Peran Industri Keuangan Syariah dalam Perwujudan Sustainable Finance

DEPOK POS – Berdasarkan laporan Islamic Finance Development Indicators (IFDI) yang dikeluarkan oleh Refinitiv, The Islamic Corporation for the Development (ICD) dan The Islamic Development Bank (IsDB) menetapkan Indonesia sebagai peringkat kedua dunia dalam hal pengembangan industri keuangan syariah.

Sejalan dengan itu, industri jasa keuangan global mengalami pertumbuhan yang sangat pesat yakni meningkat14% dengan total aset US$ 2,88 triliun pada akhir 2019, dan diperkirakan mencapai US$ 3,69 triliun pada 2024 mendatang.

Industri keuangan syariah seperti yang diketahui harus sejalan dengan prinsip-prinsip Islam yang tujuannya adalah mencapai falah (kesejahteraan dunia dan akhirat). Adapun perwujudannya dapat diimplementasikan dalam berbagai bentuk tindakan.

Berkenaan dengan hal tersebut, industri keuangan syariah, berpotensi besar dalam mewujudkan sustainable finance (keuangan berkelanjutan). Terlebih dengan adanya road map sustainable finance tahap II 2021-2025 yang dirancang oleh OJK.

Di mana OJK memfokuskan pada penciptaan ekosistem keuangan berkelanjutan secara komprehensif, dengan melibatkan seluruh pihak terkait dan mendorong pengembangan kerja sama dengan pihak lain, tak terkecuali industri keuangan syariah.

Keuangan berkelanjutan bagi industri keuangan syariah khususnya di Indonesia dapat di definisikan sebagai dukungan menyeluruh untuk pertumbuhan berkelanjutan yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup atau tata kelola.

Hal tersebut sejalan dengan pernyataan harapan Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK Deden Firman Hendarsyah.

Ia mengatakan seharusnya industri keuangan syariah menjadi motor utama dalam menggerakkan keuangan berkelanjutan yang tertuang dalam peraturan OJK Nomor 51/POJK.03/2017 tentang penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten dan Perusahaan Publik.

Lanjutnya, keuangan syariah memiliki instrumen untuk mengentaskan kemiskinan, memperkecil jarak antara tingkat pendapatan masyarakat melalui filantropi, zakat, wakaf, infak dan shadaqah. Di samping itu, terdapat green sukuk yang berfungsi untuk pembiayaan pembangunan yang berwawasan lingkungan di mana sejalan dengan Keuangan Berkelanjutan.

Memperkuat pernyataan di atas, Direktur Eksekutif KNEKS Ventje Rahardjo mengungkapkan secara spesifik mengenai ekonomi dan keuangan syariah melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Setidaknya yang sejalan dengan peran industri keuangan syariah terhadap perwujudan Keuangan Berkelanjutan adalah, pertama ada impact investing dengan lebih banyak penerbitan green sukuk. Kedua, pendalaman pasar kepada investor provate equity internasional guna mendukung renewable energy. Ketiga, pengembangan lembaga keuangan mikro syariah dan platform Kolaborasi Layanan Keuangan Syariah (KoLaKS) untuk peningkatan inklusi.

Selain itu, industri keuangan syariah dapat melakukan inovasi-inovasi lain seperti memanfaatkan digitalisasi untuk memaksimalkan akses masyarakat kepada perbankan syariah dalam mengenalkan produk-produk yang berprinsip pada Keuangan Berkelanjutan.

Sehingga diharapkan dapat mempermudah nasabah dalam berdonasi dan aktif berkontribusi langsung. Industri keuangan syariah juga dapat menjalin kolaborasi bisnis hijau yang dilakukan dengan entitas bank lain yang memiliki daya tarik khususnya bagi para generasi milenial.

Peran-peran industri keuangan syariah di atas, diperkuat juga dengan pernyataan Jamel E Zarouk dari Islamic Development Bank (IsDB, tahun 2015) yakni, ada tiga proporsi terkait peran industri keuangan syariah dalam mendukung keuangan berkelanjutan.

Pertama, keuangan syariah memiliki prinsip keadilan sebagai preferensi dan alokasi terhadap risiko. Kedua, keuangan syariah memiliki instrumen yang memadai dalam mendukung mobilitas sumber daya domestik. Ketiga, keuangan syariah memiliki perangkat kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumber daya murah.

Dibandingkan dengan fitur bunga pada sistem keuangan konvensional, fitur bagi hasil pada keuangan syariah memberikan peluang yang lebih besar karena menerapkan risk-sharing arrangement.

Penulis: Arif

Pos terkait