Sudahkah Kita Terjaga dari Ruang Lingkup Judi ?

Maysir (judi) adalah prinsip dasar dalam berinteraksi yang dibahas dalam fiqih muamalah yang paling dominan dan hampir setiap hari pergerakannya ada di dalam masyarakat. Maysir (judi) mempengaruhi konsep interaksi dan keputusan pribadi, seperti untuk mengikuti undian, kupon, dan spekulasi baik terhadap bisnis dan perdagangan.

Hukum maysir (judi) adalah haram dalam hukum Islam, tetapi hal yang mendekati dan menyebabkan maysir masih banyak dilakukan pada saat ini, terutama dalam bisnis dan perekonomian.

Ada dua istilah populer yang menunjukkan makna maysir, kedua istilah tersebut adalah maysir dan qimar. Setelah menelaah beberapa literatur fikih, maka disimpulkan bahwa maysir dan qimar bermakna sama (sinonim) dengan penjelasan detail sebagai berikut:

⦁ Istilah Maysir

Menurut bahasa, maysir (ميسر) adalah judi pada masa jahiliah. Maysir juga sering diistilahkan dengan juzur (جزر), siham (سهام), dan nard (نرد). Pada masa jahiliah, istilah maysir sering diartika al-qadh liqtisamil juzur (الجزر القتسام القدح). Bahkan praktik judi saat itu menjadikan istri dan anak- anaknya menjadi objek taruhan dan hamba sahaya sebagai imbalan bagi pemenang judi.

Substansi maysir (judi) dalam praktik jahiliah adalah taruhan mukhatarah/murahanah (مراهنة/مخاطرة), mengadu nasib dan istilah lain yang semakna. Maksud substansi maysir (judi) adalah setiap pelaku maysir bertaruh untuk menjadi pemenang atau pihak yang kalah.

⦁ Istilah Qimar

Qimar juga maknanya sama seperti maysir yaitu setiap taruhan dimana menang atau kalah ditentukan oleh sesuatu yang tidak diketahui. Substansi qimar (judi) adalah taruhan mukhatarah/murahanah (مراهنة/مخاطرة), mengadu nasib dan istilah lain yang semakna. Maksud substansi qimar (judi) adalah setiap pelaku qimar bertaruh untuk menjadi pemenang atau pihak yang kalah.

Taruhan (mukhatarah/murahanah) dalam perjudian adalah kebalikan dari usaha terencana dan berbeda pula dengan risiko, karena taruhan (mukhatarah/murahanah) yang terjadi dalam judi berarti seseorang mempertaruhkan harta yang bisa menjadi pemenang atau kalah.

Dengan penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa qimar dan maysir bisa diartikan “setiap permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain akibat permainan tersebut”.

BACA JUGA:   Menutup Aurat Bukan Sekadar Fashion

Setiap permainan atau pertandingan, baik berbentuk game of chance, game of skill, ataupun natural events, harus menghindari terjadinya zero sum game, yakni kondisi yang menempatkan salah satu atau beberapa pemain harus menanggung beban pemain lain.

Maysir bisa mencakup bisnis, permainan, dan pertandingan. Selama terdapat keempat kriteria tersebut di atas, maka bisnis, permainan, dan pertandingan termasuk maysir (judi).

Unsur-Unsur Maysir

Untuk lebih memperjelas substansi maysir, sebuah transaksi atau permainan bisa dikatakan sebagai maysir jika terdapat unsur-unsur berikut:

⦁ Taruhan mukhatarah/murahanah (مراهنة/مخاطرة).

Dalam bahasa lain ‘mengadu nasib’ yang menempatkan pelaku bisa menang dan bisa kalah. Taruhan dan spekulasi menjadi kriteria inti seluruh bentuk maysir.

⦁ Pelaku berniat mencari uang dengan mengadu nasib.

Tidak ada niat dan target lain kecuali mencari uang dengan cara mengadu nasib. Hal ini untuk membedakan dengan permainan yang tidak menjadi sarana mencari uang. Seperti pertandingan futsal, dengan perjanjian, tim yang kalah dalam pertandingan, harus menanggung biaya sewa lapangan.

⦁ Pemenang mengambil hak orang lain yang kalah (Zero sum game).

Seluruh pelaku masih mempertaruhkan hartanya, pelaku judi mempertaruhkan hartanya tanpa imbalan (muqabil). Dalam judi, yang dipertaruhkan adalah uang yang diserahkan, hal ini berbeda dengan transaksi bisnis, karena dalam transaksi bisnis yang dipertaruhkan adalah kerja dan risiko bisnis.

⦁ Harta yang dipertaruhkan dari peserta (pelaku) bukan dari pihak lain seperti sponsorship atau yang lainnya.

Dari penjelasan di atas, kita bisa mengidentifikasi praktik judi, yaitu setiap praktik yang ada empat unsur tersebut, maka itu termasuk judi. Jika tidak terdapat keempat unsur tersebut, maka bukan termasuk judi. Begitu pula kita bisa menegaskan, maysir ini tidak terbatas pada praktik judi, domino, dan semacamnya, tetapi juga termasuk setiap permainan (musabaqah) yang memenuhi empat kriteria maysir (judi) tersebut.

BACA JUGA:   Menutup Aurat Bukan Sekadar Fashion

Ketentuan Hukum, Dalil dan Hikmah Larangan Maysir

Para ulama sepakat bahwa maysir itu diharamkan dalam Islam sesuai dengan dalil-dalil berikut:

Dalil Al-Qur’an :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah [5]: 90)

Dalam ushul fikih, lafadz ‘fajtanabihu’ adalah shigat yang digunakan Al- Qur’an yang bermakna larangan atau haram. Maka maysir itu diharamkan dengan nash Al-Qur’an ini.

Risiko (Risk/خطر) dan Spekulasi dalam Islam

Dalam Islam, risiko bisa dibedakan menjadi dua hal :

1) Risiko yang melekat dalam setiap investasi. Risiko jenis ini harus ada dan melekat dalam setiap akad investasi, sesuai dengan kaidah fikih al-kharraj bi al-dhaman, al-ghurmu bi al-ghunmi.

Dalam investasi, risiko harus berbanding lurus dengan keuntungan, jika ada risiko maka ada hak keuntungan dan sebaliknya.

Risiko dalam bisnis memiliki tiga kriteria:

⦁ Dapat diabaikan (al-gharar al-yasir)
Untuk suatu tolerable risk, kemungkinan dari kegagalan haruslah lebih kecil daripada kemungkinan tingkat keberhasilannya.
⦁ Tidak dapat dihindarkan/inevitable/la yumkinu at-taharruz ‘anhu Mengindikasi bahwa tingkat penambahan nilai dari suatu aktivitas transaksi tidak dapat diwujudkan tanpa adanya kesiapan untuk menanggung risiko.
⦁ Tidak diinginkan dengan sengaja/unintentional/ghairu maqshud. Mengisyaratkan bahwa tujuan dari suatu transaksi ekonomi yang normal adalah untuk menciptakan nilai tambah, bukan untuk menanggung risiko. Sehingga risiko bukan merupakan sesuatu yang menjadi keinginan dari suatu transaksi keuangan dan investasi.

2) Risiko yang tidak dibolehkan adalah spekulasi dan taruhan seperti maysir (judi).
Spekulasi adalah istilah yang biasa dipakai di pasar modal. Spekulasi adalah perilaku negatif dalam bahasa Arab dikenal dengan mudharabah dan muqamarah. Spekulasi bermakna membeli ketika harga jual mahal dengan cara membeli sebelum dibayar dan ia jual sebelum barang dimiliki untuk mendapatkan perbedaan harga beli dan jual.
Dari definisi ini, jelas karakteristik spekulasi yaitu:
⦁ Menjual barang yang belum dimiliki.
⦁ Melakukan transaksi formalitas.
⦁ Transaksi yang pertama yang dilakukan oleh spekulan adalah transaksi formalitas itu belum sempurna karena barang belum dimiliki.
⦁ Membeli untuk langsung dijual ketika itu.
⦁ Spekulan membeli barang bukan untuk dimiliki, tetapi untuk langsung dijual.
⦁ Menciptakan permintaan palsu agar harga barang itu naik atau turun.
⦁ Tanpa pertimbangan, data dan kajian (spekulatif).
⦁ Ada unsur taruhan atau bertaruh nasib.
Di antara contoh-contoh spekulasi: short selling, (al-Bai’ ‘ala al-Maksyuf), At-ta’amul bi al-ikhtiyarat, asy-syart al-Jaza’i.

BACA JUGA:   Menutup Aurat Bukan Sekadar Fashion

Alternatif yang Halal
Untuk menghindari terjadinya maysir dalam sebuah permainan, misalnya pembelian tropy atau bonus untuk para juara jangan berasal dari dana partisipasi para pemain, melainkan dari para sponsorship yang tidak ikut bertanding. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas kemenangan pihak lain. Pemberian tropy atau bonus dengan cara tersebut, dalam istilah fiqih dikenal dengan istilah adil dan halal hukumnya.
Substansi maysir (judi) yaitu setiap permainan yang menempatkan salah satu pihak harus menanggung beban pihak lain akibat permainan tersebut. Sebuah transaksi atau permainan bisa dikatakan sebagai maysir jika terdapat unsur-unsur berikut: taruhan, pelaku maysir mempertaruhkan hartanya, pemenang mengambil hak orang lain yang kalah, dan pelaku berniat mencari uang dengan adu nasib.
Tujuan atau maqashid larangan maysir yaitu untuk menghindarkan kemalasan kerja karena impian dan spekulasi, serta menghindarkan permusuhan antara sesama. Untuk menghindari terjadinya maysir dalam sebuah permainan, salah satu solusinya adalah dengan bentuk pembelian trophy atau bonus untuk para juara dengan syarat dana tidak berasal dari dana partisipasi para pemain, melainkan dari para sponsorship yang tidak ikut bertanding.

Penulis: Qonita Jundana

Pos terkait