Meningkatkan Model Kompetensi Auditor Syariah di Bank Syariah

Meningkatkan Model Kompetensi Auditor Syariah di Bank Syariah

DEPOKPOS – Di tengah pertumbuhan industri perbankan syariah yang pesat, peran auditor syariah menjadi semakin penting. Auditor syariah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan bahwa bank syariah beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang diatur dalam hukum Islam.

Untuk melaksanakan tugasnya dengan efektif, auditor syariah perlu memiliki model kompetensi yang kuat. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi model kompetensi auditor syariah di bank syariah dan mengapa peningkatan dalam model ini sangat penting.

Bacaan Lainnya

Saya mengambil rujukan Dalam Jurnal riset akuntasi dan bisnis islam dengan judul Competency model for Shari’ah auditors in Islamic banks, yang ditulis oleh 3 penulis, Juga Aisyah Mohd Ali, Zurina Syafii, dan Shahida Shahimi. Jurnal ini membahas tanggung jawab SAR dalam memastikan IFI (Institutional Financial Institutions) menjalankan operasinya sesuai dengan syariah.

Meskipun audit syariah penting, pelatihan SAR yang berkualitas masih kurang. Penelitian sebelumnya menunjukkan kekurangan staf dengan kualifikasi akuntansi dan syariah. Hanya 5,9% responden memiliki kedua kualifikasi tersebut, dan hanya 60% staf terlatih dalam operasional perbankan dan produk pembiayaan.

BACA JUGA:  Strategi Pengembangan UMKM di Era Digital

Di tingkat industri, pedoman hanya menyebutkan bahwa auditor internal IFI harus memiliki pengetahuan dan pelatihan terkait syariah. Namun, SAR perlu memiliki kompetensi lebih lanjut, seperti pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik (KSOC) lainnya.

Karena audit syariah adalah bidang khusus dalam audit operasional, pekerjaan SAR dalam IFI bersifat unik. Jurnal ini mengusulkan model kompetensi untuk SAR di IFI berdasarkan bukti empiris yang dikumpulkan dari praktisi industri.

Tujuan penelitiannya adalah untuk mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan auditor syariah (SAR) di lingkungan perbankan syariah. Dengan metode penelitian Pendekatan kualitatif menggunakan studi kasus ganda melalui wawancara semi-terstruktur.

Data dikumpulkan dari perwakilan Bank Sentral Malaysia, dan 30 responden lainnya yang terdiri dari Kepala Audit Syari’ah (HSA) dan SAR dari empat jenis lembaga perbankan. Diskusi kelompok terfokus kemudian dilakukan untuk memvalidasi model kompetensi yang diusulkan.

Memiliki 6 landasan teori penelitian Teori yang digunakan, Pertama,Studi tentang Audit Syari’ah, Kedua, Konsep kompetensi Secara umum, ketiga, Teori prestasi kerja yang efektif Konsep “kompetensi”, Kempat, 4 Kompetensi auditor internal Dari sudut pandang profesional audit,.

BACA JUGA:  CIMB Niaga Syariah dan Dompet Dhuafa Wujudkan Masyarakat Berdaya lewat Imbal HasilWakaf

Kelima, Bukti empiris kompetensi sumber daya manusia Islam Dari sudut pandang Islam. Keenam, Kebutuhan akan model kompetensi Para sarjana, ketujuh, Mengembangkan model kompetensi. Hasil penelitian pada penelitian kali ini menunjukkan adanya praktik yang beragam dalam perekrutan SAR.

Sebagian besar lembaga perbankan lebih memilih untuk menggunakan auditor internal yang ada dibandingkan merekrut lulusan baru atau memperoleh SAR berpengalaman dari lembaga keuangan lain.

Pengetahuan tentang Syari’ah, perbankan Islam dan Fiqh Muamalat dianggap sebagai komponen pengetahuan penting untuk SAR, sementara audit dinyatakan sebagai keterampilan inti yang harus dimiliki SAR untuk melakukan audit Syari’ah secara efektif.

Studi ini juga menemukan bahwa keterampilan personal seperti kemauan belajar dan kerjasama tim merupakan ciri pelengkap komponen pengetahuan dan keterampilan, sebagai satu paket yang diperlukan untuk seorang SAR yang kompeten.

Analisis literatur sebelumnya menunjukkan bahwa persyaratan kompetensi untuk SAR belum ditetapkan. Hasil penelitian menegaskan bahwa merekrut SAR yang memiliki pengetahuan syariah dan audit merupakan tantangan.

BACA JUGA:  Dinamika Pasar dalam Ekonomi Mikro: Inovasi dan Kompetisi

Kebanyakan SAR adalah auditor internal berpengalaman yang diperoleh baik secara internal maupun eksternal. Hanya bank Islam tertentu yang memiliki SAR dengan latar belakang yang beragam, seperti akuntansi, perbankan, dan Syari’ah. Kelompok lain cenderung memilih SAR dengan latar belakang akuntansi.

Penelitian ini juga mengusulkan tiga elemen penting untuk Kompetensi SAR dalam audit syariah. IFI Malaysia menghadapi kesulitan dalam merekrut SAR dengan pengetahuan dalam kedua bidang, audit dan syariah.

Untuk mengatasi masalah ini, manajemen IFI telah mengarahkan SAR mereka untuk mengikuti program pelatihan bersertifikat Syari’ah yang diselenggarakan oleh organisasi pelatihan terpercaya. Selain itu, mereka juga mengembangkan profesionalisme melalui Continuous Professional Development (CPD) dari badan-badan profesional eksternal dan pelatihan kerja dari SAR senior di bank Islam masing-masing.

Oleh karena itu, diperlukan model kompetensi SAR yang jelas sebagai bagian dari upaya untuk memastikan kepatuhan Institusi Keuangan Islam (IFI) terhadap prinsip-prinsip syariah.

Penulis: Alifia Raihani Azwar

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait