Rahasia Cinta Haqiqi

DEPOK POS – Ada sebuah pertanyaan, mengapa alam semesta diciptakan oleh Allah? Bukankan Dia adalah Al- Ghaniy, Sang Mahakaya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya sedikit pun? Lalu, buat apa mencintai kalau tidak perlu? Bukankah hal itu merupakan perbuatan sia-sia? Padahal Allah Mahasuci dari perbuatan yang sia-sia. Semua perbuatannya bijak penuh hikmah, karena Dialah Al-Hakim (Sang Mahabijaksana). Jika demikian, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas?
Rahasia jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas adalah mahabbah (cinta). Mengapa cinta? Karena cintalah, Allah menciptakan makhluk-Nya. Karena cintalah, Allah menciptakan alam semesta beserta isinya. Dialah Al-Wadud, sang Maha Mencintai. Kalau demikian, berarti Allah bukan Al-Ghaniy, karena membutuhkan cinta? Cinta bukanlah kebutuhan Allah, tetapi merupakan salah satu sifat-sifat kemualiaan yang dimiliki Allah, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain.
Ibnu Al-Qayyim berkata dalam sebuah puisinya:
“Dan karena cintalah diciptakan langit dan bumi, karena cinta pula alam semesta bergerak, dan karena cinta gerak-gerakan tersebut sampai kepada tujuannya”
Maka sudah sepantasnya kita mencintai Zat yang telah menciptakan kita, dan memberi kita fasilitas hidup dan kenikmatan yang tiada batas. Rasa cinta kepada Allah bagaikan sebuah pohon yang akarnya menghunjam kokoh ke dalam tanah, pohonnya tinggi dan menghasilkan buah yang bermanfaat. Demikianlah perumpamaan seorang hamba muslim yang mencintai Rabb-nya. Keshalehan lahirnya menunjukkan kesalehan batinnya. Kebaikan pasti menelurkan kebaikan pula.
Bagaimana cara mewujudkan perasaan cinta itu?
Allah menyatakan dalah firman-Nya yang artinya:
“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihani dan emngampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 31-32)
Dalam ayat lain, Allah menyatakan yang artinya:
 “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (At-Taubah: 24)
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan delapan hal yang paling dicintai oleh manusia, yaitu orang tua, anak, saudara, istri, karib kerabat, harta benda, bisnis, dan tempat tinggal.
Cinta terhadap hal-hal tersebut tidak tercela, selama diposisikan setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena, Allah yang telah menganugerahkan perasaan cinta dalam diri kita dan Dia juga memerintahkan kita untuk mencintai mereka.
Mencintai sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk dicintai, sama dengan menjalankan perintah-Nya. Sedang menjalankan perintah-Nya adalah bukti cinta kepada Allah. Namun, cinta kepada hal-hal tersebut hendaknya disalurkan sesuai dengan perintah-Nya juga.
Berikut adalah tanda cinta ilahiyah:
1.    Senang kalau bertemu kekasihnya. Maka jangan ngaku jatuh cinta kalau kesel dan bosen kalau ketemu oarang yang dicintai.
2.    Mengutamakan apa yang dicintai Allah dari apa yang dicintainya.
3.    Selalu ingat kepada Allah, memperbanyak dzikir kepada Allah. Ada sebuah perkataan “Barang siapa mencintai sesuatu maka ia akan banyak menyebutnya”, jadi kalau cinta gak selalu ingat itu bukan lah cinta namanya.
4.    Suka kalau berduaan. Yaitu dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an.
5.    Tidak menyesal kehilangan apapun, dan berkorban apapun asalkan yang dicintai selalu ada, yaitu Allah selalu ada dihati kita.
6.    Menikmati ketaatan, tidak merasa berat atau keberatan. Apabila dicintai ingin apapun, memerintahkan apapun, akan dijalani, bahkah ditambah-tambahkan. Itulah yang biasa terjadi kepada kita dikalangan manusia.
7.    Bersikap lembut dan sayang kepada semua makhluknya Allah.
8.    Ada takut dan ada berharap.
9.    Cenderung tidak memamerkan cinta sebagai wujud pengagungan kemulian, cirinya memang cinta yang sejati itu hanya untukku bukan yang lain.
10. Senang dan ridho pada yang dicintai.
Dari tanda-tanda diatas kita bisa melihat pada diri kita, adakah semua sifat tersebut dalam diri kita walau hanya sebagian saja, atau kah tidak ada sama sekali, na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah menumbuhkan rasa cinta didalam hati kita, sehingga kita dapat mencintai Allah dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya, mencintai Rasul dengan meneladaninya, mencintai orang tua dengan berbakti, menghormati, dan menyayanginya, mencintai istri dengan menyanyainya dan menunaikan haknya, serta saling mencintai sesama kamu muslim dalam ikatan ukhuwah islamiyah. Aamiin.
Penulis: Nur Aisah, Mahasiswi STEI SEBI

Pos terkait