Epidemilogi Penyakit Tidak Menular

DEPOKPOS – Istilah penyakit tidak menular digunakan untuk membedakan penyakit-penyakit kelompok lainya yang tidak termasuk kedalam penyakit tidak menular.

Penyakit kronis bisa digunakan untuk PTM (penyakit tidak menular) karna kelangsungan PTM (penyakit tidak menular) biasanya bersifat kronis atau tahan lama. Namun ditemukan juga penyakit tidak menular yang kelangsunganya akut, misalnya keracunan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menggunakan istilah penyakit kronis untuk penyakit-penyakit tidak menular. Didalam dunia modern seperti saat ini PTM dapat menular dengan caranya sendiri, tidak seperti penularan penyakit menular yang lewat suatu rantai penularan tertentu.

Gaya hidup bisa menyebabkan Perubahan pada pola makan dan mendorong perubahan dalam peningkatan penyakit jantung yang berkaitan dengan makan berlebih atau makanan berkolestrol tinggi.

KARAKTERISTIK PTM (PENYAKIT TIDAK MENULAR)

PTM (penyakit tidak menular) mempunyai beberapa karakteristik sendiri seperti:

⦁ Penularan penyakit tidak melalui suatu rantai penularan tertentu
⦁ ‘masa inkubasi’ yang Panjang dan laten
⦁ Perlangsungan penyakit yang berlangsung-langsung (kronis)
⦁ Banyak menghadapi kesulitan diagnosis
⦁ Mempunyai variasi yang luas
⦁ Memerlukan biaya yang tinggi dalam upaya pencehan dan penanggulanya
⦁ Faktor penyebabnya mancam-macam (multicausal), bahkan tidak jelas
(DR.M.N. BUSTAN, 2007,4)

Perbandingan Penyakit Menular Dan Tidak Menular

PTM (penyakit tidak menular) dan penyakit menular memerlukan pendekatan epidemilogi sendiri, mulai penentuanya sebagai masalah kesehatan masyarakat sampai upaya pencegahan dan penanggulanya.

FAKTOR RESIKO DAN UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR

FAKTOR RESIKO

Pengertian faktor resiko dinyatakan sebagai berikut: risk factors are characteristics, signs, symptoms in disease-free individual wich are statistically associated with an increased incidence of sub-sequent disease (Simborg DW).

Jenis faktor resiko ada beberapa macam yang di amati:

Unchangeable risk factors yang tidak dapat di ubah seperti genetik atau umur
Changeable risk factors yang dapat di ubah seperti kebiasaan merokok

Kegunaan identifikasi faktor resiko

Perlunya faktor resiko di ketahui dalam terjadinya penyakit dapat berguna dalam hal-hal berikut ini (Fletcher, 131):

⦁ Prediksi: untuk meramalkan kejadian penyakit. Misalnya perokok berat mempunyai kemungkinan 10 kali lebih besar untuk kena kanker paru dari pada bukan perokok
⦁ Penyebab: kejelasan/beratnya faktor resiko dapat mengangkatnya menjadi faktor penggangu (confounding factor)
⦁ Diagnosis: mebantu proses diagnosis
⦁ Prevensi: jika satu faktor resiko juga sebagai penyebab, penghilangan dapat digunakan untuk pencegahan penyakit meskipun mekanisme penyakit sudah diketahui atau tidak.

Contoh faktor resiko

Berbagai faktor yang dapat disebut sebagai faktor resiko adalah:

⦁ Merokok
⦁ Alkohol
⦁ Diet/makan
⦁ Kegemukan (obese)
⦁ Asbes
⦁ Radiasi
⦁ Sexual behavior
⦁ Obat obatan

Patut dicatat bahwa sebagai lawan faktor resiko ada yang disebut faktor protektif. Jika faktor resiko memberikan kemungkinan terkena penyakit maka faktor protektif memberikan perlindungan terhadap terjadinya penyakit. ((DR.M.N. BUSTAN, 2007,33)

UPAYA PENCEGAHAN

Ada beberapa tingkat pencegahan PTM (penyakit tidak menular)

Ada pencegahan tingkat pertama yaitu:

⦁ Promosi Kesehatan masyarakat yang di dalamnya ada
⦁ Promosi Kesehatan
⦁ Pendidikan Kesehatan masyarakat
⦁ Pecegahan khusus
⦁ Pencegahan kemopreventif
⦁ Pencehagan keterpaparan

Pencegahan tingkat kedua yaitu:

⦁ Diagnosis dini
⦁ Pengobatan

Pencegahan tingkat ke tiga yaitu:

⦁ Rehabilitasi

Shally rizqikha triagustine
Mahasiswi Prodi Keperawatan Universitas Binawan