Sekolah Tinggi, Lewat Tidak Permisi!

Oleh: Yulia Mupidah, Mahasiswi STEI SEBI

Suatu hari ketika saya sedang berjalan-jalan disekitar pemukiman warga di daerah Bojongsari, Sawangan Kota Depok saya dikejutkan dengan tulisan di dinding semen dengan menggunakan cat semprot. Adapun tulisan tersebut adalah “Sekolah tinggi, lewat tidak permisi”. Saya cukup terhentak dengan pernyataan tertulis tersebut, karena saya merasa bahwa saya adalah bagian dari anak muda yang saat ini sedang mengenyam Pendidikan di sekolah tinggi.

Lalu saya Kembali melanjutkan perjalanan mengelilingi pemukiman yang cukup padat tersebut, lalu saya mendapati banyak warga yang memang sering nongkrong di depan rumah atau di sekitar area fasilitas umum penduduk, seperti lapangan, musholla dsb. Dengan kondisi masih merenungi kata-kata yang saya temukan tadi, akhirnya saya dengan tiba-tiba sering mengucapkan permisi kepada siapapun yang saya lewati.

Sering saya jumpai juga baik di dalam kehidupan nyata maupun dalam dunia media sosial, ada kata-kata yang berbunyi bahwa adab lebih utama daripada ilmu. Mengapa? Karena orang beradab pasti berilmu dan orang berilmu belum tentu beradab. Banyak kita jumpai seseorang dengan background Pendidikan yang tinggi, tersandung kasus kekerasan seksual, penistaan agama dsb. Menurut saya, itu terjadi karena saat ini kita sedang dituntut untuk focus terhadap pencapaian pribadi, tanpa mementingkan sikap, attitude ataupun akhlak kita kepada orang lain.

BACA JUGA:   Aturan Islam Berantas HIV/AIDS Sampai Tuntas

Ketika saya menelisik lebih jauh terkait fenomena adab dan akhlak saat ini, banyak saya temui bahwa sekarang ini banyak dari kita yang cukup berperilaku baik terhadap orang-orang terdekat kita, kita cukup peduli terhadap orang yang memang kita kenal, dan banyak dari kita yang hanya akan memunculkan sikap baik terhadap orang yang memang bersikap baik juga terhadap kita.

Menurut saya, kemunculan sikap seperti itu bukan tanpa alasan. Alasan yang mungkin terjadi adalah karena terlalu banyaknya informasi yang muncul di media social baik itu berupa hal-hal viral, kata-kata yang sering mempengaruhi psikologi seseorang, yang menjadikan mereka berprinsip bahwa hidupku bagaimana aku yang mengatur selama hidupku tidak merugikan orang lain.

Banyak juga pihak yang sering membandingkan antara tolak ukur Pendidikan seseorang dengan adab dan sikap yang dimiliki. Banyak beranggapan bahwa sekolah tinggi belum tentu memiliki adab yang bagus, dan seseorang yang tidak mendapatkan kesempatan untuk dapat merasakan Pendidikan tinggi pun belum tentu memiliki adab yang buruk. Saya sedikit setuju dengan pernyataan tersebut, dimana kita tetap akan mementingkan akhlak dan adab dalam situasi apapun.

BACA JUGA:   Aturan Islam Berantas HIV/AIDS Sampai Tuntas

Namun, ada juga hal kontra yang ada dalam fikiran saya, yaitu terkadang banyak oknum yang langsung men judge seseorang dengan mengaitkan pendidikannya, sehingga mempengaruhi orang lain terhadap persepsi sekolah tinggi itu sendiri. Ada baiknya, ketika kita mengomentari seseorang itu cukup kepada sikap atau adab kurang baik yang dia tunjukkan tanpa perlu mengaitkannya terhadap status Pendidikan, keluarga, teman, lingkungan, dsb.

Karena kita tahu, adab dan akhlak itu dapat kita latih sebaik mungkin. Namun terkadang, jika sebuah persepsi buruk sudah menyebar dikalangan masayarakat, maka akan cukup sulit untuk mencairkannya atau bahkan menggantinya dengan persepsi yang lebih baik. Mengenai tulisan yang saya temukan di tembok itu, mungkin ada benarnya juga.

BACA JUGA:   Aturan Islam Berantas HIV/AIDS Sampai Tuntas

Mungkin masih banyak mahasiswa maupun mahasiswi yang terkadang ketika melewati kerumunan masyarakat atau warga sekitar kampusnya, tidak mengucapkan kata permisi. Kondisi seperti itu biasanya karena mahasiswa tersebut berfikir bahwa dia bukan bagian dari warga daerah tersebut, atau berfikir bahwa tidak terlalu penting untuk selalu menyapa orang yang tidak kita kenal.

Akan tetapi, ternyata sikap seperti itu pun tidak dapat dibenarkan juga. Karena nyata nya walaupun kita sebagai mahasiswa tidak selalu ingin dilihat dari segi status Pendidikan, gelar atau status tersebut akan terus melekat dalam diri kita di pandangan masyakarat umum. Sehingga segala tindak tanduk maupun sikap yang kita tunjukkan akan selalu dikaitkan dengan status Pendidikan yang sedang kita enyam.

Maka dari itu, kita perlu berbenah diri dan memperbaiki serta lebih berbaur dengan masyarakat sekitar, karena hadirnya kita ditengah-tengah mereka akan disambut dengan baik jika kita pun memiliki adab dan sikap yang baik. Mari perbaiki diri mulai sekarang untuk perbaikan persepsi masyarakat di masa yang akan dating. []

Pos terkait