Memaknai Arti Toleransi yang Sebenarnya

Oleh: Siti Aisyah,S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis Depok

Ikut sertanya kaum Muslim dalam acara perarakan Patung Bunda Maria Asumpta Nusantara beberapa waktu lalu bukanlah toleransi antar umat beragama melainkan ikut serta atau partisipasi dalam kebatilan yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah SWT. Jadi pernyataan ketua pemudi ormas tertentu yang mengatakan, “Ini luar biasa untuk mempererat toleransi antar umat beragama di Labuan Bajo ini,” merupakan pernyataan yang salah kaprah dan menyalahi aturan Sang Pencipta manusia.

Ia pun sangat senang telah berpartisipasi sehingga menghadirkan sebagian pemudi Muslim masuk ke dalam barisan ribuan umat Katolik sembari menyanyi diiringi musik dan tampak khusyuk mengikuti perarakan tersebut. Bahkan mengapresiasi Keuskupan Ruteng yang telah menyelenggarakan Festival Golo Koe Labuan Bajo. Padahal, ketika seorang Muslim berpartisipasi bahkan mengapresiasi kegiatan agama lain patut dipertanyakan keimanannya kepada Allah SWT. Pasalnya, dalam Islam itu sudah jelas keharamannya.

“Barang siapa yang tinggal di negeri kaum musyrikin dan mengkuti acara Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu meniru mereka hingga mati, ia akan merugi di hari kiamat nanti.”

Sungguh, telah jelas ditegaskan dalam dalil-dalil syara, di antaranya dalam hadits yang menyatakan jika kita mengikuti perayaan mereka/non muslim berarti meyerupai dan termasuk golongan mereka. “Barang siapa menyerupai satu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (Shahih Abu Dawud II: 761).

Begitu juga, Abdullah bin Amru bin Ash ra pernah menyatakan: “Barang siapa yang tinggal di negeri kaum musyrikin dan mengkuti acara Nairuz dan festival keagamaan mereka, lalu meniru mereka hingga mati, ia akan merugi di hari kiamat nanti.”

Dari dalil dan pernyataan Abdullah bin Amru bin Ash ra di atas sudah jelas, bagi kaum Muslim mengikuti perarakan patung Bunda Maria Asumpta Nusantara hukumnya haram. Jika kaum Muslim mengikutinya dengan dalih toleransi, itu salah kaprah karena bukan bagian dari toleransi antar umat beragama melainkan ikut berpartisipasi dalam kebatilan yang jelas-jelas haram.

Karena toleransi dalam Islam itu artinya tidak memaksa pemeluk agama lain masuk Islam dan tidak mengganggu ibadahnya mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 256 yang artinya, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”

Adapun partisipasi sama dengan ikut serta. Ikut serta artinya menyukai dan mencintai dan menjadikan mereka (kaum kapir) itu sebagai teman. Padahal, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nashrani sebagai wali kalian. Mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim” (QS al-Maidah: 51).

Oleh karenanya kaum Muslim harus paham mengikuti acara agama lain bukan toleransi tapi ikut serta/partisipasi yang jelas-jelas haram dalam ajaran Islam. Janganlah mencampuradukkan antara yang haq dan bathil. Karena ajaran Islam itu haq, sedangkan ajaran selain ajaran Islam adalah bathil. Firman Allah SWT, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui” (QS al-Baqarah: 42).

Maka, ikut sertanya sebagian kaum Muslim dalam perayaan agama lain merupakan perbuatan yang bathil, haram dan menyalahi ajaran Islam. Oleh karenanya, perarakan patung Bunda Maria bukanlah toleransi yang harus diapresiasi, tapi harus dihindari karena bentuk partisipasi yang akan merugi di akhirat nanti.[]

Pos terkait