Merdeka Adalah Tentang Kebebasan

77 tahun sudah Indonesia Merdeka
Jika mendengar kata Merdeka sepertinya terlalu dalam untuk dimaknai, terlalu sedih untuk diratapi, terlalu luas untuk ditelusuri.

Namun sampai saat ini masyarakat belum sadar betapa penting kemerdekaan itu. Merdeka bukan sekedar kata untuk membangkitkan semangat, bukan hanya filosofi negara bangkit, bukan hanya simbol bahwa kita menang.

Bukankah merdeka mengartikan tentang kebebasan? kebebasan bertindak namun tetap berada dalam jalan syari’at, bukan bertindak dalam undang-undang karya egoisme. Merdeka bukanlah mengartikan tentang terlepasnya dari jeratan diskriminasi? terlepasnya diri dari kasta kehidupan, mensifati manusia dengan akal bukan hawa nafsu. Lalu mengapa sampai saat ini masih banyak yang tertindas? mengaku menjunjung tinggi nilai pancasila ke-5, namun selalu menggunakan wewenang untuk melakukan kasta setiap insan. Anehnya lagi, sebagian yang tertindas pun merasa senang hanya karena iming-iming sebungkus jajanan.

Merdeka itu membuat excited jika melihat bendera berkibar tapi beban hutang semakin bertambah. Dahulu ada sebuah titik yang membuat negara terlihat gagah namun tidak sehat. Negara tersebut selalu membuat covernya indah agar terlihat jaya oleh negara lain, tidak pernah rakyatnya dilanda kelaparan. Apakah ini akan terus-menerus berjalan? belum lagi barat selalu melakukan Ghazwul Fikri (perang pemikiran manusia dengan cara lembut dan menghancurkan otak setiap manusia).

Merdeka adalah tentang kebebasan. Bebas dari segala permasalahan-permasalahan rakyat. Bebas hutang, bebas korupsi, bebas penindasan dan segala bentuk kebebasan dalam permasalahan. Namun apakah kita semua peduli dengan itu? Apakah hanya para petinggi dan pesohor yang berhak mengatasinya? Tidak. Kita semua rakyat, berhak mengusir dan memperbaiki semua permasalahan yang ada dalam negara. semua beraksi dan semua berperan. Jadikanlah negara kita kokoh berdiri sendiri, kuatkan dari kita, dengan bekerja sama dalam satu pemikiran, maka itulah arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Penulis: Hilwa Nur Faizah

Pos terkait