Tidak Hanya Terjadi pada Ibu: Kenali Depresi Postpartum pada Ayah

Tidak Hanya Terjadi pada Ibu: Kenali Depresi Postpartum pada Ayah

Kondisi tersebut dikenal sebagai Paternal Postpartum Depression

DEPOKPOS – Depresi postpartum merupakan gangguan psikologis pasca melahirkan, ditandai oleh episode depresi non-psikotik dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang yang dimulai selama atau berlanjut hingga tahun pertama setelah persalinan (Özcan, Boyacıoğlu and Dinç, 2017).

Walaupun depresi postpartum seringkali dikaitkan dengan ibu, studi menunjukkan bahwa ayah juga rentan mengalaminya. Kondisi tersebut dikenal sebagai Paternal Postpartum Depression (PPPD).

Bacaan Lainnya

Dewasa ini, penelitian yang menyoroti kejadian depresi postpartum pada ayah telah lebih banyak dilakukan. Berdasarkan beberapa studi yang dilakukan secara global, prevalensi depresi postpartum pada ayah berkisar dari 8-14% yang artinya, 8-14 dari 100 ayah mengalami depresi setelah kelahiran anaknya (Da Costa et al., 2019; Nishigori et al., 2020; Rao et al., 2020).

Namun, terdapat kesenjangan yang tercermin dari lebih banyaknya studi yang dilakukan di Eropa karena masih lekatnya keyakinan atau budaya di Asia terkait peran ayah sebagai laki-laki yang mengharuskan ia bersikap dominan, agresif, dan membatasi keterlibatan emosi (Pérez C. et al., 2017).

Keyakinan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa kondisi emosional ayah seringkali diabaikan sehingga skrining, diagnosis, dan perawatan depresi postpartum pada ayah masih kurang. (Musser et al., 2013; Paredes and Parchment, 2021). Di Indonesia sendiri, upaya tersebut masih belum dilakukan sehingga prevalensi depresi postpartum pada ayah tidak tercatat.

Selain itu, terdapat berbagai faktor lainnya yang dapat memengaruhi skrining, diagnosis, dan perawatan depresi postpartum pada ayah, diantaranya:

Ayah tidak ikut serta dalam layanan kesehatan perinatal ibu

Layanan perinatal tentunya berfokus kepada ibu sebagai aktor utama, sedangkan ayah dianggap tidak perlu berpartisipasi. Akibatnya, pengetahuan ayah terkait depresi postpartum seringkali terbatas dan program yang melibatkan ayah terutama dalam skrining gejala depresi masih belum tersedia. Padahal, perlu diingat bahwa depresi postpartum dapat dialami oleh ibu maupun ayah dan dapat berdampak negatif bagi keluarga.

Masih belum terdapat alat skirining khusus untuk depresi postpartum pada ayah

Belum terdapat alat diagnostik yang diterima secara universal dan tervalidasi dengan baik untuk skrining depresi postpartum pada ayah. Depresi postpartum pada ayah umumnya dinilai dengan menggunakan instrumen skrining dan skor ambang batas yang dikembangkan untuk ibu dan disesuaikan untuk ayah. Penyesuaian ini mungkin tidak sensitif untuk menilai kejadian dan tingkat depresi pada ayah (Walsh, Davis and Garfield, 2020).

Rendahnya kemauan ayah untuk mencari perawatan psikologis

Dalam banyak kasus, ayah yang mengalami depresi postpartum seringkali tidak terdeteksi karena enggan menghubungi dokter ataupun psikolog untuk berkonsultasi mengenai gejala yang dialami (Nazareth, 2011). Hal ini mengakibatkan ayah tidak mengenali gejala dan berujung tidak mendapatkan perawatan.

Masa postpartum merupakan masa peralihan menuju peran sebagai seorang ayah yang penuh tantangan (Markos and Arba, 2020). Dalam masa ini, seorang ayah harus beradaptasi dengan peran barunya, yang seringkali membuatnya merasa tidak berdaya, cemas, bahkan terbebani oleh perannya sebagai kepala rumah tangga dan merawat bayi. Terkadang, beban ini bisa membuat ayah kesulitan dalam keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan pribadi, dan keluarga. Penting untuk memahami bahwa keterlibatan pasangan dalam periode ini memiliki dampak besar terhadap munculnya gejala depresi postpartum pada ayah. Nah, aspek apa saja yang dapat memicu hal tersebut?

Kurangnya dukungan pasangan memicu ayah mengalami depresi postpartum

Dalam kasus ini, jika pasangan memberikan dukungan sosial dan emosional, maka akan tercipta dinamika keluarga yang positif (Köse Tuncer and Kaloğlu Binici, 2022). Sebaliknya, jika ayah kurang mendapatkan dukungan dari pasangan atau merasa lebih banyak perubahan pada pasangannya, mungkin akan lebih sulit menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai seorang ayah dan akhirnya mengalami gejala depresi (Atif et al., 2022).

Depresi postpartum pada ibu meningkatkan risiko depresi postpartum pada ayah

Sebuah studi menunjukkan bahwa prevalensi depresi postpartum pada ibu berhubungan dengan peningkatan depresi pada ayah karena ibu yang mengalami depresi tidak dapat memberikan dukungan secara penuh kepada ayah dan cenderung mengabaikan kondisi pasangannya (Duan et al., 2020).

Semakin rendah kepuasaan ayah terhadap hubungan pernikahan meningkatkan risiko depresi postpartum pada ayah

Dalam studi meta-analisis diketahui bahwa ketidakpuasan terhadap hubungan pernikahan merupakan salah satu risiko depresi postpartum pada ayah. Ketidakpuasan ini dapat berujung kepada konflik dalam keluarga yang memengaruhi kondisi kesehatan mental ayah (Ansari et al., 2021).

Apakah depresi postpartum pada ayah memiliki dampak terhadap keluarga?

Depresi postpartum pada ayah merupakan fenomena yang dapat mempengaruhi keluarga dan menjadi titik awal munculnya berbagai permasalahan. Berdasarkan studi, depresi dan stress pada ayah menyebabkan ia kesulitan untuk menanggapi interaksi anaknya secara positif karena ayah seringkali merasa frustasi dan lebih mudah terpancing amarahnya sehingga ia akan bereaksi dengan suara yang keras, mengkritik, atau bahkan melakukan kekerasan kepada sang anak. Bila kondisi ini terus berlangsung, maka respon negatif ayah saat berinteraksi dengan anaknya dapat menjadi bagian dari pola asuh. Hal ini akan berdampak negatif kepada perkembangan emosional dan perilaku anak serta berpotensi untuk merusak hubungan harmonis dalam keluarga, baik hubungan ayah dengan ibu, maupun hubungan orangtua dengan anak (Giallo et al., 2014).

Depresi postpartum pada ayah dapat dicegah dengan melakukan skrining

Menurut penelitian (Duan et al., 2020), mengidentifikasi depresi postpartum pada ibu dan ketidakpuasan hubungan pernikahan secara dini akan menurunkan risiko ayah mengalami depresi postpartum. Mengapa? Depresi ibu yang teridentifikasi secara dini umumnya akan dilakukan perawatan segera sehingga memungkinkan ayah untuk tetap mendapatkan dukungan dari ibu sebagai pasangannya. Demikian pula, skrining pada ayah penting untuk dilakukan untuk mencegah semakin berkembangnya gejala depresi dan memberikan perawatan yang diperlukan oleh ayah.

Depresi postpartum pada ayah merupakan gangguan psikologis yang dapat berdampak negatif bagi keluarga namun masih seringkali diabaikan. Kondisi ini salah satunya dapat terjadi akibat pengaruh hubungan dengan pasangan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, terutama ayah untuk mengetahui informasi terkait depresi postpartum. Untuk Anda yang baru atau akan berkeluarga, ingat, salah satu kunci dari keharmonisan keluarga adalah menjaga hubungan dengan pasangan! Siapkah Anda berkeluarga dan menjadi orang tua? Jangan lupakan perasaanmu, ayah!

Penulis:
Inez Sakhi Wisista
Zainab Mardhiyah
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait