Kejari Depok Bidik Korupsi Pengadaan Lahan Workshop Dinas BMSDA

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Depok, (14/2) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Depok membidik dugaan kasus korupsi pengadaan lahan workshop sebesar 4.000 meter di Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA). Ada dugaan pengadaan lahan yang direncanakan untuk penyimpanan alat-alat berat yang dianggarkan pada APBD tahun 2013 sebesar Rp 5,4 milar itu di Mark Up.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus, Kejari Depok, Andarias Dorney mengatakan, bahwa lokasi lahan yang ditunjuk di RT005/003, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya untuk dibeli itu ternyata tidak berada dilokasi yang sama.

”Justru lahan itu berada di RW002 yang bersebelahan di dekat makam yang merupakan aset Pemkot Depok yang dibebaskan pada Tahun Anggaran (TA) 2013 silam, ” kata Andarias dikutip indopos, Sabtu (13/2).

Fakta baru itu baru terungkap, kata Andarias, setelah pihaknya mengusut dan memanggil beberapa pihak terkait yang mengetahui asal usul tanah yang akan dibayarkan oleh Dinas BMSDA untuk dijadikan gudang penyimpanan alat berat. Salah satu yang mereka panggil dan menguak fakta baru itu adalah ketua rukun tetangga (RT) 005/006.

BACA JUGA:  Pradi Ajak Semua Pihak Edukasi Masyarakat Bahaya Hoaks

“Setelah kami periksa tidak ada di wilayah itu tanah seluas 4000 meter, yang ada malah disebelah wilayah itu, hanya beda RW saja. Itu pun yang mau dibayarkan malah justru aset negara, nah indikasi korupsi dana ini yang sudah terbaca,” ujarnya. Andarias menambahkan pada saat penentuan lahan dan pembayaran tersebut langsung dilakukan oleh dua orang pejabat Dinas BMSDA.

Mereka adalah Enco Kuryasa yang menjabat Kepala Dinas BMSDA, serta Kabid Jalan dan Jembatan (JJ), BMSDA, Roni Guroni. Kedua pejabat ini kata dia, sebelumnya sempat terserempet kasus yang sama yakni kasus korupsi proyek jalan di Pondok Rangon, di Kecamatan Cimanggis pada 2013, silam.

“Kedua pejabatnya sedang menjalani hukuman karena kasus terdahulu. Makanya ini masih terus kami dalami, karena aka nada lagi fakta baru yang terungkap sembari kami mendapatkan kerugian negara dari BPKP Jabar,” paparnya.

BACA JUGA:  Arena Perkemahan Ceria SDN Cilangkap 3

Menurutnya, penguatan fakta baru yang mereka dapatkan itu adalah tidak adanya transaksi jual beli terhadap lahan yang ditunjuk BMSDA. Pengecekan transaksi jual beli itu pun sampai mereka kembangkan ke kelurahan dan kecamatan, hingga Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Depok.

”Tidak ada jual beli, yang punya tanah saja masih menyimpan sertifikat tanah mereka. Lurah sama camat juga sudah kami mintai data jual beli tanah pada tahun 2013,” ujar Andarias.

Tak sampai disana, Adarias pun menyatakan, telah memanggil dua mantan pejabat Dinas BMSDA. Bahkan, untuk pemanggilan itu tim penyidik Kejari Depok mendatangi rumah dan sel tahanan Enco serta Roni.

Hal itu untuk memgumpulkan bukti dari fakta baru yang mereka dapatkan untuk dijadikan alat bukti mengungkap kasus dugaan korupsi pengadaan tanah workshop tersebut. Terpisah, Kepala Bidang Jalan dan Jembatan, Dinas BMSDA Kota Depok, Hardiman menuturkan, jika pengadaan lahan tersebut terjadi saat dirinya masih menjabat sebagai kepala seksi (Kasi) JJ.

BACA JUGA:  Remaja Masjid Al-Ikhlas Cipayung Adakan Dzikir Sebelum UN

Dan pelaksana kegiatan dan penunjukan kegiatan itu dilakukan oleh Roni Gufroni yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang JJ dan Enco Kuryasa yang menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kadis BMSDA.

”Kalau itu masih zamannya pak Roni sama pak Enco. Jadi saya tidak tahu menahau proses dan mekanismenya seperti apa,” tuturnya. Ditanya lebih detail, Hardiman enggan berkomentar lebih lanjut.

Justru kata dia, selama kegiatan itu digulirkan tugasnya hanya melakukan pendataan terhadap hasil kegiatan pekerjaan yang dilakukan pihak ketika. Sedangkan urusan pembayaran dan penentuan lokasi tanah untuk workshop dirinya tidak pernah dilibatkan sama sekali.

Karena itu dirinya pun siap diperiksa oleh Kejari Depok dalam mengungkap kasus dugaan korupsi yang sudah berjalan tersebut. “Yang tau detail semua prosesnya ya Pak Enco dan Roni. Kalau detailnya silahkan ditanyakan ke mereka saja, tugas saya waktu itu hanya mengawasi dan memonitoring kegaiatan fisik jalan lingkungan saja,” pungkasnya. (cok/indopos)

Komentar

Berita lainnya