Health  

Bumi Semakin Panas, Dengue dan Malaria Semakin Ganas?

Dengue dan malaria adalah penyakit musiman yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia, terutama di musim hujan.

DEPOKPOS – Akhir-akhir ini, kita mungkin sudah sering mendengar kata perubahan iklim, krisis iklim, pemanasan global, atau bahkan pendidihan global.

UN World Meteorological Organization (WMO) menyatakan bahwa tahun 2023 dapat ditetapkan sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu global meningkat sebanyak 1,4ºC di atas suhu pra-industri.

Dampak utamanya telah dapat kita rasakan sekarang, seperti kenaikan suhu permukaan laut dan permukaan air laut, gletser dan es di Antartika yang semakin mencair, dan cuaca ekstrem seperti gelombang panas (heatwave), kekeringan ekstrem, kebakaran hutan, banjir bandang, dan badai.

Fenomena-fenomena tersebut, yang bisa dibilang adalah dampak langsung dari krisis iklim, telah menyebabkan kehancuran dan kematian ribuan jiwa di seluruh dunia, tetapi akan ada banyak dampak tidak langsung dan jangka panjang yang juga akan menyebabkan bencana kedepannya, terutama jika kita tidak berhasil dalam upaya mitigasi (pencegahan) dan adaptasi krisis iklim.

BACA JUGA:  Tak Terlihat tapi Mematikan: Bahaya Merokok yang Harus Anda Ketahui

Salah satu tantangan di masa depan adalah peningkatan intensitas penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti dengue (dikenal juga sebagai demam berdarah) dan malaria.

Artikel ini akan menjelaskan bagaimana perubahan iklim berkontribusi terhadap peningkatan kasus dan penyebaran kedua penyakit serta upaya-upaya yang dapat diambil untuk menghadapi tantangan tersebut.

Dengue dan malaria adalah penyakit musiman yang sering diderita oleh masyarakat Indonesia, terutama di musim hujan. Pada tahun 2022, Kementerian Kesehatan menyatakan jumlah kasus dengue mencapai 143.000 kasus dan malaria sebanyak 415.140 kasus di Indonesia.

Keduanya menyebabkan beban kesehatan, terutama di negara tropis dan endemis seperti Indonesia. Dengue dan malaria disebabkan oleh virus dan parasit yang masing-masing ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles sp.

Faktor-faktor iklim seperti peningkatan suhu global, perubahan pola hujan, dan perubahan ekosistem secara keseluruhan akan meningkatkan risiko dan penyebaran kedua penyakit ini karena memengaruhi siklus hidup nyamuk.

BACA JUGA:  Tak Terlihat tapi Mematikan: Bahaya Merokok yang Harus Anda Ketahui

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa suhu, curah hujan, dan kelembaban udara dapat memengaruhi perkembangan telur, larva, pupa, dan nyamuk dewasa.

Suhu udara memengaruhi kecepatan perkembangan telur menjadi larva, dan pemanasan global dapat mempercepat siklus hidup nyamuk, serta mempersingkat masa inkubasinya. Seluruh faktor tersebut akan memperpanjang musim aktif nyamuk dan meningkatkan kecepatan perkembangbiakannya.

Selain itu, perubahan pola hujan dapat menciptakan genangan air yang cocok sebagai tempat berkembang biak larva nyamuk. Semua ini menyebabkan peningkatan jumlah kasus dengue dan malaria, serta memperluas wilayah geografis penyebaran penyakit dan juga dapat membawa risiko penyakit dengue dan malaria ke daerah yang sebelumnya bebas dari ancaman tersebut.

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi penyebaran penyakit dengue dan malaria, kita membutuhkan strategi mitigasi yang cerdas dan menyeluruh. Pertama-tama, kita perlu memperkuat sistem pemantauan dan peringatan dini agar dapat merespons dengan cepat jika ada peningkatan risiko penyakit yang terkait dengan perubahan iklim.

Ini seperti memiliki mata dan telinga ekstra untuk melacak nyamuk penyebab masalah. Selain itu, kita juga harus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menghadapi ancaman penyakit ini. Mari kita bayangkan hal ini sebagai persenjataan masyarakat untuk melawan serangan nyamuk.

BACA JUGA:  Tak Terlihat tapi Mematikan: Bahaya Merokok yang Harus Anda Ketahui

Pengembangan program pengendalian nyamuk yang efektif juga sangat penting, seperti menggunakan insektisida yang lebih aman dan juga vaksin. Dan jangan lupakan perlunya menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem kita, dapat dimulai dari menjaga halaman rumah tetap bersih dan memastikan tidak ada genangan air sehingga nyamuk tidak berkembang biak dengan bebas di sana.

Dengan cara-cara ini, kita dapat menciptakan pertahanan yang kuat terhadap penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.