Non Biner, Kesesatan Tanpa Arah

Oleh: Sri Rahayu, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Pengusiran seorang maba di Universiras Hasanuddin Makasar oleh dosennya dari podium menjadi viral di media sosial. Dengan keberaniannya menyatakan bahwa ia tidak memilih gender tertentu yaitu laki-laki ataupun perempuan (non biner) ketika ditanya perihal jenis kelamin.

Obrolan berawal dari pernyataan dosen bahwa kuliah hukum harus memiliki jenis kelamin yang jelas, seorang mahasiswa yang jelas laki-laki ini menyatakan bahwa ia mendefinisikan dirinya tidak sebagai laki-laki ataupun perempuan.

Kejadian ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Banyak dari masyarakat, psikolog dan juga selebritis ikut berkomentar tentang kejadian ini. Salah satu pendapat yang pro terhadap masalah ini adalah pernyataan seorang psikolog universitas pancasila, Putri Langka yang menyatakan keberanian menyatakan diri sebagai non biner di depan publik adalah hal wajar bagi seseorang yang beralih dari remaja menuju dewasa, karena dalam fase ini dia sedang mencari jati dirinya.

Pendapat di atas seolah membenarkan perilaku menyimpang tersebut, padahal itu adalah sebuah penyakit yang seharusnya diobati bukan malah diberikan tempat karena bisa menularkan kepada yang lain.

Non biner atau memilih untuk tidak memiliki gender adalah salah satu produk dari kapitalis. Apalagi membuat gender baru atau memutuskan untuk menjadi pria dan wanita atau non biner sekalipun, merupakan hak asasi manusia dan tidak boleh dibatasi dengan aturan. Kaum liberal berpendapat manusia bebas saja memilih jalan hidupnya dan terjebak dengan paham liberalis yang mendewakan kebebasan dan akhirnya memiliki kehidupan yang rusak dan tidak beraturan. Oleh karenanya, non biner adalah kesesatan tanpa arah.

Lantas bagaimana Islam memandang hal ini? Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an surah an-Nisa ayat 1 yang artinya, “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah mem perkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Jelas yang termaktub dalam Quran merupakan pedoman hidup umat manusia. Sejatinya Allah menciptakan dua jenis manusia yaitu laki-laki dan perempuan. Orang yang menyatakan dirinya sebagai perempuan padahal jelas ia adalah seorang laki-laki ataupun dirinya laki-laki padahal jelas dia adalah seorang perempuan (non biner) itu muncul dari hawa nafsunya bukan lahir dari fitrah penciptaan Sang Khaliq.

Manusia yang berpaham liberal akan melakukan apa pun meskipun itu bertentangan dengan syariah. Ini adalah salah satu agenda Barat membuat Muslim jauh dari Islam. Membuat mereka kehilangan jati dirinya bahkan lambat laun membenci syariat atau undang-undang yang dibawa oleh agamanya sendiri.

Kehilangan jati diri jelas membahayakan, karena manusia akan tersesat dalam kegelapan dan berjalan tanpa arah. Menjalani kehidupan tanpa mengenal jati diri akan kehilangan arah dan tidak tahu tugasnya di dunia untuk dan sebagai apa.

Oleh karenanya, orang-orang dengan paham seperti ini harus diarahkan, diberi pemahaman tentang Islam, ajak mereka untuk mengenal diri mereka sehingga akan mudah mengenal Rabb-nya. Mengaitkan segala sesuatu sesuai dengan aturan dan undang-undang Allah. Memilih sesuatu atau mempertimbangkan sesuatu pun sesuai dengan syariat termasuk salam urusan non biner ini.

Memahami jati diri akan tercipta dengan ilmu, belajar Islam secara menyeluruh. Jadikan Islam satu-satunya sistem yang bisa membuat kehidupan kita lebih baik, perkuat tsaqafah Islam kita agar tidak mudah goyah dengan godaan ideologi asing yang terlihat mengagumkan tapi justru membahayakan. []

Pos terkait