbi, homo dsb). Hal itu dikatakan Peneliti INSISTS Dr. Dinar Dewi Kania dalam diskusi ilmiah bertemakan “Homoseksual & Gerakan Feminisme” di Kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, belum lama ini.

Mengutip Susan Osborne, feminisme adalah cara melihat dunia (worldview) dimana perempuan melihatnya dari perspektif perempuan. Feminisme memusatkan perhatiannya kepada konsep patriarki yang dimaknai sebagai sistem kekuasaan laki-laki yang menindas perempuan melalui lembaga-lembaga sosial, politik dan ekonomi.

“Mengenai konsep the other (LIAN), De Beauvoir mengutip pandangan Michelet yang mengatakan bahwa wanita adalah wujud (being) yang relatif. Pria dapat berpikir tentang diri mereka sendiri tanpa wanita, sedangkan wanita tidak bisa memikirkan diri mereka sendiri tanpa pria. Dan dia (wanita) hanyalah sebatas apa yang ditetapkan Pria.”

Oleh karena itu wanita dipanggil “the Sex” yang berarti dia hadir secara esensial kepada pria sebagai wujud seksual (sexual being). Untuk pria, wanita adalah semata-mata seks, seks absolut dan tidak lebih. Wanita adalah insidental, yaitu oposisi dari yang esensial. pria adalah subjek dan absolut, sedangkan wanita adalah “the Other”.

BACA JUGA:  Salshabilla Kolaborasi dengan Amel Carla, Rilis Single Semangat Pagi

Konsep wanita sebagai “the Other” inilah yang menjadi landasan filosofis tuntutan kebebasan seksual yang digaungkan feminis Barat. Untuk menjadi wanita mandiri yang bebas, wanita tidak boleh menjadi “the Other”, tidak boleh menjadi obyek, namun wanita harus memiliki kesadaran dan menjadi subyek.

Dalam uraiannya, Dinar bicara mengenai fakta sejarah, LGBT sudah ada sejak zaman Yunani Kuno,Romawi Kuno, zaman Pertengahan, zaman Enlightment – Code Napoleon(1810 M). Di masa itu ada penghapusan hukuman bagi pelaku homoseksual.

Di zaman Yunani Kuno misalnya,Plato (427 – 347 SM), dalam dialognya yang berjudul Symposium diceritakan, bahwa ada acara jamuan makan khusus pria dan berbicara tentang Eros. Terutama tentang homoseksual atau nafsu pria dewasa untuk mencari anak laki (boy) yang diwakili oleh tokohnya Pausanias.

Tokoh lainnya dalam dialog Plato adalah Aristophanes yang menawarkan mitos bahwa kemanusiaan (humanity) pada awalnya adalah manusia dengan 4 kaki dan 4 tangan. Ada tiga sex (jenis kelamin), yaitu hermaprodite, pria dan wanita.

BACA JUGA:  Model Search 2019 Sukses Audisi Pertama di Yogyakarta

Zeus merasa terancam oleh kebanggaan dan kekuatan manusia,kemudian Zeus memotong tubuh mereka menjadi dua. Itulah yangmenyebabkan manusia saat ini mencari-cari dan merindukan pasangannya (their other half).

Hermaprodite terbelah menjadi pria dan wanita, yang pria menjadi pasangan pria dan pria, sedangkan yang wanita menjadi pasangan wanita dengan wanita. (The handbook, p. 154).

Perspektif HAM

Lebih lanjut Dr. Dinar menjelaskan, HAM yang dianut masyarakat Indonesia merupakan anugrah Tuhan yang wajib dihormati. Oleh karena itu, konsep kebebasan di negara Indonesia tidak boleh terlepas dari nilai-nilai agama. Kebebasan kaum lesbian, gay, biseksual dan transeksual-biseksual (LGTB) di Barat menganut paham humanisme dan gender equality yang netral agama.

“Paradigma bebas dari kontrol agama sangat mengkhawatirkan dan mengancam kebebasan manusia lainnya. Kebebasan yang membawa kepada keburukan bukanlah sebuah pilihan.”

Dr Dinar menegaskan, pelaku LGBT tidak bisa mengatasnamakan Pancasila untuk mendapatkan hak istimewa di wilayah NKRI. Adalah kewajiban negara untuk melindungi kesehatan warganya, baik kesehatan mental, jasmani dan ruhaninya. Al-Quran menyebut pelaku homoseks sbg kaum yg melampaui batas (‘adun), berlebih-lebihan (musrifun) dan bodoh (jahil).

BACA JUGA:  Disdagin Depok Tingkatkan Pengawasan Tempat Usaha Tak Berizin

“Mengutip Al Attas memilih yang terbaik hanya dapat dilakukan, apabila manusia telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk. Memilih sesuatu lebih buruk bukanlah pilihan dan tidak mencerminkan kebebasan, karena semua itu bersumber dari kebodohan dan dorongan hawa nafsu yang mengarahkan kepada sifat-sifat tercela.”

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan penyakit LGBT di masyarakat. Diantaranya, membuat Gerakan Sosialiasi ke kampus, sekolah sekolah, LSM, danmajelis taklim. Kemudian, menerbitkan modul pelatihan, berupa artikel dan komik bergambar. Membuat website, mendirikan komunitas baik offline maupun online seperti di FB, Twitter, dan bekerja sama dengan media yang kontra LGBT dan feminisme.

“Juga membuat biro atau rumah konsultasi bagi para LGBT yang ingin sembuh. Networking dengan ulama dan pesantren yang bisa menyebuhkan mereka secara Islami, dengan ahli psikologi Islam dan lain-lain. (Des)

Comments

comments

Komentar

News Feed