Manajemen Risiko, Risiko Operasional

DEPOK POS – Di setiap Perusahaan pasti terdapat risiko-risiko yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan , tak terkecuali di Perbankan Syariah. Sebagai alat penghimpun dana, lembaga keuangan ini mampu melancarkan gerak pembangunan dan penyaluran dananya keberbagai proyek penting diberbagai sektor usaha. Demikian pula lembaga keuangan ini dapat menyediakan dana bagi pengusaha atau kalangan masyarakat yang membutuhkan dana bagi kelangsungkan usahanya.

Dalam menjalankan usaha, perbankan syariah tentunya memiliki pedoman yang sesuai dengan syariah dan pengawasan yang harus dilakukan untuk menghindari kerugian yang akan di tumbulkan dari permasalahan tersebut. Oleh sebab itu dibentuklah manajemen risiko. Bank di dalam menjalankan fungsinya dalam menawarkan jasa-jasa keuangan, harus mengambil maupun menerima dan mengelola berbagai jenis-jenis risiko keuangan secara efektif, agar dampak negatifnya tidak terjadi. Dalam berbagai pada kegiatan yang telah dilakukan oleh lembaga keuangan bank syariah nantinya pasti akan berhubungan dengan risiko operasional.

Manajemen risiko operasional merupakan risiko kerugian yang disebabkan oleh proses internal yang kurang memadai, kegagalan proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian kejadian eksternal yang memengaruhi operasional bank. Risiko operasional tidak dapat dicegah namun dapat dikelola melalui manajemen dan struktur perusahaan yang baik. Dan juga dicegah melalui manajemen risiko yang baik.

Dalam risiko operasional terdapat beberapa klasifikasi / kategori risiko operasional diantaranya yaitu sebagai berikut:

Risiko proses internal yang disebabkan kegagalan dari proses maupun prosedur.
Risiko Manusia.
Risiko sistem yang disebabkan adanya penggunaan teknologi serta sistem.
Risiko eksternal.

Dua hal utama pada risiko operasional yang disebabkan oleh faktor sumber daya manusia bisa terjadi karena , 1. Faktor kesalahan dari manusia itu sendiri (human error) dan juga 2. Disebabkan karena kesengajaan atau pelanggaran dari manusia itu sendiri (human fraud).

Faktor manusia terberat yaitu ketika risiko yang ditimbulkan oleh pelanggaran manusia itu sendiri yang memang disengaja. Pada risiko ini bukan disebabkan kelalaian dari manusia melainkan memang kesengajaan dalam niat melakukan tindak pelanggaran . kasus pelanggaran ini bisa terjadi kedalam bentuk penipuan, manipulasi laporan keuangan, penggelapan dana serta masih banyak lainnya. Hal ini bisa timbul karena pengawasan internal yang melemah.

Risiko operasional juga dapat dikelompokkan berdasarkan frekuensi dan dampak terjadinya. 1. Risiko yang frekuensinya sering namun dampak terjadinya kecil, seperti kesalahan dalam transaksi, kurang lengkapnya data pada penarikan/setoran/transfer, yang dapat dicegah melalui pemeriksaan berlapis. 2. Risiko yang frekuensinya rendah namun bisa menimbulkan dampak yang besar, seperti bencana alam, bisa dikelola dengan membagi risiko tersebut dengan perusahaan takaful.

Ada 3 metode pengukuran yang dapat dilakukan bank syariah :

Metode BIA ( Basic Indicator Approachment ) , Bank harus menyiapkan 15% dari rata-ratapendapatan brutonya selama tiga tahun terakhir untuk persiapan sekiranya risiko operasional benar-benar terjadi.
Metode AMA (advanced measurement approach ), Bank diharuskan menghitung risiko operasionalnya berdasarkan data kerugian internal akibat risiko tersebut minimal selama tiga tahun terakhir. perhitungannya pun harus memperhatikan seluruh aktivitas yang dilakukan bank. semua faktor tersebut diperhitungkan untuk menghitung kebutuhan modal minimum yang dipercayakan regulator atas risiko operasional bank yang bersangkutan.
Metode SA ( standard Approachment ), metode ini sudah memasukkan keragaman akti1itas bank. modal operasional dihitung dengan rata-rata pendapatan bruto bank dari delapan aktivitasi utama bank selama tiga tahun terakhir dikalikan dengan bobot yang telah ditentukan.
IFSB menetapkan bahwa bank islam dapatmenghitung modal berdasarkan risiko operasional dengan menggunakan metode BIA atau SA sebagaimana ditetapkan dalam Basel II. Namun, kedua metode ini perlu disesuaikan sebelum digunakan oleh bank islam. akan lebih baik lagi bank islam untuk menggunakan metode AMA dengan mendesain sendiri metode dan alat pengukuran risiko yang dihadapinya.

Semua alat dan metode pengukuran, manajemen dan mitigasi risiko operasional perlu dirangkai menjadi sebuah sistem manajmen risiko operasional yang andal. Untuk itu, bank islam perlu memiliki kerangka kerja khusus terkait manajemen risiko operasional.

Oleh : Muhammad Qassam M

STEI SEBI

Pos terkait