Pemimpin Cerdas yang Berintegritas

DEPOKPOS – Di era global sekarang kita sering melihat lebih banyak pemimpin di negara ini yang lebih mementingkan diri sendiri dalam kehidupan sosial bermasyarakat daripada pemimpin yang benar-benar memperhatikan hak dan kebutuhan masyarakat khususnya masyarakat menengah ke bawah. Entah dia sebagai pemimpin dalam organisasi masyarakat, organisasi dalam bidang bisnis, organisasi pemerintahan,  organiasi kepartaian atau organisasi yang terbesar yaitu negara.

Dengung reformasi belum membawa perubahan berarti bagi masyarakat luas. Malah sebaliknya masyarakat dihadapkan pada suatu kondisi yang sulit. Salah satu faktor penyebab itu terjadi adalah ketidakjujuran (Integritas) seorang pemimpin dalam memimpin bangsanya.

INTEGRITAS, firm adherence to a code of especially moral a acristic values, yaitu , sikap yang teguh mempertahankan prinsip , tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri sendiri sebagai nilai-nilai moral.

BACA JUGA:  Pengembangan UMKM di Era Digital: Tantangan dan Peluang

Integritas bukan hanya sekedar bicara, pemanis retorika, tetapi juga sebuah tindakan. Bila kita  menelusuri karakter yang dibutuhkan para pemimpin saat ini dan selamanya mulai dari integritas, kredibilitas dan segudang karakter mulia yang lainnya.

Integritas berarti  mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Seseorang yang memiliki integritas pribadi akan tampil penuh percaya diri, anggun, tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang sifatnya hanya untuk kesenangan sesaat. Mahasiswa yang memiliki integritas lebih berhasil ketika menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin nonformal.

Integritas dan kepemimpinan sangat erat satu sama lain. Stephen Covey (2006) menyebutkan integrity is doing what we say will do. Seorang pemimpin harus dapat bertindak secara konsisten antara kata dan perbuatan.

BACA JUGA:  Dampak Penggunaan AI Terhadap Semangat Belajar Mahasiswa

Integritas adalah satu kata dengan perbuatan, yaitu apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Karena orang-orang yang kita pimpin akan melihat sampai sejauh mana kita melaksanakan apa yang kita ucapkan, sehingga mereka akan mengikuti apa yang kita perintahkan. Untuk mewujudkannya memerlukan kerja keras, dengan memiliki integritas dalam kepemimpinan.

Kepemimpinan yang dibangun atas kekuatan berpikir dengan kebiasaan yang produktif yang dilandasai oleh kekuatan moral berarti ia memiliki “Integritas” untuk bersikap dan berperilaku sehingga ia mampu memberikan keteladanan untuk mempengaruhi orang lain untuk melakukan perubahan yang terkait dengan proses berpikir.

BACA JUGA:  Dampak Penggunaan AI Terhadap Semangat Belajar Mahasiswa

Dengan pemikiran diatas, maka “Integritas” menjadi kunci kepemimpinan “bagaimana ia membuat keputusan yang benar pada waktu yang benar” dalam bersikap dan berperilaku karena disitulah terletak pondasi dalam membangun kepercayaan dan hubungan antara individu dalam organisasi.

Nilai-nilai integritas seperti kejujuran, moral, tanggung jawab, loyalitas, harus mulai ditanamkan kepada kader-kader dan dibudayakan dalam lingkungan organisasi. Hal itu juga harus dibudayakan dari perangkat organisasi yang tertinggi sampai yang terkecil. Sehingga, dengan demikian tumbuh kesadaran dari dalam diri kader-kader baru untuk bisa memiliki semangat integritas yang tinggi.

Diya Puspita

Ingin produk, bisnis atau agenda Anda diliput dan tayang di DepokPos? Silahkan kontak melalui WhatsApp di 081281731818

Pos terkait