Sedang Sendiri Atau Malah Memang Sendirian?

“Hal yang paling penting adalah menikmati hidupmu, menjadi Bahagia, apapun yang terjadi.” Audrey Hepburn

DEPOKPOS – Katanya, kunci menjalani kehidupan ini adalah merasa bahagia dengan setiap keadaan yang sedang kita lalui. Tetapi kadang kita sibuk mencari arti bahagia itu sendiri sampai lupa bahwa kebahagian juga perlu kita jemput.

Menurut KBBI, kebahagian (happiness) adalah kesenangan , ketenteraman hidup (lahir batin), keberuntungan, dan kemujuran yang bersifat lahir batin. Kebahagiaan didefinisikan sebagai suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Namun ketika kita melihat keadaan akhir-akhir ini yang sedang terjadi di kalangan pemuda khususnya mahasiswa, kebahagiaan kala tak ada beban satupun yang dipikul pundak dan puncak dari kebebasan dari segala tanggung jawab itu adalah kematian.

Mengakhiri hidup adalah opsi yang seringkali terlintas ketika masalah sosial, cinta, keuangan, dan lain sebagainya sedang berapa pada puncaknya, seakan-akan semua akan berakhir dengan mengenaskan. Opsi ini terlintas ketika rasa bahagia itu tergantikan dengan rasa sepi yang mendalam, rasa bahwa kita hidup sendiri tanpa ada yang peduli, dan semua beban berat ini hanya ada di pundak kita sendiri. Kesepian sendiri menurut Russell (dalam Lou, Yan, Nickerson, & McMorris, 2012) didefinisikan sebagai hubungan sosial yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau dicapai. Kesepian ini terbentuk ketika hubungan interpersonal tidak sesuai dengan harapan yang telah dibentuk sebelumnya. Singkatnya saja, ekspektasi kita terlalu tinggi untuk sebuah realita yang bahkan kita belum siap memikirkan kemungkinan terburuknya.

BACA JUGA:  Tentang QRIS dan Penggunaannya

Lalu, mengapa rasa sepi itu bisa muncul dikalangan mahasiswa ?

Mahasiswa erat kaitannya dengan rantau, Dimana ia jauh dari tempat asal, dari segala sesuatu yang sebelumnya sudah familiar, dan jauh dari orang-orang yang selalu ada untuknya. Menjadi anak rantau bukanlah suatu yang mudah dijalani karena kemandirian dan kemampuan diri sendiri menjadi tameng yang paling besar untuk melindungi dan memperkokoh komitmen. Banyak hal dirasakan mahasiswa Rantau ketika diperantauan, antara lain merasa tidak percaya diri untuk memulai sebuah pertemanan, sering merasa rindu dengan keluarga dan lingkungan sebelumnya, dan rasa ketidaksiapan untuk hidup mandiri.

BACA JUGA:  Munggahan, Tradisi Betawi Jelang Ramadan yang Tetap Terjaga

Hal-hal seperti itulah yang menjadi awal mula rasa sepi itu muncul. Rasa sepi ini akan bertambah ketika mahasiswa sedang tidak melakukan kegiatan apapun yang membuatnya lupa bahwa ia sedang merantau untuk menuntut ilmu.

Salah satu penyebab yang kadang tidak disadari menimbulkan rasa sepi yang begitu berpengaruh adalah rasa pesimis yang muncul dalam menghadapi suatu permasalahan, baik sosial maupun aspek lainnya. Pesimis sendiri merupakan cara pandang individu yang digambarkan dengan rasa ketidakyakinan, putus asa, atau tidak ada harapan terhadap suatu hal yang sedang dihadapi. Rasa pesimis ini menggiring otak untuk membuat banyak sekali skenario buruk yang belum tentu terjadi. Skenario inilah yang membuat otak bekerja keras

bagaimana cara agar kemungkinan buruk itu tidak boleh terjadi. Rasa pesimis yang membuat sebuah tanggung jawab atau permasalah menjadi berat karenanya rasa ini mendorong rasa sepi. Contoh mudahnya saja, seorang mahasiswa yang khawatir terhadap IPK, berpikir apakah IPK-nya akan bagus sedangkan dilihat dari nilai UTS maupun UAS tidak bagus, hanya mengandalkan keaktifan dia di kelas padahal di lain sisi mahasiswa ini adalah penerima KIP Kuliah dimana ada syarat minimal IPK. Rasa khawatir yang berlebihan inilah yang membuat ia merasa bahwa usaha yang selama ini ia kerahkan belum cukup sehingga ia mendapat ending yang tidak Bahagia. Kemungkinan-kemungkinan buruk itu menyebabkan ia menyalahkan dirinya sendiri terkait usaha yang selama ini ia lakukan. Ia merasa bahwa apa yang dia lakukan kurang maksimal, menyalahkan diri sendiri terkait hal yang terjadi padahal banyak kemungkinan yang akan terjadi dan bisa saja ia terselamatkan karena keaktifannya selama mengikuti perkuliahan. Rasa khawatir inilah yang menyebabkan rasa sepi itu muncul karena merasa bahwa orang lain tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang sedang ia rasakan. Apabila rasa sepi ini terus dibiarkan berkembang akan menjadi beban psikologis yang berakibat munculnya rasa stress yang berkepanjangan.