Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya

Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik

Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik

DEPOKPOS – Globalisasi menandai awal dari perkembangan teknologi dan informasi di seluruh dunia. Perkembangan teknologi ini memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalani aktivitas atau kegiatan setiap hari (Astrid Faidlatul Habibah, 2021). Perkembangan teknologi juga memberikan berbagai manfaat lainnya seperti munculnya e-commerce, e-wallet, mobile banking dan media sosial.

Media sosial merupakan tempat dimana setiap penggunanya dapat berpartisipasi, membagikan informasi maupun cerita, bahkan pengguna media sosial juga dapat membagikan foto dan video dalam kehidupan sehari-hari (Cahyono, 2016). Hal ini memberikan dampak positif dimana setiap orang di dunia dapat berinteraksi dengan mudah. Namun, arus informasi yang mudah dan cepat juga memberikan dampak negatif. Misalnya, seperti doxing, hacking, cyberbullying dan hate speech.

Hate speech dapat diartikan sebagai segala bentuk tindakan maupun tulisan yang sifatnya dilarang, dikarenakan dapat memicu terjadinya konflik (Marpaung, L, 2010). Menurut Cohen hate speech atau ujaran kebencian, merupakan ujaran yang memiliki motif negatif atau jahat serta ditunjukkan kepada seseorang atau kelompok lainnya (Azhar, 2020). Berdasarkan beberapa pendapat ahli sebelumnya, maka dapat dipahami bahwa hate speech merupakan ujaran yang ditujukan baik untuk seseorang maupun suatu kelompok tertentu dengan tujuan yang negatif, serta dapat memicu konflik dan perpecahan.

BACA JUGA:  5 Tips untuk Menenangkan Pikiran

Kementerian Komunikasi dan Informatika, menjelaskan bahwa pada 2018 hingga tahun 2021 saja terdapat 3.640 konten yang memicu konflik dan permusuhan. Pada dasarnya konten atau postingan ini bersifat diskriminatif serta merendahkan suku, agama, ras, maupun adat istiadat lainnya. Kementerian Komunikasi dan Informatika Kemudian melakukan take-down terhadap postingan atau konten-konten yang terindikasi dapat memicu konflik dan perpecahan (KOMINFO, 2021).

Berdasasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis bermaksud untuk melakukan kajian dengan judul “Fenomena Hate Speech di Media Sosial dan Dampaknya”

Media sosial merupakan sarana dimana setiap orang didunia dapat bertemu dan saling berinteraksi. Karena kemudahan, kecepatan dan luasnya jaringan media sosial, menyebabkan arus informasi menyebar begitu cepat. Arus informasi yang begitu cepat tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga memberikan dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang muncul adalah hate speech.

BACA JUGA:  Merasa Kurang Pede? Lakukan 7 Hal Ini!

Hate speech dalam media sosial terjadi karena adanya gesekan atau ketegangan antara kelompok-kelompok tertentu (Rohman, 2016). Menurut pendapat Haidar Buldan Tantowi sebagai ahli psikologi internet UGM, Menjelaskan terdapat beberapa alasan yang menyebabkan hate speech dalam media sosial dapat terjadi (UGM, 2022), diantaranya:

Prasangka buruk terhadap kelompok lainnya dan merendahkan kelompok lainnya dapat menyebabkan terjadinya hate speech. Misalnya seperti menjelekkan warna kulit, bentuk tubuh atau kekurangan seseorang.

Trolling atau dapat diartikan bahwa sang pelaku tidak didasari oleh rasa prasangka buruk terhadap kelompok lainnya, tetapi hanya mencari kesenangan setelah melakukan hate speech.

Kondisi lingkungan media sosial yang dapat mendorong seseorang melakukan hate speech dengan cara memanfaatkan anonimitas. Jadi seseorang dapat menggunakan second account untuk menyembunyikan identitasnya dan kemudian melakukan ujaran kebencian melalui komentar dalam postingan seseorang.

BACA JUGA:  “Brand Ambassador Esports” Kini Bisa Jadi Pekerjaan?

Kasus Hate speech di media sosial yang semakin meningkat perlu mendapatkan perhatian yang serius karena dapat memberikan kerugian seperti stress, depresi tekanan sosial hingga yang paling buruk adalah mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri. Namun, hate speech merupakan tindakan yang melanggar hukum, sebagaimana sudah diatur melalui UU ITE atau dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang transaksi elektronik. Pelaku hate speech dapat dijatuhi hukuman pidana penjara paling lama enam tahun atau membayar denda paling banyak satu miliyar.