Waspadai Investasi Bodong dengan Skema Ponzi

DEPOK POS – Seiring perkembangan Teknologi, bermuculan pula berbagai macam skema penipuan, salah satu diantaranya adalah Skema Ponzi. Penipuan semacam ini memang bukan hal yang baru, tetapi masih banyak orang yang terjebak didalamnya. karena “Investasi” yang ditawarkan tampak menggiurkan dan meyakinkan, sehingga mampu menjerat banyak korban.

Investasi memang penting untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Dengan munculnya banyak perusahaan yang menawarkan beragam produk investasi, mulai dari emas, surat berharga, valuta asing, dan properti. Tetapi kita sebagai calon investor, ada baiknya belajar terlebih dahulu sebelum berinvestasi agar tidak terjerat dalam skema Ponzi.

Perlu diketahui, kesadaran masyarakat akan pentingnya investasi tersebut tidak diimbangi dengan kecermatan mencari informasi dan ketelitian dalam memilih jenis serta perusahaan investasi. Kebanyakan masyarakat tergiur dengan investasi yang menjanjikan tingkat pengembalian atau bagi hasil yang tinggi, tanpa menyelidiki lebih dulu kredibilitas dan legalitas dari perusahaan investasi terkait. Alhasil, alih-alih mendapatkan keuntungan besar, masyarakat justru menderita kerugian finansial karena menjadi korban penipuan. Tanpa disadari, masyarakat terjebak dalam iming-iming investasi yang menerapkan Skema Ponzi ini.

Skema Ponzi

Penipuan invenstasi dengan yang menjanjikan untung besar tetapi risikonya kecil. Mengapa disebut Ponzi? Ponzi adalah seorang mafia asal Italia yang pertama kali menjalankan skema ini.

Konsep investasi skema Ponzi menjadi cikal bakal investasi bodong yang dipraktikkan di seluruh dunia hingga saat ini. Tidak ada kegiatan usaha apapun yang didanai dalam investasi berkonsep ini. Investasi dengan skema Ponzi murni perputaran uang dari para anggotanya sendiri. Artinya, skema Ponzi merupakan modus investasi palsu yang memberikan iming-iming keuntungan lebih besar dibandingkan jenis investasi lain.

Bagaimana cara kerja Skema Ponzi?

Awalnya skema ini menawarkan keuntungan yang menggiurkan. caranya adalah meminta investor mengundang orang lain untuk ikut menjadi anggota. Lalu investor tersebut diberi uang dengan dana dari investor yang baru.

Ketika investor baru meminta jatah keuntunggan nya, dicarikan lagi uang dari investor lainnya. Pola ini terus berkelanjutan sampai para investor menggaet investor baru lainnya. Untuk menjalankan aksinya, penyedia jasa investasi menggunakan kantor, produk investasi bodong, dan fasilitas lainnya untuk semakin meyakinkan investor.
Skema ini akan terputus jika tidak ada lagi investor baru, karena uangnya tidak cukup untuk membayar imbal hasil kepada investor lama.

Mekanismenya, pengelola atau owner perusahaan yang mempraktikkan skema Ponzi ini membujuk investor baru dengan menawarkan keuntungan lebih tinggi dalam waktu singkat. Untuk memberikan kesan kredibel dan bonafide kepada para investor dan calon investornya, owner tak ragu menyiapkan fasilitas-fasilitas ‘bodong’, seperti kantor sewaan, produk investasi fiktif, dan lainnya. Begitu calon investor percaya, maka mereka akan dengan mudah menanamkan modalnya pada investasi bodong yang ditawarkan.

Investasi dengan skema Ponzi tidak pernah memiliki keuntungan. Dana yang diklaim sebagai keuntungan yang dibagikan kepada para anggotanya sebenarnya bukanlah keuntungan murni dari kegiatan usaha, melainkan uang yang disetorkan oleh para anggota baru. Ketika tak ada lagi anggota baru yang bergabung, otomatis tidak ada setoran uang masuk yang bisa dibagikan kepada para anggota senior. Nah, di sinilah ‘malapetaka’ itu dimulai. Para anggota yang bergabung belakangan jelas tidak akan memperoleh keuntungan yang dijanjikan.

Skema Ponzi memiliki ciri-ciri yang membuatnya berbeda dengan investasi yang sehat.

Berikut ciri-ciri Skema Ponzi 

Produk Tidak Jelas
Mendapat Keuntungan Banyak dalam Waktu Singkat
Produk Investasi Umumnya Milik Asing
Tidak diakui Oleh OJK
Pengembalian Macet di Tengah-tengah

Bagaimana Menghindari Investasi Bodong?

Waspadai Iming-Iming Keuntungan Tidak Wajar
Pastikan Struktur Organisasi Jelas
Periksa Alamat & Kepengurusan Usaha
Pastikan Status Hukum
Periksa Kegiatan Usaha

Penulis: Dinda Dwi Febriana

Pos terkait