Teori Keagenan Menurut Michael Jensen

Teori keagenan atau agency theory, sebuah konsep yang mengubah paradigma dalam dunia ekonomi

DEPOKPOS – Michael Cole Jensen, yang akrab disapa Mike, bukan sekadar figur yang dikenal di dunia keuangan saja tetapi mike merupakan pikiran kreatif di balik konsep revolusioner ‘Agency.’ Tumbuh dan kembang di Rochester, Minnesota, Mike memperoleh gelar MBA pada tahun 1964 serta gelar Ph.D. pada tahun 1968 dari Sekolah Bisnis Universitas Of Chicago Booth, Amerika Serikat tempat lahir dan juga tempat di mana minatnya dalam dinamika keuangan dimulai.

Dalam ranah bisnis, konflik kepentingan bukanlah hal yang jarang terjadi. Bayangkan ketika kepentingan pribadi mendominasi tanggung jawab profesional, menciptakan ketegangan dalam hal prioritas. Inilah masalah yang memicu rasa ingin tahu Mike, yang menjadi pendorong lahirnya ‘Agency theory’ yang begitu menginspirasi.

Apa masalah keagenan?

Teori keagenan atau agency theory, sebuah konsep yang mengubah paradigma dalam dunia ekonomi, menjadi fokus bagi Mike. Bagi Mike, pentingnya memahami tanggung jawab pemegang saham (Prinsipal) terhadap agen lainnya menjadi krusial di tengah dinamika konflik kepentingan dalam bisnis.

BACA JUGA:  Benarkah Hiu Pemangsa Manusia

Mike percaya bahwa konflik antara prinsipal dan agen merupakan tantangan yang tak terhindarkan ketika tujuan personal bertabrakan dengan tanggung jawab profesional. Baginya, implementasi teori keagenan bukan hanya soal mengelola konflik, tetapi juga tentang menciptakan insentif yang mendorong agen untuk bertindak sejalan dengan visi dan kepentingan prinsipal.

Perbedaan fokus antara manajemen (agen) dan prinsipal, menurut Mike, menjadi akar konflik keagenan yang sering kali terkait dengan dorongan untuk mencapai target kinerja individu versus upaya prinsipal dalam mencapai keberlanjutan dan pertumbuhan nilai perusahaan.

Bagi Mike, menjaga kesesuaian perusahaan dengan perubahan zaman, seperti globalisasi, kemajuan teknologi, serta dinamika kebijakan, adalah kunci untuk tetap relevan. Ia juga percaya bahwa perusahaan harus terus mengadaptasi praktik mereka sesuai dengan tuntutan yang semakin tinggi terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

BACA JUGA:  5 Tradisi Orang Betawi Sebelum Ramadan

Menurut Mike, teori keagenan bukan hanya sebuah konsep, tetapi juga sebuah panduan untuk membantu perusahaan mengelola konflik, meningkatkan kepercayaan pemegang saham, dan tetap relevan di tengah perubahan yang tak terhindarkan.

Skema Ponzi Bernie Madoff

Salah satu contoh skandal keuangan yang mengguncang dunia agensi adalah skema Ponzi yang dilakukan oleh Bernie Madoff. Madoff, seorang broker investasi dan mantan ketua dari NASDAQ Stock Market, menjadi otak di balik skema ini yang menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah keuangan.

Bernie Madoff
Bernie Madoff

Skema Ponzi Madoff berlangsung selama bertahun-tahun, dengan memberikan janji pengembalian investasi yang tinggi kepada investor tanpa melakukan investasi yang sebenarnya. Uang dari investor baru digunakan untuk membayar keuntungan kepada investor lama, sementara laporan palsu diciptakan untuk menutupi kegiatan ilegal ini.

BACA JUGA:  Kesalahan Umum dalam Mengorganisir Suatu Acara

Skandal ini terungkap pada Desember 2008 selama masa krisis keuangan global. Penyelidikan mengungkap bahwa Madoff telah mengelabui badan pengawas dan kliennya dengan manipulasi laporan keuangan. Kerugian yang ditimbulkan akibat skema ini diperkirakan mencapai puluhan miliar dolar, merusak reputasi industri keuangan secara luas.

Skandal Madoff menyoroti pentingnya transparansi, tata kelola yang baik, serta perlunya regulasi yang ketat dalam industri keuangan untuk melindungi investor dari penipuan semacam ini. Bernie Madoff dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2009 setelah mengakui kesalahannya atas sejumlah tuduhan kejahatan keuangan.

Teori keagenan memberikan wawasan penting dalam mengelola konflik kepentingan bisnis, sementara skandal seperti yang dilakukan oleh Madoff menunjukkan pentingnya tindakan proaktif untuk menjaga integritas industri keuangan

Widya Murti
Universitas Paramadina